Ketua Umum PDI Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri prihatin dengan kenaikan harga pangan yang terus terjadi. Megawati juga menyinggung aksi unjuk rasa yang dilakukan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Indonesia pada Jumat, 12 Juni 2026.
Dia mengaku menerima laporan harga cabai di wilayah Indonesia Timur sudah mencapai Rp180 ribu per kilogram. Maka itu, ia pun mendorong agar masyarakat mulai menanam cabai sendiri di rumah.
Pernyataan Megawati itu disampaikan di hadapan ribuan kader dan simpatisan PDIP saat peresmian renovasi Istana Gebang dan patung Bung Karno di Kota Blitar, Jawa Timur, Senin, 15 Juni 2026.
Presiden ke-5 RI itu sempat berdialog langsung dengan peserta acara mengenai harga kebutuhan pokok di daerah masing-masing.
Harga-harga di sini udah pada naik apa belum? Cabai harganya berapa? Rp100 ribu? Rp60 ribu? Di daerah timur saya dapat laporan cabai itu harganya Rp180.000. Wes ora usah mangan lombok, wes ora usah. Atau apa? Bikin gerakan menanam cabai di rumah sendiri,”
kata Megawati.
Menurutnya, kenaikan harga kebutuhan pokok merupakan persoalan yang langsung dirasakan masyarakat dan tidak boleh diabaikan.
Meski demikian, Megawati mengingatkan bahwa kritik terhadap kondisi ekonomi harus disampaikan melalui mekanisme yang sesuai dengan sistem ketatanegaraan. Apalagi, saat ini PDIP berada di luar pemerintahan.
Saya tahu harga udah pada naik. Tapi, saya juga tahu tata cara. Saya tidak ada dalam pemerintahan. Ya saya akan menyampaikan, tapi menyampaikannya ke siapa? Yaitu ke DPR dari fraksi PDIP. Gitu lho. Itu apa namanya? Itu tata cara, itu apa namanya? Etika dan moral,”
tuturnya.
Dalam pidatonya, Megawati juga menyinggung kondisi demokrasi dan kebebasan berpendapat. Ia menyoroti aksi demonstrasi mahasiswa termasuk yang dilakukan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UI.

Menurutnya, aksi BEM UI merupakan bagian dari hak warga negara dalam menyampaikan pendapat.
Kemarin saya lihat BEM UI itu demo. Wah, kok saya tuh mikir ‘ini sopo toh yo?‘ Ya apa boleh buat, polisinya toh, lalu Angkatan Daratnya. Terus saya tuh mikirnya begini. Mahasiswa itu masuk tidak sebagai warga negara Indonesia? Masuk! Itu menunjukkan apa? Hati kalian itu tidak teguh, Jadi mestinya jangan takut! Kalau iya ya iya, kalau tidak ya tidak,”
jelas Megawati.
Ia bahkan secara terbuka menyampaikan tak takut menyampaikan pandangannya.
Nah, saya berani ngomong gini, terus saya mau ditangkap? Ayo! Mana di sini ada polisi? Panggil sini!”
lanjutnya.
Di tengah berbagai kritik yang disampaikannya, Megawati menepis anggapan bahwa ia berseberangan dengan Presiden Prabowo Subianto.
Ia menegaskan hubungan persahabatannya dengan Prabowo tetap terjalin baik meski berada dalam posisi politik yang berbeda. Ia bilang dirinya dengan Prabowo bersahabat.
Tapi, kan harusnya dipisahkan, bersahabat ya bersahabat, tapi berpolitik kita bisa untuk apa? Untuk demokratisasi. Tapi saya bukan musuh dia, itu teman saya. Kamu lihat toh waktu 1 Juni? Aku kan gandengan sama dia, ketawa-ketawa,”
ujarnya.
Megawati menilai tak seharusnya ada pihak yang mencoba membenturkan dirinya dengan Presiden Prabowo demi kepentingan politik tertentu.
Selain menyoroti harga pangan di tingkat konsumen, Megawati juga mengaku prihatin terhadap kondisi petani. Ia kembali mengingatkan ajaran Bung Karno tentang pentingnya kedaulatan pangan dan kesejahteraan petani sebagai fondasi kekuatan bangsa.
Maka itu, Megawati menagih instruksi yang pernah dikeluarkannya pada 2021 kepada seluruh kader PDIP untuk menanam 10 jenis tanaman pangan pendamping beras sebagai langkah antisipasi krisis pangan.
Siapa yang sudah mengerjakan? Jangan sombong kalau jadi anggota PDI Perjuangan. Kalian tidak malu sama saya? Umur saya sudah mau 80 tahun, tapi saya masih bisa berteriak seperti ini. Mbok ya semangat!”
ujar Megawati.
Bagi Megawati, urusan pangan tetap menjadi persoalan paling mendasar yang harus mendapat perhatian serius dari seluruh pihak.
Artinya nomor satu untuk rakyat adalah makanan. Makanya kenapa saya tadi nanya harga sudah naik apa belum,”
tutur Megawati.


