Pernyataan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya soal harga Bahan Bakar Minyak (BBM) Pertamax di Indonesia jauh lebih murah dibanding negara lain jadi sorotan. Dari data, omongan Teddy dinilai justru kontras.
Pakar Kebijakan Publik Universitas Trisakti, Faisal Sallatalohy menilai dari sejumlah data menunjukkan persoalan kemiskinan energi di Indonesia masih berada di tingkat yang mengkhawatirkan.
Faisal menyampaikan dari hasil perhitungan menggunakan data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) dengan pendekatan pengeluaran energi, Multidimensional Energy Poverty Index, serta konsumsi listrik minimum, sebanyak 53 persen rumah tangga Indonesia tergolong miskin energi dari sisi beban pengeluaran.
Adapun, sekitar 22 persen rumah tangga masuk kategori miskin energi berdasarkan indikator konsumsi listrik minimum.
Beban Rakyat
Menurut Faisal, angka itu menunjukkan bahwa persoalan utama bukan sekadar ketersediaan energi. Namun, juga karena mahalnya biaya yang harus ditanggung rakyat untuk mengakses kebutuhan energi sehari-hari.
Data tersebut secara langsung menunjukan, bahwa kemiskinan energi Indonesia tergolong tinggi. Di mana biaya akses energi yang mahal menjadi penyebab utama kemiskinan,”
kata Faisal kepada Owrite, Senin, 15 Juni 2026.
Faisal mengkritisi pernyataan Seskab Teddy soal BBM pertamax di Indonesia dengan negara lain.
Dia bilang, pendekatan itu tak cukup untuk menjelaskan beban yang dirasakan masyarakat di lapangan.
Berbicara soal harga BBM, tidak cukup hanya dengan membandingkan harga dengan negara lain. Tapi, soal apakah besaran harga itu sesuai dengan daya beli rakyat, setara dengan pendapatan rakyat,”
ujar Faisal.
Faisal mengatakan ukuran keberhasilan kebijakan energi seharusnya dilihat dari kemampuan masyarakat membeli energi. Hal itu tanpa mengorbankan kebutuhan pokok lainnya.
Percuma harga BBM murah jika dibandingkan negara lainnya. Tapi, ternyata bagi rakyat sendiri, harga tersebut terbilang mahal, memukul rakyat,”
jelas Faisal.
Buktinya kemiskinan energi Indonesia cukup tinggi dengan faktor utama disebabkan masalah harga yg cenderung mahal,”
lanjut Faisal.
Dalam kritiknya, Faisal juga meminta pejabat publik seperti Teddy lebih berhati-hati saat bicara mengenai isu yang menyangkut langsung kehidupan masyarakat.
Oleh sebab itu, Seskab Teddy harusnya lebih bijaksana, lebih rasional dan lebih berakal,”
tuturnya.
Sebelumnya, Seskab Teddy menyampaikan harga Pertamax atau BBM dengan oktan (RON) 92 di Indonesia lebih murah dibandingkan negara lain.
Teddy bilang untuk harga Pertamax saat ini dibanderol Rp16.250 per liter. Ia membandingkan dengan harga BBM RON 92/95 sejenis di Filipina yang sudah menembus Rp 22.158.
Pun, di Laos sudah mencapai Rp31.945; Thailand Rp28.910, lalu di Singapura di level Rp 42.971.
Teddy mengatakan status Pertamax adalah salah satu jenis BBM non-subsidi. Meski harga minyak dunia sudah melonjak sejak Maret 2026. pemerintahan Presiden Prabowo Subianto malah menahan kenaikan harga Pertamax selama berbulan-bulan.
Untuk jenis harga BBM subsidi seperti Pertalite dan Solar masih sama atau tidak naik.



