Pergerakan dolar Amerika Serikat (AS) di tengah melemahnya nilai tukar rupiah terus jadi perhatian publik. Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan (BP Taskin) Budiman Sudjatmiko merespons kondisi saat ini dengan analogi unik.
Mantan politikus PDIP itu bicara soal jenis-jenis dolar yang dinilai baik, maupun kurang menguntungkan bagi Indonesia.
Dengan gaya satir, Budiman membagi aliran modal asing ke dalam beberapa kategori, mulai dari dolar bestie, dolar baper hingga dolar playboy. Menurutnya, tidak semua dolar yang masuk ke Indonesia memiliki dampak yang sama terhadap perekonomian nasional.
Budiman menjelaskan, pemerintah lebih membutuhkan dolar yang berasal dari aktivitas ekonomi produktif. Aktivitas itu seperti ekspor dan investasi jangka panjang, dibandingkan dana spekulatif yang mudah keluar masuk mengikuti dinamika politik dan pasar.
Dolar bestie adalah dolar dalam bentuk reward yang kita dapat hasil ekspor dari produk kita,”
kata Budiman di Kampus Paramadina, Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu, 10 Juni 2026.
Dolar Sektor Riil
Dikatakan mantan aktivis 98 itu, dolar AS yang diperoleh dari hasil ekspor adalah yang paling sehat bagi perekonomian. Sebab, prosesnya lahir dari produktivitas masyarakat dan sektor riil.
Budiman mengakui, Presiden Prabowo mendukung model pertumbuhan ekonomi yang bertumpu pada peningkatan produksi dalam negeri dan ekspor.
Bapak Prabowo oke dengan dolar bestie, kita produksi apa, ekspor, dolar-dolar sebagai reward,”
ujarnya.
Selain dolar hasil ekspor, Budiman juga membuka pintu bagi masuknya investasi asing langsung atau Foreign Direct Investment (FDI). Jenis modal ini dinilai mampu menciptakan lapangan kerja, membangun industri, dan memperkuat fondasi ekonomi nasional.
Dolar baper, boleh. Yaitu mereka yang kemudian pengumpul uang, ayo kita investasi dolar dalam bentuk FDI. Oke, welcome,”
kata eks Anggota DPR RI itu.
Namun, ia memberikan catatan terhadap investor yang mudah menarik modalnya hanya karena perubahan situasi politik, atau sentimen pasar sesaat. Jika kondisi tak menguntungkan, dolar baper ini malah kabur dari RI.
Foreign Direct Investment, welcome. Ya, jangan dolar baper, ada kebijakan politik sedikit, baper, cabut,”
ujar Budiman.
Pun, Budiman juga memperkenalkan istilah dolar playboy untuk menggambarkan dana yang hanya berputar-putar di pusat keuangan regional. Kata dia, dolar playboy tak memberikan dampak nyata bagi ekonomi Indonesia.
Sama dolar playboy, yang playboy di Singapura itu. Dolar playboy sama dolar baper yang pada hari ini di Singapura itu,”
kata Budiman.
Lebih lanjut, dia menyampaikan strategi pemerintah saat ini adalah memperbanyak masuknya dolar yang berasal dari investasi langsung dan hasil ekspor. Jadi, bukan dolar yang hanya singgah sementara lalu meninggalkan Indonesia saat situasi berubah.
Ia menilai, penguatan rupiah dalam jangka panjang hanya bisa dicapai apabila Indonesia mampu meningkatkan produktivitas. Lalu, bisa memperbesar ekspor, serta menahan devisa hasil ekspor agar tetap berada di dalam negeri.
Tapi kalau dolar dalam bentuk Foreign Direct Investment, dolar dalam bentuk reward hasil ekspor. Produktivitas rakyat Indonesia yang hopefully akan dibangun lewat Koperasi Desa Merah Putih, lewat industrialisasi yang didanai oleh Danantara,”
tutur Budiman.


