Meski sempat bocor dua kali berturut-turut, operasi tangkap tangan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang menyasar Bupati Kuansing dan Bupati Langkat tetap berujung sukses.
Tim penindak berhasil meringkus kedua kepala daerah tersebut walaupun operasi senyap itu sempat terendus oleh target.
Mantan penyidik KPK Yudi Purnomo Harahap mengatakan operasi tangkap tangan atau OTT sejatinya adalah operasi rahasia. Merujuk kebocoran informasi dalam dua operasi itu, KPK harus segera bebenah diri.
“Kebocoran dalam suatu gerakan yang rahasia tentu merupakan suatu kegagalan. Maka KPK harus mengevaluasi mengapa terjadi kebocoran,”
ucap Yudi kepada Owrite, Senin, 6 Juli 2026.
Wajib Telusur Dugaan
Kebocoran itu bisa saja berasal dari pihak luar maupun dari internal lembaga KPK, jadi komisi antirasuah wajib menelusuri dua dugaan tersebut. Bila kebocoran bersumber dari internal, semestinya mudah bagi KPK untuk mengusut hal itu secara menyeluruh.
“Kalau dari dalam, ini sebenarnya juga mudah untuk ditelusuri. Harus dibuka yang seluas-luasnya informasi, bagaimana dugaan bocor dan siapa yang diduga pembocor,”
tutur Yudi.
Bukan hanya itu, menurut Yudi kebocoran OTT menyebabkan efek domino. Mulai dari menguntungkan pelaku hingga menghambat proses hukumnya. Operasi senyap, jika sampai terendus oleh target, maka target berpotensi menghilangkan barang bukti, menghapus percakapan di telepon genggam, maupun menyusun strategi menghindari penangkapan.
“Kebocoran itu bisa menggagalkan OTT dan menguntungkan koruptor,”
kata dia.
Mantan penyidik KPK ini tetap mengapresiasi eks lembaga tempat ia bekerja yang berhasil menangkap dua kepala daerah, bahkan Bupati Kuansing Suhardiman Amby sampai menyerahkan diri.
Yudi tetap memberikan catatan kebocoran OTT tidak bisa dianggap hal biasa sebab bisa berpotensi menggagalkan operasi lainnya.
“Ke depannya bisa jadi malah OTT-nya yang bocor, kemudian menggagalkan upaya melakukan OTT,”
ucap Yudi.
Kucing-kucingan
Kegagalan skenario pelarian di kedua wilayah tersebut menjadi bukti ketangguhan tim lapangan KPK di tengah rapuhnya kerahasiaan operasi.
Sebelum resmi mengenakan rompi oranye, Bupati Kuansing Suhardiman Amby sempat berupaya menyembunyikan mobil Toyota Land Cruiser miliknya, sementara Bupati Langkat Syah Afandin memilih membatalkan rencana pertemuan dan memutar balik arah kendaraannya begitu mengetahui radar pengintaian tim antirasuah.
Dua drama kucing-kucingan dalam sepekan ini menjadi catatan evaluasi krusial bagi manajemen penindakan KPK.



























