Dengan menggunakan situs ini, kamu menyetujui Kebijakan Privasi and Ketentuan Penggunaan OWRITE.
Accept
Selasa, 26 Mei 2026
Linkbio
OWRITE Logo 2x OWRITE Dark Background Logo 2x
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum
  • Ekbis
  • WARGA SPILLNew
  • Sefruit
  • Lainnya
    • Hype
    • Internasional
    • Megapolitan
    • Daerah
Sign In
  •   ❍
  • Indeks Berita
  • Akun saya
  • Kirim Tulisan
  • KPK
  • Headline
  • Korupsi
  • Purbaya
  • DPR
  • Sepak Bola
  • prabowo
  • iran
  • Spill
  • BMKG
OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan DuniaOWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia
Font ResizerAa
  • Indeks Berita
  • Baca ulang
  • Koleksi
  • Eksplor
  • Politik
  • Nasional
  • Internasional
  • Hype
  • Ekonomi Bisnis
  • Megapolitan
  • Olahraga
  • Daerah
Search
  • Warga SpillNew
  • Politik
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi Bisnis
  • Hype
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Olahraga
  • Kelola Tulisan
  • Kirim Tulisan
  • Akun Saya
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Redaksi
  • Beriklan
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media
  • Kebijakan Privasi
© 2025 PT. OWRITE Media Digital.
Home / (Part I) Saat Anak-Anak Tak Mampu Lagi Menanggung Beban Hidup, Pilihan Mengakhiri Hidup Naik Drastis
Nasional

(Part I) Saat Anak-Anak Tak Mampu Lagi Menanggung Beban Hidup, Pilihan Mengakhiri Hidup Naik Drastis

Syifa FauziahAmin Suciady
Last updated: April 6, 2026 1:18 pm
Syifa Fauziah
Amin Suciady
Share
Gambar ilustrasi tekanan kesehatan mental pada. (Gambar dibuat oleh AI)
Gambar ilustrasi tekanan kesehatan mental pada. (Gambar dibuat oleh AI)
SHARE

Belum lama ini, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melaporkan adanya peningkatan angka anak Indonesia yang ingin mengakhiri hidupnya atau bunuh diri dalam tujuh tahun terakhir.

Daftar isi Konten
  • Masa Kecil yang Hilang
  • Tekanan Hidup, Sosial dan Ekonomi
  • Pengaruh Media Sosial

Berdasarkan data Global School-Based Student Health Survey (GSHS) pada 2015 dan 2023, memperlihatkan persentase siswa yang berpikir ingin mengakhiri hidup meningkat 1,6 kali lipat, dari 5,4 persen menjadi 8,5 persen. 

Survei yang sama juga memperlihatkan persentase siswa yang mencoba mengakhiri hidup meningkat 2,7 kali lipat, dari 3,9 persen pada 2016 menjadi 10,7 persen pada 2023.

Dari data tersebut, ditemukan bahwa siswa perempuan punya kecenderungan lebih tinggi baik untuk yang berpikir maupun mencoba mengakhiri hidup. Indonesia sendiri masuk dalam daftar negara dengan angka kasus bunuh diri tertinggi di Asia Tenggara. 

Masa Kecil yang Hilang

Seperti belum lama ini, Indonesia digemparkan oleh peristiwa tragis yang menimpa seorang anak berusia 10 tahun, siswa kelas IV Sekolah Dasar (SD) asal Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT). 

Siswa tersebut diduga bunuh diri dipicu karena adanya tekanan sosial ketidakmampuan orang tuanya membayar uang sekolah dan membeli perlengkapan sekolah, hingga membuatnya stres dan mengakhiri hidup. 

Kasus seperti ini tentu sangat mengkhawatirkan, mengingat remaja merupakan calon penerus bangsa yang seharusnya berada dalam fase tumbuh kembang yang penuh harapan dan potensi. Namun, tekanan dari berbagai aspek, mulai dari akademik, pergaulan, hingga kondisi keluarga, sering kali menjadi pemicunya.

Tekanan Hidup, Sosial dan Ekonomi

Psikolog sekaligus Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI), Seto Mulyadi menyoroti kasus tersebut. Menurut Seto, tingginya kasus bunuh diri di Indonesia disebabkan oleh permasalahan para siswa yang begitu kompleks.

Menurutnya, banyak siswa yang hidupnya penuh dengan tekanan di sekolah. Belum lagi di lingkungan sekolah terjadi bullying dari teman dan guru yang cara mengajarnya tidak ramah anak. 

Kadang-kadang juga beban akademik yang terlalu berat. Tidak pandai menghitung, tapi pintar nyanyi, pintar menari, pintar menggambar,”

ujar Seto kepada owrite.

Selain itu, tekanan ekonomi juga menjadi penyebab anak memiliki keinginan untuk mengakhiri hidup. Pasalnya tekanan ekonomi membuat orang tua terkadang kurang ramah anak, hingga melakukan kekerasan.

Kurang adanya komunikasi yang efektif, anak tidak didengar tapi terus disuruh dan dituntut. Jadi hal ini yang membuat anak semakin tertekan, akhirnya antara fight atau flight. Antara kabur, itu bisa kabur ke dunia sosial, kemudian juga kabur ke luar dunia (mengakhiri hidup),”

jelasnya.

Lebih lanjut Seto mengatakan masih banyak orang tua di Indonesia yang gaya komunikasi dengan anaknya kurang baik. Misalnya memerintah, membentak, tidak menghargai anak, dan sering membanding-bandingkan.

Padahal, setiap anak itu memiliki kepintaran yang bermacam-macam yang harus diterima oleh orang tua.

Anak sering dibanding-bandingkan dengan kakaknya, dibandingkan dengan adiknya, dan sebagainya. Jadi merasa tidak ada harganya, percuma saya hidup, gitu,”

jelasnya. 

Pengaruh Media Sosial

Lantas apa sih alasan anak-anak memiliki ide untuk mengakhiri hidup? Menurut Seto, sosial media memiliki peran yang cukup besar, mulai dari game hingga tontonan.

Rangsangan dari media sosial ini yang paling gampang, entah itu minum racun serangga, gatung diri, atau dengan terjun bebas di mal atau di tempat yang ketinggian gitu ya. Karena yang menginspirasi dia, itu yang diambil,”

jelas Seto. 

Menurutnya, tanda seseorang merasa tertekan, depresi hingga ingin mengakhiri hidup bukan dengan menunjukkan ke banyak orang tentang perasannya, mereka justru memilih untuk diam, tidak komunikatif dan menutup diri.

Kalau dinasihatinya diam aja, buang muka, dan sebagainya itu udah gejala-gejala yang tidak aman untuk anak,”

katanya.

Dokter Seto menambahkan, menghadapi anak ternyata tidak sulit ketika mereka merasa cemas, tertekan, dan depresi, yakni dengan senyum.

Kemudian orang tua pelu memandang matanya, ditatap dan dipeluk. Ciptakan rasa aman bahwa anak masih ada yang menghargai, ada yang melindungi, ada yang peduli.

Kalau dia merasa di dunia ini nggak ada yang peduli, anak berpikir ya buat apa saya hidup di dunia. Jadi intinya adalah senyum, kemudian meluk, dan menghargai, dan menerima, bahwa setiap anak itu unik, otentik, dan tidak terbandingkan,” 

katanya.

Tag:Anak-anakbunuh diriEkonomiHeadlineKemiskinanMedia SosialsosialSpill
Share This Article
Email Salin Tautan Print
Syifa Fauziah
BySyifa Fauziah
Asred
Follow:
Seorang jurnalis di OWRITE Media, yang meliput pemberitaan seputar Gaya Hidup dan Entertainment.
Amin Suciady
ByAmin Suciady
Redaktur Pelaksana
Follow:
Redaktur Pelaksana di OWRITE Media, memiliki keahlian dalam komunikasi strategis, media relations, serta penyampaian informasi yang efektif.
Trending di OWRITE
Selat Hormuz Berpotensi Buka, Minyak WTI Langsung Ambles ke US$91 per Barel
By Anisa Aulia
Petugas West Texas Intermediate.
1
150 Inspirasi Nama Kucing yang Gemas, Estetik, dan Anti Pasaran
By Ossid Duha Jussas Salma
Hewan kucing
2
Buru Begal Pakai Pasukan Tempur: Langkah Tegas atau Pintu Masuk Dwifungsi ABRI?
By Adi Briantika
Sejumlah prajurit Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad) TNI AD
3
Gudang Plastik di Kapuk Kembali Terbakar, Sudin Gulkarmat: Api Muncul dari Bawah Reruntuhan
By Ani Ratnasari
Kebakaran gudang plastik di Jakarta Barat
4
IHSG Hari Ini Merosot ke 6.152, Simak Level Support dan Resistnya
By Anisa Aulia
Pekerja berjalan di dekat layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Kamis (21/5/2026).
5

BERITA LAINNYA

Wakil Menteri Pertanian (Wamentan), Sudaryono.
Nasional

Dolar Naik, Petani Tersenyum, Pemerintah Klaim Ini Peluang Besar

Wakil Menteri Pertanian Sudaryono menilai, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika…

Nisa-OWRITErahmat-tunny
By
Anisa Aulia
Rahmat Tunny
5 jam lalu
Diskui WALHI.
Nasional

Sudah Enam Bulan Pascabencana, Mengapa 61 Ribu Perempuan Sumut Masih Terjebak di Tenda Darurat?

Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) menyoroti ratusan ribu warga yang hidup di…

iren natania longdongowrite-adi-briantika
By
Iren Natania
Adi Briantika
8 jam lalu
Warga mengamati sampah kayu gelondongan pasca banjir bandang di Desa Aek Garoga, Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, Sabtu (29/11/2025). Sampah kayu gelondongan tersebut menumpuk di pemukiman warga dan sungai pasca banjir bandang pada Selasa (25/11).
Nasional

11 Ribu Proyek Rekonstruksi Disiapkan, Pemulihan Sumatera Sedot Dana Fantastis Rp100 Triliun

Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) bersama pemerintah sepakat untuk menggelontorkan anggaran Rp100,1 triliun…

iren natania longdongAmin Suciady
By
Iren Natania
Amin Suciady
8 jam lalu
Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Bidang Operasional Pemenuhan Gizi Sony Sonjaya
Nasional

Isu OTT Meledak, Wakil BGN Bantah Keras, KPK Hingga Kejagung Ikut Buka Suara

Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sony Sanjaya membantah keras kabar yang…

rahmat-baihaqi-jurnalis-owriterahmat-tunny
By
Rahmat
Rahmat Tunny
8 jam lalu
OWRITE Logo 2x OWRITE Dark Background Logo 2x

Your Reading Dose, Right Here:
Tetap terhubung dengan berita terkini dan informasi terkini secara langsung. Dari politik dan teknologi hingga hiburan dan lainnya, kami menyediakan liputan langsung yang dapat Anda andalkan, menjadikan kami sumber berita tepercaya.

Info lainnya

  • Redaksi
  • Beriklan
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media
  • Kebijakan Privasi
FacebookLike
InstagramFollow
YoutubeSubscribe
TiktokFollow
© PT. OWRITE Media Digital. All Rights Reserved.
OWRITE Logo OWRITE Dark Background Logo 2x
Everything's gonna be owrite!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?

Not a member? Sign Up