Dengan menggunakan situs ini, kamu menyetujui Kebijakan Privasi and Ketentuan Penggunaan OWRITE.
Accept
Jumat, 24 Apr 2026
Linkbio
OWRITE Logo 2x OWRITE Dark Background Logo 2x
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum
  • Ekbis
  • WARGA SPILLNew
  • Sefruit
  • Lainnya
    • Hype
    • Internasional
    • Megapolitan
    • Daerah
Sign In
  •   ❍
  • Indeks Berita
  • Akun saya
  • Kirim Tulisan
  • KPK
  • Headline
  • Korupsi
  • Purbaya
  • DPR
  • Spill
  • iran
  • BMKG
  • Banjir
  • MBG
OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan DuniaOWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia
Font ResizerAa
  • Indeks Berita
  • Baca ulang
  • Koleksi
  • Eksplor
  • Politik
  • Nasional
  • Internasional
  • Hype
  • Ekonomi Bisnis
  • Megapolitan
  • Olahraga
  • Daerah
Search
  • Warga SpillNew
  • Politik
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi Bisnis
  • Hype
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Olahraga
  • Kelola Tulisan
  • Kirim Tulisan
  • Akun Saya
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Redaksi
  • Beriklan
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media
  • Kebijakan Privasi
© 2025 PT. OWRITE Media Digital.
Home / (Part I) Di Balik Dapur MBG: Adu Gertak BGN vs PDIP dan Tragedi Upah Guru Honorer
Nasional

(Part I) Di Balik Dapur MBG: Adu Gertak BGN vs PDIP dan Tragedi Upah Guru Honorer

owrite-adi-briantikaAmin Suciady
Last updated: Maret 4, 2026 3:28 pm
Adi Briantika
Amin Suciady
Share
Sejumlah pekerja menyiapkan paket makanan untuk program makan bergizi gratis (MBG) di dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Dipan Tanjunganom, Nganjuk, Jawa Timur.
Ilustrasi Sejumlah pekerja menyiapkan paket makanan untuk program makan bergizi gratis (MBG) di dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Dipan Tanjunganom, Nganjuk, Jawa Timur. (ANTARA FOTO/Muhammad Mada/nz)
SHARE

Megaproyek Makan Bergizi Gratis (MBG) kini tak lagi sekadar urusan pemenuhan gizi anak bangsa, melainkan telah bermutasi menjadi arena pertempuran narasi dan perebutan “kue” logistik antar-elit politik.

Sengkarut ini mencapai titik didih ketika institusi negara pelaksana program, Badan Gizi Nasional (BGN), secara blak-blakan membuka kotak pandora ihwal siapa aktor nyata di balik vendor-vendor Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau Dapur MBG di berbagai daerah.

Pemantiknya adalah pengakuan dari Wakil Kepala BGN Nanik Sudaryati Deyang. Dengan gamblang, ia mengatakan bahwa partai-partai politik telah ikut cawe-cawe meraup jatah pengelolaan Dapur MBG.

Karena saya biasanya tanya, saya kan turun ke daerah, pak bupati kan tahu ‘siapa pak yang (punya) ini?,”

ungkap Nanik, 14 Januari 2026.

Pernyataan Nanik seolah mengonfirmasi indikasi kuat tata kelola triliunan rupiah uang negara tersebut sarat intervensi dan rekomendasi elite politik lokal.

Lemparan bola panas BGN sontak memicu kegerahan, khususnya bagi PDI Perjuangan. Sebagai fraksi yang paling vokal mengkritik pemotongan dana pendidikan demi MBG di Senayan, PDIP enggan dicap munafik jika kadernya di akar rumput terbukti ikut berpesta pora menjadi vendor.

Bergerak cepat melakukan damage control, DPP PDIP langsung mengeluarkan Surat Edaran Nomor 940/IN/DPP/II/2026 tertanggal 24 Februari 2026 yang ditandatangani oleh Komarudin Watubun dan Hasto Kristiyanto.

Politisi PDIP, Mohamad Guntur Romli, secara terbuka menegaskan surat tersebut diterbitkan spesifik untuk membantah dan menjawab “tuduhan” Nanik. Berikut poin Surat Edaran (SE):

DPP PDI Perjuangan menginstruksikan kepada seluruh kader Partai pada Tiga Pilar Partai (Struktural, Legislatif, dan Eksekutif) sebagai berikut:

a. Dilarang keras, baik secara langsung maupun tidak langsung, memanfaatkan program MBG untuk mencari keuntungan finansial atau bentuk manfaat material lainnya;

b. Wajib menjaga integritas, serta memastikan tidak terjadi penyalahgunaan kewenangan yang dapat mencederai kepercayaan rakyat kepada partai;

c. Mengawal pelaksanaan Program MBG di daerah masing-masing agar berjalan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan, tepat sasaran, transparan, serta mengutamakan keselamatan dan kepentingan masyarakat;

d. Setiap pelanggaran terhadap instruksi ini akan dipandang sebagai pelanggaran disiplin Partai dan akan dikenakan sanksi organisasi sesuai dengan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Partai serta peraturan internal partai. 

Adian Napitupulu, anggota Komisi X DPR fraksi PDIP, menyatakan program MBG tercantum dalam anggaran pendidikan sesuai Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2025 tentang APBN Tahun 2026 dan diperkuat dalam Peraturan Presiden Nomor 118 Tahun 2025 tentang Rincian APBN Tahun 2026.

Regulasi tersebut memaktubkan pendanaan operasional pendidikan, termasuk MBG dalam lembaga pendidikan. Anggaran yang dikucurkan untuk BGN mencapai Rp223,5 triliun.

Perampokan Sistematis

Program MBG yang digadang-gadang sebagai prioritas nasional terus menuai sorotan tajam. Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (FITRA) menilai kebijakan ini sejak awal tidak masuk akal, baik dari segi postur anggaran maupun implementasi di lapangan.

Meski niatnya mengentaskan masalah kelaparan dan gizi anak, program MBG dianggap sarat kepentingan politik dan menjadi ruang baru bagi para elite untuk memupuk kekayaan.

Peneliti Bidang Advokasi dan Kampanye Publik FITRA Gulfino Guevarrato, berpendapat implementasi MBG saat ini berantakan dan rawan konflik kepentingan. Anggaran raksasa yang menyedot pos pendidikan diduga mengalir ke pihak-pihak yang memiliki kedekatan dengan lingkar kekuasaan.

Sejak masih berstatus wacana dalam debat presiden, FITRA telah mengkritik keras logika anggaran MBG. Fino menyoroti bagaimana undang-undang APBN akhirnya digunakan guna melegitimasi pemotongan anggaran pendidikan demi membiayai program ini.

Kekhawatiran kami rupanya terbukti. MBG benar-benar compang-camping di sana-sini, bukan hanya di aspek anggaran tetapi implementasi yang sarat dengan kepentingan politik, dimanfaatkan oleh kelompok tertentu untuk memperkaya diri,”

kata Fino, kepada owrite.

Ketika ditanya siapa pihak yang paling diuntungkan dari skema APBN berskala jumbo ini, FITRA secara tegas menunjuk elite politik dan pihak yang terafiliasi dengan penguasa, bukan rakyat. Fino mencontohkan adanya keterlibatan institusi negara yang secara tupoksi tidak relevan, namun justru mengelola ribuan SPPG.

SPPG ini yang menikmati adalah mereka yang mempunyai afiliasi dengan kekuasaan. Jadi MBG secara umum bukan bicara soal bagaimana memberikan gizi kepada rakyat, tetapi bagaimana uang rakyat dirampok secara sistematis,”

lanjut dia.

Indikasi “perampokan” ini terlihat dari selisih nilai keekonomian paket makanan yang diterima siswa.

Menurut Fino, ada temuan porsi makanan yang dianggarkan Rp15.000 per anak, realita di lapangannya hanya bernilai setengahnya. Selisih dana tersebut tidak bisa dipertanggungjawabkan kepada publik.

Perihal posisi PDI Perjuangan yang vokal menolak pemotongan anggaran pendidikan demi proyek MBG, Fino memberikan pandangan terhadap Surat Edaran DPP PDIP.

Ia tidak menemukan adanya anjuran atau pembiaran dari partai agar kadernya ikut “mengawal” demi kepentingan komersial. Sebaliknya, partai justru mengancam memberikan sanksi.

Apa yang dibuat oleh PDI Perjuangan sebenarnya cenderung bagus, tapi memang terlambat. Penolakan terhadap MBG itu sudah sejak lama disuarakan masyarakat dan akademisi, tapi dari aspek politik baru direspons setelah hampir berjalan satu tahun dan situasinya semakin chaos. Ini seperti riding the wave,”

jelas Fino.

FITRA mendesak agar PDIP tidak hanya berhenti pada pernyataan sikap. Sebagai penguasa parlemen, PDIP dituntut membuktikan ketegasannya di meja pembahasan APBN 2027 melalui komisi-komisi terkait di DPR RI.

Misalnya harus dicatatkan dalam pembahasan pagu indikatif, ditegaskan bahwa APBN fungsi pendidikan itu diterjemahkan bukan untuk MBG.

Sikap di komisi ini penting, karena MBG butuh kekuatan politik yang seimbang untuk diaudit. Bila hanya mengandalkan masyarakat sipil, ia menilai bakal kalah lantaran di balik MBG ini unsur-unsur lain seperti polisi dan tentara.

Sengkarut SPPG tidak lepas dari peran BGN selaku penyelenggara. Menanggapi pernyataan Wakil Kepala BGN yang mengisyaratkan bahwa “Bupati tahu tokoh partai mana yang punya dapur”, seolah hal tersebut mengonfirmasi rusaknya sistem pengadaan (kurasi vendor) yang dilakukan pemerintah.

Fino menyatakan, kondisi ideal berupa syarat track record dan profesionalitas perusahaan katering sebenarnya sudah ada di atas kertas. Namun, aturan itu dinegasikan oleh intervensi politik.

Asal ada rekomendasi dari partai tertentu yang sedang berkuasa, lanjut Fino, pun perusahaan tersebut belum punya pengalaman, itu dianggap nihil.

Rekomendasi lebih utama dibandingkan kualitas pelayanan. Ini menunjukkan sistem penyediaan SPPG patut dipertanyakan,”

kritik Fino.

Ia juga menyoroti pernyataan-pernyataan BGN yang kerap tidak rasional saat rapat resmi, seperti klaim satu bioflok berisi 300 lele, atau satu SPPG memotong satu ekor sapi setiap hari.

Itu pernyataan absurd. Nyatanya belasan ribu SPPG dikelola dengan compang-camping. Ini menunjukkan ketidakprofesionalan BGN dan sistem rekrutmennya,”

ujar Fino.

Melihat karut-marut tata kelola yang berpotensi menjadi skandal megakorupsi pengadaan pangan baru, seharusnya DPR, BPK, KPK, dan pemerintah segera mengintervensi. Terdapat tiga rekomendasi utama yang disodorkan FITRA:

a. Kembalikan tujuan awal dan perketat kualitas: BGN harus memastikan makanan yang diberikan benar-benar bergizi, bukan makanan olahan berlebih (ultra-processed food).

b. Terapkan skala prioritas: Jika APBN tidak sanggup membiayai skala massal, MBG harus dibatasi hanya untuk daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Program ini dinilai tidak mendesak untuk anak-anak di kota besar.

c. Lakukan audit sosial terbuka: Audit tidak boleh hanya mengandalkan sistem internal BPK, melainkan melibatkan kejaksaan dan inspektorat untuk turun langsung bertanya kepada masyarakat sasaran.

Tanyakan kepada masyarakat, bukan hanya institusi SPPG-nya. Lihat kualitas yang diterima, sesuai tidak harganya dengan pagu anggaran. Kalau pagunya Rp15.000 tapi dapatnya Rp6.000, ini harus ditindak. SPPG yang terafiliasi dengan yayasan yang tidak jelas atau kekuatan politik dapat di-banned (dilarang),”

kata Fino.

Ia memperingatkan, jika pemerintah terus kedap terhadap kritik dan mempertontonkan karut-marut kelola SPPG di media sosial, kepercayaan publik akan hancur dan berujung pada kemuakan massal.

Tag:guru honorerHeadlinemakan bergizi gratisMBGPDIPSatuan Pelayanan Pemenuhan GiziSpillSPPGupah
Share This Article
Email Salin Tautan Print
owrite-adi-briantika
ByAdi Briantika
Asred
Follow:
Seorang jurnalis di OWRITE, yang meliput isu nasional, politik, hukum dan kriminal.
Amin Suciady
ByAmin Suciady
Redaktur Pelaksana
Follow:
Redaktur Pelaksana di OWRITE Media, memiliki keahlian dalam komunikasi strategis, media relations, serta penyampaian informasi yang efektif.

BERITA TERKINI

Indeks berita
Pertandingan antara Malut United vs Persebaya
Olahraga

Hasil Pertandingan Liga 1: PSM Mengamuk, Bali United & Persebaya Curi Poin di Laga Tandang

Pertandingan antara Persita Tangerang melawan Bali United pada pekan ke-29 BRI Super League di Banten International Stadium, Kamis, 23 April 2026, berlangsung menarik. Pada pertandingan tersebut, Bali United berhasil meraih…

By
Hadi Febriansyah
Ivan
2 Min Read
Ilustrasi turun hujan
Megapolitan

Info Cuaca Jakarta Hari Ini: Hujan Ringan Merata Diprediksi Guyur Seluruh Wilayah

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) merilis prakiraan cuaca untuk wilayah DKI Jakarta pada hari ini, Jumat, 24 April 2026. Dilansir dari laman BMKG, wilayah DKI Jakarta dilanda hujan di…

By
Ivan
Syifa Fauziah
1 Min Read
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana
Nasional

BGN Butuh 19 Ribu Ekor Sapi, Dadan: Hanya Andai-andai

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, mengklarifikasi soal kebutuhan 19.000 ekor sapi dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Menurut Dadan, angka tersebut merupakan simulasi atau pengandaian perhitungan, bukan kondisi…

By
Iren Natania
Amin Suciady
3 Min Read

BERITA LAINNYA

Sinyal krisis karhutla telah dimulai secara masif jauh sebelum musim kemarau.
Nasional

Data Madani: Karhutla Capai 71 Ribu Hektare Sebelum Musim Kemarau 2026

Data Area Indikatif Terbakar (AIT) MADANI Berkelanjutan menunjukkan sinyal krisis kebakaran hutan…

owrite-adi-briantika
By
Adi Briantika
11 jam lalu
Karyawan mengawasi proses pemasukan Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit ke dalam mesin pengolahan minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) di PT Karya Tanah Subur Desa Padang Sikabu, Kaway XVI, Aceh Barat, Aceh
Nasional

(Part II) Ambisi Avtur Sawit Prabowo: Potensi Deforestasi Hutan dan Risiko Penerbangan

Mengacu pada data yang dihimpun Auriga, deforestasi di konsesi sawit masih sering…

iren natania longdongAmin Suciady
By
Iren Natania
Amin Suciady
15 jam lalu
Ilustrasi MRT Jakarta
Nasional

Progres MRT Fase 2A Sudah 57,87 Persen, Ditargetkan Rampung 2029

Proses pembangunan MRT Jakarta fase 2A lintas utara-selatan menunjukkan progres yang signifikan.…

Ani RatnasariSyifa Fauziah
By
Ani Ratnasari
Syifa Fauziah
16 jam lalu
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman
Nasional

Mentan Sebut Cadangan Beras Capai Angka Tertinggi Sepanjang Sejarah

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengumumkan Cadangan Beras Pemerintah (CBP) untuk pertama…

Ani RatnasariIvan OWRITE
By
Ani Ratnasari
Ivan
17 jam lalu
OWRITE Logo 2x OWRITE Dark Background Logo 2x

Your Reading Dose, Right Here:
Tetap terhubung dengan berita terkini dan informasi terkini secara langsung. Dari politik dan teknologi hingga hiburan dan lainnya, kami menyediakan liputan langsung yang dapat Anda andalkan, menjadikan kami sumber berita tepercaya.

Info lainnya

  • Redaksi
  • Beriklan
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media
  • Kebijakan Privasi
FacebookLike
InstagramFollow
YoutubeSubscribe
TiktokFollow
© PT. OWRITE Media Digital. All Rights Reserved.
OWRITE Logo OWRITE Dark Background Logo 2x
Everything's gonna be owrite!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?

Not a member? Sign Up