Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mengungkap sejumlah temuan awal terkait kecelakaan maut di Bekasi Timur yang melibatkan KRL Commuter Line, taksi listrik Green SM, dan KA Argo Bromo Anggrek pada April 2026 lalu.
Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono menyampaikan investigasi sementara menunjukkan taksi listrik yang tertemper kereta tidak mengalami gangguan sistem maupun error sebelum insiden terjadi.
Data onboard unit kendaraan B 2864 SBX tidak terdapat rekaman yang mendeteksi error pada sistem berdasarkan data satu jam sebelum kejadian,”
ujar Soerjanto dalam rapat kerja bersama Komisi V DPR RI, Kamis, 21 Mei 2026.

KNKT Soroti Perubahan Posisi Transmisi
Dalam hasil penyelidikan awal, KNKT justru menemukan adanya pengoperasian transmisi kendaraan yang dinilai tidak sesuai sebelum mobil berhenti di tengah perlintasan rel.
Berdasarkan data investigasi, kendaraan awalnya melaju normal dari arah utara menuju selatan dengan posisi transmisi berada di mode “D” atau drive dengan kecepatan sekitar 15 kilometer per jam.
Namun beberapa saat kemudian, transmisi berubah ke posisi “N” atau netral ketika kendaraan melintasi jalur menurun dengan kemiringan sekitar 2,9 persen.
Kemudian kendaraan berpindah ke posisi N dan meluncur dengan kecepatan 3 sampai 7 kilometer per jam. Ini kami tidak tahu kenapa bisa dinetralkan,”
kata Soerjanto.
KNKT menyebut sopir tetap membiarkan kendaraan meluncur sambil melakukan pengereman ringan hingga memasuki area perlintasan kereta api.

Mobil Tak Bergerak Meski Pedal Gas Ditekan
Saat kendaraan sudah berada di atas rel, pengemudi mulai menginjak pedal gas hingga 25 persen. Namun mobil tidak bergerak karena transmisi masih berada di posisi netral.
Pengemudi terus menekan gas hingga 51 persen, kendaraan tidak bergerak karena dalam posisi N,”
ujarnya.
KNKT juga menemukan posisi transmisi sempat dipindahkan kembali ke mode “D” pada pukul 20.46 WIB. Akan tetapi, saat itu pedal gas tidak diinjak sehingga kendaraan tetap diam di lokasi kejadian.
Tak lama kemudian, transmisi kembali berubah ke posisi “P” atau parkir.
Selanjutnya handle berposisi pada P, di mana pengemudi menginjak gas, menginjak rem, menekan tombol on-off berulang kali, tetapi kendaraan tetap dalam posisi P sehingga mobil tidak bisa bergerak,”
kata Soerjanto.
KNKT Temukan Kejanggalan Sinyal Kereta
Selain faktor kendaraan, KNKT turut menyoroti sistem persinyalan kereta sebelum tabrakan terjadi.
Menurut hasil investigasi awal, KA Argo Bromo Anggrek melintas dari Stasiun Bekasi menuju Bekasi Timur dengan sinyal keluar beraspek aman atau hijau, padahal di jalur depan terdapat KRL Commuter Line yang sedang berhenti di Stasiun Bekasi Timur.
KNKT menilai kondisi tersebut merupakan anomali karena sinyal seharusnya menunjukkan aspek hati-hati atau kuning.
Tak hanya itu, masinis KA Argo Bromo Anggrek juga dilaporkan mengalami kesulitan melihat sinyal pengulang akibat gangguan pencahayaan dari rumah warga dan lampu jalan di sekitar rel.
Masinis kesulitan melihat sinyal pengulang karena adanya pencahayaan dari lampu pasar dan rumah di sekitar rel,”
ujar Soerjanto.

Sopir Taksi Listrik Disebut Minim Pelatihan
KNKT juga mengungkap fakta lain terkait minimnya pelatihan terhadap pengemudi taksi listrik yang terlibat dalam kecelakaan tersebut.
Berdasarkan investigasi sementara, sopir diketahui baru bekerja selama tiga hari setelah direkrut melalui job fair. Pelatihan yang diberikan hanya berupa pengenalan dasar kendaraan, seperti cara menyalakan mobil, penggunaan knob transmisi, lampu indikator, dan penggunaan sabuk pengaman.
Tidak ada edukasi mengenai teknis kendaraan atau penanganan sistem saat terjadi error,”
kata Soerjanto.
KNKT menegaskan investigasi kecelakaan maut Bekasi Timur masih terus berjalan guna mengungkap seluruh faktor penyebab insiden secara menyeluruh.
Hasil akhir investigasi nantinya akan menjadi dasar evaluasi terhadap sistem keselamatan transportasi, termasuk pengoperasian kendaraan listrik, sistem persinyalan kereta, hingga standar pelatihan pengemudi transportasi umum di Indonesia.



