Hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2026 sebagai instrumen baru untuk mengukur capaian belajar siswa secara lebih objektif menunjukkan perbaikan dibandingkan tahun sebelumnya.
Namun, rata-rata nilai siswa berada pada level belum memuaskan, khususnya pada mata pelajaran Matematika. Kondisi ini memicu perdebatan mengenai relevansi TKA sebagai tolok ukur keberhasilan siswa, sebab kurikulum pendidikan saat ini tidak hanya fokus pada hasil akademik semata.
Konsultan pendidikan, Ina Liem, menilai hasil TKA yang diumumkan pemerintah sebenarnya tidak terlalu mengejutkan.
“Sebetulnya kalau dari saya tidak mengejutkan. (Publik) sudah tahu literasi dan numerasi siswa (Indonesia) memang masih rendah dan itu sudah diketahui selama bertahun-tahun,”
kata Ina kepada Owrite.id
Ia berpendapat persoalan yang perlu menjadi perhatian bukan sekadar angka yang muncul dalam hasil TKA, melainkan tes tersebut digunakan untuk menilai kualitas siswa dan sekolah. Pendidikan seharusnya tidak direduksi hanya menjadi skor yang diperoleh siswa dalam satu kali tes.
Sebab, proses pendidikan selama bertahun-tahun juga mencakup pembentukan karakter, kreativitas, kemampuan komunikasi, kolaborasi, serta keterampilan memecahkan masalah yang tidak seluruhnya dapat diukur melalui ujian akademik.
“Seolah-olah pendidikan selama SD enam tahun dan SMP tiga tahun diringkas menjadi hasil tes yang dikerjakan hanya dalam waktu beberapa jam,”
ujar Ina.
Ia juga mengkhawatirkan kembalinya budaya mengejar nilai di sekolah. Fokus yang berlebihan terhadap hasil TKA dinilai berpotensi mendorong praktik pembelajaran yang hanya berorientasi pada latihan soal dan pencapaian skor tinggi.
“Hasil TKA ini akhirnya jadi sorotan utama. Yang dikhawatirkan adalah (siswa) kembali ke paradigma lama, mengejar nilai dan peringkat,”
tutur Ina.
Kondisi tersebut dapat membuat sekolah lebih sibuk mempersiapkan siswa menghadapi ujian dibandingkan mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan keterampilan yang dibutuhkan di dunia kerja masa depan.
Pertanyakan Hasil
Ina mempertanyakan mengapa hasil yang banyak ditampilkan kepada publik hanya berupa capaian akademik siswa. Padahal, dalam sistem evaluasi pendidikan sebelumnya terdapat indikator lain yang tidak kalah penting, seperti survei karakter dan survei lingkungan belajar.
Menurutnya, indikator tersebut justru dapat memberikan gambaran lebih utuh mengenai keberhasilan pendidikan nasional.
“Mana hasil survei lingkungan belajar dan survei karakternya? Bukankah itu lebih penting untuk melihat apakah pendidikan (Indonesia) berhasil atau tidak?”
ujar dia.
Kebutuhan dunia kerja saat ini telah berubah. Selain kemampuan literasi dan numerasi, dunia industri juga membutuhkan lulusan yang memiliki kreativitas, inovasi, kemampuan komunikasi, kolaborasi, serta kemampuan menyelesaikan persoalan yang kompleks.
Karena itu, Ina menganggap hasil TKA sebaiknya tidak dijadikan satu-satunya parameter untuk mengukur keberhasilan siswa maupun kualitas pendidikan secara keseluruhan.
Hasil TKA 2026 menunjukkan capaian kemampuan siswa masih relatif rendah, terutama pada mata pelajaran ,atematika. Berdasar data nasional, rerata nilai Bahasa Indonesia pada jenjang SD/MI sederajat mencapai 60,14, sedangkan matematika 43,41; pada jenjang SMP/MTs sederajat, rerata nilai Bahasa Indonesia tercatat 60,83 dan matematika 40,34.



