Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) membantah anggapan bahwa Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menggerus anggaran pendidikan.
Bantahan tersebut muncul di tengah sorotan publik terhadap prioritas belanja negara dan konsistensi pemerintah menjaga kualitas layanan pendidikan dasar dan menengah.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, menegaskan bahwa MBG tidak mengurangi alokasi untuk program-program inti pendidikan. Pernyataan itu ia sampaikan dalam Rapat Koordinasi Penyelenggaraan Program MBG di Jawa Timur.
Kalau ada anggapan bahwa MBG mengurangi anggaran pendidikan, kami sampaikan dengan tegas bahwa itu tidak benar. Program Presiden terkait pendidikan tetap terlaksana dengan sebaik-baiknya,”
kata Abdul Mu’ti, dikutip Minggu, 22 Februari 2026.
Abdul Mu’ti memaparkan, pada 2025 pemerintah mengalokasikan Rp16,9 triliun untuk merevitalisasi 16.167 satuan pendidikan dengan tingkat realisasi pembangunan 93 persen.
Tahun 2025 realisasi program revitalisasi sekolah mencapai 93 persen. Ini bukti bahwa komitmen negara terhadap perbaikan infrastruktur pendidikan tetap kuat,”
ujar Mendikdasmen.
Namun untuk 2026, anggaran revitalisasi yang tercantum dalam APBN disebut lebih dari Rp14 triliun untuk 11.474 satuan pendidikan, yang lebih rendah dari tahun sebelumnya, baik dari sisi anggaran maupun jumlah sekolah.
Di sisi lain, Abdul Mu’ti menyebut Presiden Prabowo Subianto berencana menambah anggaran untuk 60 ribu satuan pendidikan.
Sehingga total kalau sudah masuk ke dalam APBN, kami usulkan tahun ini kita akan ada revitalisasi untuk 71 ribu sekian satuan pendidikan,”
bebernya.
Rencana penambahan hingga puluhan ribu satuan pendidikan itu menimbulkan pertanyaan soal kesiapan fiskal dan akurasi perencanaan.
Tanpa rincian skema pembiayaan tambahan, target ambisius tersebut berpotensi menjadi janji yang sulit diverifikasi dalam waktu dekat.
Digitalisasi, PIP, dan Tambahan untuk TK
Selain infrastruktur, Kemendikdasmen menegaskan program lain tidak terdampak MBG.
Program Digitalisasi Pembelajaran tetap berjalan, bantuan pendidikan bagi peserta didik tidak dikurangi, dan pelatihan guru terus kami tingkatkan. Semua ini berjalan beriringan,”
tutur Abdul Mu’ti.
Ia juga memastikan anggaran Program Indonesia Pintar (PIP) untuk siswa SD, SMP, SMA, hingga SLB tidak dipangkas. Bahkan, pada 2026 akan ada tambahan PIP untuk murid TK.
Untuk 2026 ini akan ada (tambahan) dana PIP untuk murid TK sebanyak Rp450 ribu per tahun. Tahun ini akan kita alokasikan untuk 888 ribu murid TK di seluruh Indonesia,”
ungkapnya.
Berdasarkan data per 18 Februari 2026, pemerintah mengklaim MBG telah menjangkau 280.023 satuan pendidikan dengan 43,17 juta peserta didik penerima manfaat.
Kalau kita lihat sekarang, satuan pendidikan yang menerima manfaat MBG sudah mencapai ratusan ribu, dan murid penerima manfaatnya lebih dari 43 juta. Ini menunjukkan bahwa MBG memiliki pengaruh yang sangat positif dan nyata,”
beber Abdul Mu’ti.
Ia menekankan MBG bukan sekadar program pemenuhan gizi, melainkan bagian dari agenda pembentukan karakter melalui Program Tujuh Kebiasaan Indonesia Hebat.
Kebijakan MBG merupakan bagian tak terpisahkan dari program Tujuh Kebiasaan Indonesia Hebat. Makan bergizi bukan hanya soal nutrisi, tetapi bagian dari pembentukan karakter,”
tegasnya.
Lebih jauh, Kemendikdasmen juga menyebut telah membangun dan merehabilitasi 14.591 toilet di 11.490 satuan pendidikan serta 6.686 ruang UKS sepanjang 2025.
Toilet, ruang UKS, dan sarana pendukung lainnya adalah bagian dari upaya kami membangun kebiasaan hidup bersih dan sehat. Ini semua menjadi fondasi penting bagi keberhasilan program MBG,”
pungkas Abdul Mu’ti.

