Langkah Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka mengundang mahasiswa Universitas Bung Karno (UBK), ke Istana Wakil Presiden di tengah maraknya aksi demonstrasi menuai beragam respons. Di satu sisi, cara Gibran dinilai sebagai upaya membuka ruang dialog.
Namun di sisi lain, muncul anggapan manuver putra sulung Presiden ke-7 RI Joko Widodo atau Jokowi itu sebagai bagian dari strategi politik. Dengan cara itu dinilai sebagai upaya untuk membangun simpati publik di tengah meningkatnya kritik terhadap pemerintah.
Penulis buku Tere Liye menilai kemampuan memanfaatkan momentum politik bukan hal baru bagi keluarga Jokowi. Menurut dia, figur Jokowi selama ini piawai membaca situasi dan mengubahnya menjadi keuntungan politik.
Kalau soal memanfaatkan momen, keluarga Jokowi memang yang terbaik,”
tulis Tere Liye di akun media sosial Facebook pribadinya yang dikutip, Selasa, 16 Juni 2026.
Jokowi adalah politisi paling ahli soal ini. Mobil ESEMKA misalnya, itu benar-benar keren momennya,”
lanjutnya.
![Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka (tengah) berbincang dengan perwakilan mahasiswa pengunjuk rasa usai pertemuan di Istana Wakil Presiden, Jakarta, Senin (15/6/2026). [Foto: ANTARA FOTO/Fauzan].](https://www.owrite.id/wp-content/uploads/2026/06/Mahasiswa-temui-Wapres-Gibran-di-Istana-Wapres_Owrite.webp)
Cari Dukungan Publik
Ia bahkan menyebut Jokowi sebagai salah satu politisi yang sangat memahami pentingnya momentum dalam membangun citra dan dukungan publik.
Dikatakan dia, kemampuan itu tampaknya juga dimiliki oleh Gibran yang kini mulai aktif membangun komunikasi dengan berbagai kelompok masyarakat. Cara itu termasuk mahasiswa yang belakangan menjadi salah satu kelompok paling vokal mengkritik pemerintah.
Jadi, saya bisa memahami kalau anaknya juga jago. Mereka memang politisi yang hebat soal ini,”
tutur penulis novel ‘Terus Bodoh Jangan Pintar’ itu,
Meski mengakui kecakapan politik keluarga Jokowi dalam memanfaatkan momentum, Tere Liye mempertanyakan capaian konkret yang dihasilkan dari berbagai strategi politik tersebut.
Ia menuturkan, keberhasilan membangun persepsi publik harus diimbangi dengan kinerja yang dapat dirasakan masyarakat secara nyata.
Nah, kalau soal kinerja, prestasi, entahlah. Karena 10 tahun Jokowi berkuasa, itu pertumbuhan ekonomi B saja dibanding 10 tahun SBY,”
tambahnya.
Tere Liye juga menyoroti kondisi fiskal negara yang menurutnya harus menjadi bagian dari evaluasi terhadap kinerja pemerintahan selama satu dekade terakhir.
Dengan harga mahal sekali, utang naik 3x lipat lebih. Tidak spesial-spesialnya. Sama kayak ESEMKA,”
tutur Tere Liye.
Sebelumnya, perwakilan mahasiswa yang melakukan aksi di Patung Kuda, Jakarta bertemu dengan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka di Istana Wapres, pada Senin sore, 16 Juni 2026.
Ada belasan mahasiswa termasuk dari Universitas Bung Karno menemui Gibran. Mereka menyampaikan sejumlah tuntutan yang salah satunya minta pemerintah agar menghentikan sementara program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Mahasiswa ingin Gibran menyampaikan aspirasi mereka kepada Presiden RI Prabowo Subianto.

