Dari data tersebut, ditemukan bahwa siswa perempuan punya kecenderungan lebih tinggi baik untuk yang berpikir maupun mencoba mengakhiri hidup. Indonesia sendiri masuk dalam daftar negara dengan angka kasus bunuh diri tertinggi di Asia Tenggara.
Masa Kecil yang Hilang
Seperti belum lama ini, Indonesia digemparkan oleh peristiwa tragis yang menimpa seorang anak berusia 10 tahun, siswa kelas IV Sekolah Dasar (SD) asal Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Siswa tersebut diduga bunuh diri dipicu karena adanya tekanan sosial ketidakmampuan orang tuanya membayar uang sekolah dan membeli perlengkapan sekolah, hingga membuatnya stres dan mengakhiri hidup.
Kasus seperti ini tentu sangat mengkhawatirkan, mengingat remaja merupakan calon penerus bangsa yang seharusnya berada dalam fase tumbuh kembang yang penuh harapan dan potensi. Namun, tekanan dari berbagai aspek, mulai dari akademik, pergaulan, hingga kondisi keluarga, sering kali menjadi pemicunya.
Tekanan Hidup, Sosial dan Ekonomi
Psikolog sekaligus Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI), Seto Mulyadi menyoroti kasus tersebut. Menurut Seto, tingginya kasus bunuh diri di Indonesia disebabkan oleh permasalahan para siswa yang begitu kompleks.
Menurutnya, banyak siswa yang hidupnya penuh dengan tekanan di sekolah. Belum lagi di lingkungan sekolah terjadi bullying dari teman dan guru yang cara mengajarnya tidak ramah anak.
Kadang-kadang juga beban akademik yang terlalu berat. Tidak pandai menghitung, tapi pintar nyanyi, pintar menari, pintar menggambar,”
ujar Seto kepada owrite.
Selain itu, tekanan ekonomi juga menjadi penyebab anak memiliki keinginan untuk mengakhiri hidup. Pasalnya tekanan ekonomi membuat orang tua terkadang kurang ramah anak, hingga melakukan kekerasan.
Kurang adanya komunikasi yang efektif, anak tidak didengar tapi terus disuruh dan dituntut. Jadi hal ini yang membuat anak semakin tertekan, akhirnya antara fight atau flight. Antara kabur, itu bisa kabur ke dunia sosial, kemudian juga kabur ke luar dunia (mengakhiri hidup),”
jelasnya.
Lebih lanjut Seto mengatakan masih banyak orang tua di Indonesia yang gaya komunikasi dengan anaknya kurang baik. Misalnya memerintah, membentak, tidak menghargai anak, dan sering membanding-bandingkan.
Padahal, setiap anak itu memiliki kepintaran yang bermacam-macam yang harus diterima oleh orang tua.
Anak sering dibanding-bandingkan dengan kakaknya, dibandingkan dengan adiknya, dan sebagainya. Jadi merasa tidak ada harganya, percuma saya hidup, gitu,”
jelasnya.
Lantas apa sih alasan anak-anak memiliki ide untuk mengakhiri hidup? Menurut Seto, sosial media memiliki peran yang cukup besar, mulai dari game hingga tontonan.
Rangsangan dari media sosial ini yang paling gampang, entah itu minum racun serangga, gatung diri, atau dengan terjun bebas di mal atau di tempat yang ketinggian gitu ya. Karena yang menginspirasi dia, itu yang diambil,”
jelas Seto.
Menurutnya, tanda seseorang merasa tertekan, depresi hingga ingin mengakhiri hidup bukan dengan menunjukkan ke banyak orang tentang perasannya, mereka justru memilih untuk diam, tidak komunikatif dan menutup diri.
Kalau dinasihatinya diam aja, buang muka, dan sebagainya itu udah gejala-gejala yang tidak aman untuk anak,”
katanya.
Dokter Seto menambahkan, menghadapi anak ternyata tidak sulit ketika mereka merasa cemas, tertekan, dan depresi, yakni dengan senyum.
Kemudian orang tua pelu memandang matanya, ditatap dan dipeluk. Ciptakan rasa aman bahwa anak masih ada yang menghargai, ada yang melindungi, ada yang peduli.
Kalau dia merasa di dunia ini nggak ada yang peduli, anak berpikir ya buat apa saya hidup di dunia. Jadi intinya adalah senyum, kemudian meluk, dan menghargai, dan menerima, bahwa setiap anak itu unik, otentik, dan tidak terbandingkan,”
katanya.