Lewati ke konten

OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia

Your Reading Dose, Right Here

Nasional

Kemarau Panjang Mengancam Warga Kalbar, Air Susah hingga Harga Kebutuhan Bisa Melonjak

Foto udara situ yang mengalami penyusutan imbas musim kemarau.
Foto udara kondisi situ yang mengalami penyusutan imbas musim kemarau. (ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi).

Kemarau panjang dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai dipandang bukan sekadar ancaman lingkungan.

Anggota Komisi V DPR RI Yuliansyah mengingatkan pemerintah agar mewaspadai dampaknya terhadap ketersediaan kebutuhan masyarakat di Kalimantan Barat.

Nanti airnya susah, BPN-nya tidak ada, ini akan menjadi berdampak bagi Kalimantan Barat ini,”

kata Yuliansyah, Senin, 24 Agustus 2026.

Menurut Yuliansyah, kekeringan yang berlangsung panjang bisa memicu persoalan berantai. Selain mengganggu kondisi lingkungan, terbatasnya ketersediaan air berpotensi memengaruhi pasokan kebutuhan masyarakat.

Iklan

Ia menilai pemerintah tak boleh hanya fokus pada penanganan karhutla. Dampak kemarau terhadap kehidupan dan kebutuhan sehari-hari masyarakat juga harus dihitung sejak awal.

Legislator dari daerah pemilihan Kalimantan Barat itu menilai kondisi itu harus jadi perhatian pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Sebab, ketika pasokan terganggu, persoalan yang muncul tidak berhenti pada kelangkaan barang.

Gangguan pasokan juga berpotensi mendorong kenaikan harga. Kondisi itu pada akhirnya akan membuat masyarakat menjadi pihak yang paling merasakan dampaknya.

Ini akan berdampak lagi nih tentang masalah BPN. Yang akan menyangkut harganya untuk masyarakat lagi,”

tutur Yuliansyah.

Karena itu, Yuliansyah meminta pemerintah memastikan kebutuhan masyarakat tetap tersedia di tengah kemarau yang berkepanjangan.

Antisipasi dinilai penting agar persoalan lingkungan tidak berkembang menjadi tekanan ekonomi.

Menurut dia, ketersediaan air harus menjadi salah satu perhatian utama. Pemerintah juga perlu memastikan rantai pasokan kebutuhan masyarakat tetap berjalan meski kondisi cuaca semakin kering.

Yuliansyah menilai langkah antisipasi tidak bisa dibebankan hanya kepada pemerintah daerah. Pemerintah pusat, daerah, dan pihak terkait perlu bergerak bersama untuk menghadapi dampak kekeringan dan karhutla.

Untuk itu perlu menjadi perhatian khusus pemerintah pusat maupun pemerintah daerah dan juga pihak-pihak yang bisa bersinari bagaimana mengatasi lautan kekeringan air maupun kekenangan dampak di Muara itu,”

ujarnya.

Iklan

Topik terkait

Penulis dan penyunting

  • Reporter

    Rika Pangesti adalah reporter di OWRITE yang berfokus pada peliputan isu megapolitan dan berita nasional. Berlatar pendidikan Magister Ilmu

  • Asisten Redaktur

    Hardani Triyoga adalah jurnalis di OWRITE yang berfokus pada peliputan isu nasional, politik, peristiwa, dan dinamika perkotaan.