Luas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatra Selatan menunjukkan tren penurunan signifikan dalam tiga tahun terakhir. Namun, ancaman asap belum berakhir. Di tengah penurunan luas area terbakar hingga 88 persen, kualitas udara Kota Palembang sempat masuk kategori sangat tidak sehat.
Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan mengatakan penanganan karhutla di Sumatra Selatan masih terus diintensifkan melalui operasi darat dan udara. Langkah tersebut dilakukan untuk menekan kemunculan titik api sekaligus mencegah perluasan dampak asap.
Berdasarkan pemantauan per 30 Agustus 2026, masih terdapat 67,06 hektare area yang membutuhkan pemadaman dan pemantauan ketat. Dari luasan tersebut, patroli udara mendeteksi 11 titik api dengan area sekitar 45 hektare, sedangkan pengecekan lapangan oleh Satgas Darat menemukan area sekitar 22,06 hektare.
“Hasil operasi pemadaman kebakaran hutan dan lahan di Sumatra Selatan membuktikan bahwa Satgas Darat yang terdiri dari Manggala Agni, TNI, Polri, BPBD, Masyarakat Peduli Api, Basarnas, Relawan dan sektor swasta ini menjadi kekuatan utama dan harus semakin ditingkatkan kekuatannya,”
ujar Berton dalam keterangan tertulis, dikutip pada Selasa, 1 September 2026.
Berdasar operasi gabungan, ada 18,36 hektare area berhasil dipadamkan. 2,5 hektare dipadamkan melalui operasi water bombing, sementara 15,86 hektare ditangani melalui operasi darat.
Saat ini, tim gabungan masih berfokus pada proses pendinginan atau cooling down di area seluas 48,7 hektare. Tahapan tersebut menjadi penting terutama di lahan gambut untuk memastikan bara api di dalam tanah benar-benar padam dan tidak kembali memicu kebakaran.
Luas Karhutla Turun Drastis
Berton mengatakan penanganan karhutla di Sumatra Selatan dalam tiga tahun terakhir menunjukkan hasil positif. Luas area terbakar terus mengalami penurunan secara signifikan.
Pada 2023, luas area karhutla di Sumatera Selatan mencapai 264.165,68 hektare. Angka tersebut turun menjadi 30.844,96 hektare pada 2024 dan kembali turun menjadi 11.879,56 hektare pada 2025.
“Penurunan tersebut mencapai lebih dari 88 persen. Capaian ini dinilai menunjukkan efektivitas sistem peringatan dini, respons cepat Satgas Karhutla, serta kolaborasi berbagai pihak dalam penanganan kebakaran,”
ucap Berton.
Meski demikian, BNPB masih menempatkan sejumlah wilayah sebagai prioritas penanganan.
Di Ogan Komering Ilir (OKI), terdapat lima titik api dengan luasan sekitar 21 hektare. Wilayah yang menjadi perhatian antara lain Kota Bumi dan Tulung Selapan.
Musi Banyuasin memiliki satu titik api dengan luasan sekitar 7 hektare, terutama di wilayah Lalan yang memiliki gambut tebal dan kondisi angin kencang.
Sementara itu, Muara Enim mencatat dua titik api dengan luasan sekitar 11 hektare, terutama di Gelumbang dan Sungai Rotan. Titik api lainnya tersebar di Musi Rawas Utara, OKU Timur, OKU, dan Ogan Ilir.
Masuk Kategori Sangat Tidak Sehat
Penurunan luas area terbakar belum sepenuhnya menghilangkan persoalan asap. Pada 30 Agustus 2026 pukul 14.00 WIB, stasiun pemantau kualitas udara Kota Palembang mencatat Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU/AQI) berada di angka 247 atau masuk kategori sangat tidak sehat.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena asap dari karhutla dapat menurunkan kualitas udara di wilayah sekitar, termasuk kawasan perkotaan. BNPB pun mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan, terutama ketika kualitas udara memburuk.
Kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, serta masyarakat yang memiliki penyakit pernapasan atau jantung diminta mendapat perhatian lebih.
Masyarakat yang harus beraktivitas di luar rumah juga dianjurkan menggunakan masker berstandar medis, seperti N95. BNPB sekaligus mengingatkan masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar.
Pengerahan Personel
Guna memperkuat penanganan di lapangan, 11.567 personel gabungan telah dikerahkan. Mereka berasal dari TNI, Polri, Manggala Agni, BPBD, Basarnas, Masyarakat Peduli Api, sektor swasta, dan relawan.
BNPB juga menyalurkan dukungan sarana operasional kepada tujuh BPBD kabupaten/kota yang terdampak, yakni Musi Banyuasin, Banyuasin, Ogan Ilir, Kota Palembang, Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Muara Enim, dan OKI.
“Setiap daerah mendapat 25 set alat pelindung diri (APD) karhutla, lima roll selang berukuran 1,5 inci, empat unit pompa jinjing 2 HP, dua unit pompa bertekanan tinggi 6 HP, dua unit nozzle, serta dua unit flexible tank,”
terang dia.
Dukungan udara juga diperkuat. Dari total 32 armada udara nasional, sembilan unit disiagakan khusus untuk memantau dan menangani karhutla di Sumatera Selatan.
Pesawat Cessna 208 Caravan telah melakukan 27 sortie dalam operasi modifikasi cuaca (OMC) dengan total 27.000 kilogram bahan semai.
Untuk patroli udara, helikopter AS365 N2 dan Cessna 208B telah mencatat lebih dari 439 jam terbang untuk memetakan titik panas.
Sementara operasi water bombing menggunakan helikopter Blackhawk, MI-8, dan Super Puma telah dilakukan lebih dari 237 sortie di sejumlah wilayah, termasuk Tulung Selapan, Rantau Bayur, Sungai Rotan, dan Lalan.
Operasi udara masih menghadapi tantangan berupa jarak pandang yang terbatas serta angin kencang, terutama di kawasan lahan gambut.
Berton mengatakan BNPB bersama seluruh elemen Satgas Karhutla akan terus memantau dan menangani hingga puncak musim kemarau berakhir.
“Meski tren luas karhutla menunjukkan penurunan tajam, kondisi kualitas udara menjadi pengingat bahwa penanganan belum dapat dihentikan. Selama masih terdapat titik api dan potensi asap, risiko terhadap kesehatan masyarakat tetap perlu diwaspadai,”
kata dia.

























