Dengan menggunakan situs ini, kamu menyetujui Kebijakan Privasi and Ketentuan Penggunaan OWRITE.
Accept
Selasa, 1 Sep 2026
Linkbio
OWRITE Logo 2x OWRITE Dark Background Logo 2x
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum
  • Ekbis
  • WARGA SPILLNew
  • Sefruit
  • Lainnya
    • Hype
    • Internasional
    • Megapolitan
    • Daerah
Sign In
  •   ❍
  • Indeks Berita
  • Akun saya
  • Kirim Tulisan
  • Jadwal Piala Dunia
  • Headline
  • DPR
  • KPK
  • Sepak Bola
  • prabowo
  • Korupsi
  • MBG
  • Prabowo Subianto
  • Piala Dunia 2026
  • Purbaya
OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan DuniaOWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia
Font ResizerAa
  • Indeks Berita
  • Baca ulang
  • Koleksi
  • Eksplor
  • Politik
  • Nasional
  • Internasional
  • Hype
  • Ekonomi Bisnis
  • Megapolitan
  • Olahraga
  • Daerah
Search
  • Warga SpillNew
  • Politik
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi Bisnis
  • Hype
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Olahraga
  • Kelola Tulisan
  • Kirim Tulisan
  • Akun Saya
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Redaksi
  • Beriklan
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media
  • Kebijakan Privasi
© 2025 PT. OWRITE Media Digital.
Home / Nasional / Blokir Medsos Anak di Bawah 16 Tahun, TII: Solusi atau Sekadar Gimik Kebijakan?
Nasional

Blokir Medsos Anak di Bawah 16 Tahun, TII: Solusi atau Sekadar Gimik Kebijakan?

owrite-adi-briantikadusep-malik
Last updated: Maret 30, 2026 4:54 pm
By
Adi Briantika
owrite-adi-briantika
ByAdi Briantika
Asred
Seorang jurnalis di OWRITE, yang meliput isu nasional, politik, hukum dan kriminal.
Follow:
Dusep Malik
dusep-malik
ByDusep Malik
Redaktur
Seorang senior editor di OWRITE Media, yang fokus pada pemberitaan seputar Bisnis, Ekonomi, Politik dan Peristiwa.
Follow:
5 bulan lalu
Share
Deretan aplikasi media sosial (medsos). (Sumber: Unsplash/Piotr Cichosz)
Deretan aplikasi media sosial (medsos). (Sumber: Unsplash/Piotr Cichosz)
SHARE

Kebijakan pemerintah melalui Peraturan Menteri Komunikasi dan Digital Nomor 9 Tahun 2026 tentang Peraturan Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 terkait Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak menjadi perbincangan publik.

Langkah afirmatif ini dinilai sebagai upaya perlindungan, namun implementasinya membutuhkan instrumen pengawasan yang ketat agar tidak sekadar menjadi aturan di atas kertas.

Dalam publikasi resmi yang bertajuk “Penonaktifan Akses Sosial Media Anak: Seberapa Tepat untuk Melindungi Anak?” The Indonesian Institute memberikan catatan kritis yang menekankan kebijakan pelarangan harus dibarengi dengan tanggung jawab penyedia platform untuk membuat desain ramah anak, edukasi orang tua, serta kerangka evaluasi yang terukur.

Menindaklanjuti hal tersebut, Peneliti The Indonesian Institute Made Natasya Restu Dewi Pratiwi memaparkan kerangka evaluasi yang memadai dan indikator kesuksesan (Key Performance Indicators/KPI) paling realistis untuk memantau efektivitas kebijakan ini.

Natasya berpendapat evaluasi tidak boleh sekadar melihat seberapa banyak akun anak yang berhasil diblokir, melainkan harus menyentuh dampak nyata di lapangan.

Dalam 1–2 tahun ke depan, dapat dilihat pengaruh kebijakan terhadap penurunan kasus kekerasan digital pada anak, seperti perundungan siber, kekerasan seksual, atau paparan konten berbahaya,”

kata Natasya kepada owrite, Senin, 30 Maret 2026. 

Untuk merealisasikan pengukuran tersebut, ia mendorong pemerintah berkolaborasi dengan masyarakat sipil, termasuk pusat riset terkait anak, guna menghimpun dan menganalisis data yang merujuk pada sistem pelaporan kasus kekerasan anak di Indonesia.

Selain angka kekerasan, Natasya juga menyorot pentingnya indikator perubahan perilaku dan mental anak. Hal ini mencakup pendokumentasian penurunan tingkat adiksi media sosial serta peningkatan pemahaman literasi digital. Kebijakan masif tentu membutuhkan kesiapan ekosistem pendukung. Indikator kesiapan sistem juga harus dievaluasi berkala.

Ini termasuk perbandingan tingkat literasi digital orang tua dan guru pasca-implementasi, kepatuhan platform terhadap regulasi, serta asesmen ketersediaan layanan rujukan psikologis bagi anak yang terdampak pemutusan akses sosial media,”

terang Natasya.

Tingkat pemahaman para pemangku kepentingan pun perlu diukur. Pemerintah harus memastikan anak, orang tua, dan guru benar-benar memahami mekanisme penonaktifan akses ini, mencakup hal apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan, serta bagaimana cara mengakses bantuan jika dibutuhkan. Agar evaluasi tepat sasaran, Natasya menyarankan klasifikasi data secara spesifik. 

Seluruh indikator ini perlu diklasifikasikan secara lebih detail, misalnya berdasarkan wilayah, gender, dan status disabilitas. Dengan begitu, pemerintah bisa melihat apakah kebijakan ini efektif secara merata atau justru timpang. Data ini mempermudah identifikasi wilayah dengan tingkat kepatuhan rendah atau kapasitas literasi digital yang terbatas sebagai prioritas perbaikan,”

jelas dia.

Menjawab tantangan perihal memastikan penurunan kekerasan digital benar-benar disebabkan oleh regulasi tersebut dan bukan kebetulan semata, Natasya menekankan pentingnya data dasar sebelum kebijakan diketuk.

Pemerintah perlu memiliki basis data kekerasan anak akibat paparan digital sebelum implementasi, lalu melakukan perbandingan secara berkala, misalnya setiap enam bulan atau tahunan.

Analisisnya dapat menggunakan pendekatan komparatif antar waktu dan wilayah, bahkan jika memungkinkan menggunakan analisis statistik secara regresi untuk melihat signifikansi hubungan antara kebijakan penonaktifan dan penurunan angka kekerasan,”

papar Natasya. 

Di sisi lain, Natasya mengingatkan pemerintah agar tidak terjebak pada angka statistik semata. Pengalaman anak secara kualitatif mutlak dilibatkan dalam evaluasi untuk mencegah dampak negatif tersembunyi (unintended consequences).

Metode kualitatif penting untuk mengukur perubahan yang tidak bisa dikuantifikasi. Bisa saja angka kekerasan anak di ranah digital menurun, tapi anak yang terdampak kebijakan ternyata merasa terisolasi secara sosial atau kehilangan akses informasi, seperti untuk kepentingan pengembangan diri dan ilmu pengetahuan,”

ujar dia. 

Ada tantangan terbesar dari regulasi semacam ini, yakni implementasinya di ranah keluarga (domestik) yang sangat bergantung pada latar belakang orang tua. Regulasi seringkali berfokus pada pelarangan, namun implementasi di ranah domestik seringkali berbeda karena tingkat literasi orang tua yang beragam. 

Sangat penting untuk memastikan aspek literasi digital dan pendampingan bagi anak di lingkungan keluarga, sekolah, maupun lainnya untuk mendorong efektivitas kebijakan ini secara menyeluruh. 

Melalui pendekatan evaluasi kuantitatif, kualitatif, dan komparatif ini, diharapkan niat baik regulasi perlindungan anak di ranah digital tidak sekadar membatasi, tapi benar-benar menciptakan ruang tumbuh kembang yang aman dan berketahanan bagi generasi masa depan.

Upaya Perlindungan Negara 

Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid menegaskan bahwa penerbitan peraturan ini merupakan langkah konkret negara untuk memastikan anak-anak Indonesia terlindungi dari berbagai risiko di internet.

Hari ini, pemerintah mengambil satu langkah penting untuk masa depan anak-anak Indonesia. Melalui Peraturan Menteri Nomor 9 Tahun 2026 turunan dari PP TUNAS, pemerintah menetapkan bahwa anak di bawah 16 tahun tidak lagi dapat memiliki akun pada platform digital berisiko tinggi,”

ujar Meutya, Jumat, 6 Maret.

Dalam regulasi ini tertuang tahapan implementasi kebijakan pelindungan anak di platform digital. Tahap implementasi dimulai pada 28 Maret 2026 dengan langkah penonaktifan akun anak di bawah usia 16 tahun pada platform digital berisiko tinggi sesuai ketentuan yang berlaku. Penerapan dilakukan secara bertahap, dimulai pada platform seperti YouTube, TikTok, Facebook, Instagram, Threads, X, Bigo Live, dan Roblox. 

Tag:batas usiaBlokirKomdigiliterasi digitalmedsosPerlindungan anak
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Salin Tautan
owrite-adi-briantika
ByAdi Briantika
Asred
Follow:
Seorang jurnalis di OWRITE, yang meliput isu nasional, politik, hukum dan kriminal.
dusep-malik
ByDusep Malik
Redaktur
Follow:
Seorang senior editor di OWRITE Media, yang fokus pada pemberitaan seputar Bisnis, Ekonomi, Politik dan Peristiwa.
Trending di OWRITE
Mulai 1 September Harga BBM Pertamina Naik: Dexlite Tembus Rp23.700 per Liter
By Natania Longdong
Pengendara sepeda motor melintas usai mengisi bahan bakar minyak (BBM) Pertamax 92 di SPBU MT Haryono, Balikpapan, Kalimantan Timur, Selasa (4/8/2026).
1
Viral Warga Bogor Segel Alfamart Minta Bangunan Dialihfungsikan Jadi Kopdes Merah Putih, Netizen: Emang Bakal Laku?
By Ani Ratnasari
Alfamart di Desa Cihideung Ilir, Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor
2
Isu Reshuffle Menguat Jelang Dua Tahun Pemerintahan, Prabowo Layak Evaluasi Menteri
By Rahmat Tunny
Presiden Prabowo Subianto (tengah) berjalan di ruangan untuk memimpin Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara
3
Destry Damayanti Resmi Jadi Gubernur BI, Ini yang Bakal Terjadi pada Kebijakan Rupiah dan Inflasi
By Anisa Aulia
Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti (tengah) bersama Deputi Gubernur Senior BI Aida S. Budiman (kiri) dan Deputi Gubernur BI Solikin M. Juhro (kanan) memberi salam saat mengikuti Rapat Paripurna DPR ke-4 Masa Persidangan I Tahun Sidang 2026-2027 di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta. (Sumber: Antara Foto/Dhemas Reviyanto/YU)
4
Ekonom Ramal Inflasi RI pada Agustus 2026 Capai 3,25 Persen, Ini Biang Keroknya
By Anisa Aulia
Pedagang menjual cabai rawit merah di Pasar Ciputat, Tangerang Selatan, Banten.
5

BERITA LAINNYA

Anggota Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) memberikan bantuan oksigen kepada warga yang terjebak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kecamatan Jekan Raya, Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Jumat (28/8/2026).
Nasional

Basarnas Kekurangan Rp2,29 Triliun, Anggaran SAR 2027 Terjepit

Kepala Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Mohammad Syafii mengaku lembaganya kekurangan…

rahmat-baihaqi-jurnalis-owriteowrite-adi-briantika
By
Rahmat Baihaqi
Adi Briantika
3 menit lalu
Sejumlah pengendara melintas di atas jembatan layang simpang Jakabaring yang tertutup kabut asap di Palembang, Sumatera Selatan, Kamis (27/6/2026).
Nasional

Karhutla Sumsel Turun 88 Persen, tapi Alarm Asap Palembang Belum Padam

Luas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatra Selatan menunjukkan tren penurunan…

Syifa Fauziahowrite-adi-briantika
By
Syifa Fauziah
Adi Briantika
2 jam lalu
Suasana matahari terbenam di langit Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Selasa (25/8/2026).
Nasional

Anggaran BMKG 2027 ‘Bolong’ Rp2,126 Triliun, Alarm Peringatan Dini Dipertaruhkan

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) masih membutuhkan tambahan anggaran Rp2,126 triliun…

Rika Pangestiowrite-adi-briantika
By
Rika Pangesti
Adi Briantika
2 jam lalu
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman (kedua kanan) bersama Wakil Kepala Badan Gizi Nasional Trenggono (kanan), Wakil Gubernur Jatim Emil Elestianto Dardak (kedua kiri) serta perwakilan Satgas Pangan Kombes Pol Dery Agung Wijaya (kiri) memimpin rapat koordinasi perunggasan di Graha Vetma, Pusat Veteriner Farma (Pusvetma), Surabaya, Jawa Timur, Selasa (11/8/2026).
Nasional

Amran Cabut 13 Pegawai Kementan karena Judol

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mencopot permanen 13 pegawai Kementerian Pertanian yang…

Ani Ratnasariowrite-adi-briantika
By
Ani Ratnasari
Adi Briantika
2 jam lalu
OWRITE Logo 2x OWRITE Dark Background Logo 2x

Your Reading Dose, Right Here:
Tetap terhubung dengan berita terkini dan informasi terkini secara langsung. Dari politik dan teknologi hingga hiburan dan lainnya, kami menyediakan liputan langsung yang dapat Anda andalkan, menjadikan kami sumber berita tepercaya.

Info lainnya

  • Redaksi
  • Beriklan
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media
  • Kebijakan Privasi
FacebookLike
InstagramFollow
YoutubeSubscribe
TiktokFollow
© PT. OWRITE Media Digital. All Rights Reserved.
OWRITE Logo OWRITE Dark Background Logo 2x
Everything's gonna be owrite!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?

Not a member? Sign Up