Dengan menggunakan situs ini, kamu menyetujui Kebijakan Privasi and Ketentuan Penggunaan OWRITE.
Accept
Kamis, 18 Jun 2026
Linkbio
OWRITE Logo 2x OWRITE Dark Background Logo 2x
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum
  • Ekbis
  • WARGA SPILLNew
  • Sefruit
  • Lainnya
    • Hype
    • Internasional
    • Megapolitan
    • Daerah
Sign In
  •   ❍
  • Indeks Berita
  • Akun saya
  • Kirim Tulisan
  • Jadwal Piala Dunia
  • Headline
  • KPK
  • Korupsi
  • Sepak Bola
  • Purbaya
  • DPR
  • prabowo
  • MBG
  • iran
  • Prabowo Subianto
OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan DuniaOWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia
Font ResizerAa
  • Indeks Berita
  • Baca ulang
  • Koleksi
  • Eksplor
  • Politik
  • Nasional
  • Internasional
  • Hype
  • Ekonomi Bisnis
  • Megapolitan
  • Olahraga
  • Daerah
Search
  • Warga SpillNew
  • Politik
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi Bisnis
  • Hype
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Olahraga
  • Kelola Tulisan
  • Kirim Tulisan
  • Akun Saya
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Redaksi
  • Beriklan
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media
  • Kebijakan Privasi
© 2025 PT. OWRITE Media Digital.
Home / Politik / BEM ‘Mahasewa’ Pro Pemerintah Bermunculan, Pengamat: Waspada Suara Kritis Bisa Tak Didengar
Politik

BEM ‘Mahasewa’ Pro Pemerintah Bermunculan, Pengamat: Waspada Suara Kritis Bisa Tak Didengar

Rika Pangestidusep-malik
Last updated: Juni 18, 2026 3:37 pm
Rika Pangesti
Dusep Malik
Share
Kelompok mahasiswa yang mengatasnamakan BEM Bersatu.
Kelompok mahasiswa yang mengatasnamakan BEM Bersatu saat beri keterangan pers. (Foto: Istimewa).
SHARE

Fenomena munculnya dukungan terbuka sejumlah kelompok mahasiswa kepada pemerintah, seperti BEM Bersatu, disebut sebagai bagian dari dinamika demokrasi.

Daftar isi Konten
  • Ruang Suara kritis Menyempit
  • Dampak terhadap Kebijakan Publik

Namun, Peneliti The Indonesian Institute (TII), Adinda Tenriangke, mengingatkan bahwa hal itu berpotensi menggeser posisi suara kritis dalam perumusan kebijakan publik.

Menurut Adinda, persoalannya bukan pada munculnya kelompok pro-pemerintah di kalangan mahasiswa. Dalam sistem demokrasi, keberadaan kelompok yang mendukung maupun mengkritik pemerintah merupakan hal yang wajar.

Baca juga:
Gegara Sebut Kucing dan Radar Finder, Eks Ketua BEM UGM… Relawan Garda Prabowo mengadukan mantan ketua BEM UGM Tiyo Ardianto kepada Bareskrim…
Di Balik Fenomena BEM Bersatu, Pengamat Soroti Demokrasi Semu Era… Munculnya kelompok mahasiswa yang secara terang-terangan mendukung pemerintah, seperti BEM Bersatu dinilai…
BEM Bersatu Dukung MBG, Ada Dugaan Skenario Pecah Belah Gerakan… Kemunculan kelompok yang mengatasnamakan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Bersatu dengan bermanuver mendukung…
  • Gegara Sebut Kucing dan Radar Finder, Eks Ketua BEM UGM Diadukan ke…
  • Di Balik Fenomena BEM Bersatu, Pengamat Soroti Demokrasi Semu Era Prabowo
  • BEM Bersatu Dukung MBG, Ada Dugaan Skenario Pecah Belah Gerakan Mahasiswa

Ruang Suara kritis Menyempit

Aksi mahasiswa 'Menuju Indonesia Bangkrut' yang hendak menuju Bundaran HI, Jakarta.
Aksi mahasiswa ‘Menuju Indonesia Bangkrut’ yang hendak menuju Bundaran HI, Jakarta. (Foto: Rahmat Tunny).

Namun, ia menilai yang menjadi persoalan adalah ketika ruang bagi suara kritis justru menyempit.

Jangan sampai ada favoritism hanya kepada suara-suara yang pro-pemerintah yang tidak kritis, sementara suara yang kritis malah dikriminalisasi. Jika terjadi ketidakseimbangan akses, kita layak curiga kenapa kelompok pro diterima dengan baik, sementara kelompok kritis justru diabaikan,”

kata Adinda kepada Owrite.id, Kamis, 18 Juni 2026.

Ia menilai kualitas demokrasi tidak bisa diukur dari banyaknya dukungan terhadap pemerintah. Menurutnya, demokrasi yang sehat justru membutuhkan ruang kritik yang setara agar kebijakan publik tidak berjalan tanpa koreksi.

Demokrasi itu bukan soal tirani mayoritas atau soal siapa yang dukungannya paling banyak. Demokrasi bukan berarti ketika ada kelompok yang mendukung, lalu kebijakan yang sebenarnya salah dan perlu dikritisi dianggap menjadi benar dan tetap dijalankan,”

ujarnya.

Adinda juga menyoroti posisi mahasiswa sebagai bagian dari civitas akademika yang seharusnya berbasis pada argumentasi dan data dalam setiap sikap politiknya, baik mendukung maupun mengkritik pemerintah.

Menurut saya, justru yang perlu diuji adalah argumen dan datanya. Kita mengharapkan mahasiswa sebagai civitas akademika yang belajar teori, konsep, dan menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi dapat mengabdi kepada masyarakat. Mereka harus punya argumen berbasis data, bukan hanya sekadar bilang ‘pro harga mati’ tanpa dasar yang masuk akal,”

katanya.

Ia mengingatkan bahwa pembatasan terhadap suara kritis bukan hanya persoalan demokrasi, tetapi juga berdampak pada kualitas kebijakan publik.

Teman-teman media pasti tahu, ketika ada suara kritis dari masyarakat sipil, mereka cenderung dikriminalisasi. Hal ini menimpa dosen, mahasiswa, lembaga pusat studi, universitas, akademisi, buruh, nelayan hingga jurnalis,”

ujarnya.
Aksi demonstrate mahasiswa UI di Jan. MH. Thamrin, Jakarta Pusat.
Aksi demonstrate mahasiswa UI di Jan. MH. Thamrin, Jakarta Pusat. Doc: Rahmat Tunny

Dampak terhadap Kebijakan Publik

Adinda menilai kondisi tersebut berisiko langsung terhadap kualitas kebijakan publik. Ketika suara kritis tidak diberi ruang yang setara, proses perumusan kebijakan kehilangan mekanisme koreksi yang penting.

Jika suara yang pro lebih banyak lalu suara yang kritis dikesampingkan, di situlah letak masalahnya. Hal itu membuat kualitas perumusan kebijakan menjadi buruk karena prosesnya sengaja diatur untuk menciptakan kesan bahwa publik lebih banyak yang pro, sekaligus mengabaikan masukan konstruktif yang mewakili suara masyarakat yang tidak puas,”

jelasnya.

Ia menambahkan, dalam kondisi ideal, kebijakan publik seharusnya lahir dari proses deliberasi yang terbuka dan berbasis data, bukan hanya dari dominasi suara tertentu.

Menurutnya, kelompok sipil tandingan bukan faktor penentu kualitas kebijakan. Yang lebih penting adalah bagaimana negara memastikan seluruh elemen masyarakat, baik pro maupun kontra, memiliki akses yang setara dalam proses demokrasi.

Adinda juga menekankan pentingnya mekanisme mitigasi risiko dalam setiap kebijakan publik. Menurutnya, suara yang berbeda pandangan seharusnya tidak diabaikan, melainkan dijadikan bahan evaluasi.

Setidaknya suara yang kontra tersebut ditampung dan dijadikan pertimbangan untuk mitigasi risiko,”

katanya.

Ia menilai demokrasi yang sehat tidak bisa hanya bergantung pada dukungan mayoritas. Tanpa ruang kritik yang memadai, kebijakan publik berisiko menjadi bias dan tidak responsif terhadap kebutuhan masyarakat luas.

Kita sebenarnya hanya ingin sistem ini bekerja. Namun, jika sistem tidak bekerja, masyarakat harus berteriak dan berisik. Menurut saya, bersuara lantang adalah hal yang sehat dalam demokrasi, proses kebijakan, dan politik,”

jelasnya.
Baca juga:
Tak Terima Prabowo-Gibran Disentil, Oiwobo Seret Tiyo Ardianto ke Polisi:… Mantan Ketua BEM Universitas Gadjah Mada Tiyo Ardianto harus berurusan dengan kepolisian.…
BEM Psikologi UNJ Murka, Nama Organisasi Dicatut untuk Serang Aksi… Polemik aksi demonstrasi mahasiswa di kawasan Bundaran HI dan Patung Kuda, Jakarta…
Ricuh Diskusi UGM dan Cap Pengkhianat Reformasi, Substansi Kritik Mahasiswa… Insiden mahasiswa menggeruduk forum diskusi di kampus Universitas Gadjah Mada (UGM) yang…
  • Tak Terima Prabowo-Gibran Disentil, Oiwobo Seret Tiyo Ardianto ke Polisi: Jaga Adab…
  • BEM Psikologi UNJ Murka, Nama Organisasi Dicatut untuk Serang Aksi Demo Mahasiswa
  • Ricuh Diskusi UGM dan Cap Pengkhianat Reformasi, Substansi Kritik Mahasiswa Jangan Dikaburkan
Tag:BEMBEM BersatudemokrasiMahasewaMahasiswaPro PemerintahSuara Kritis
Share This Article
Email Salin Tautan Print
Rika Pangesti
ByRika Pangesti
Reporter
Follow:
Rika Pangesti adalah reporter di OWRITE yang berfokus pada peliputan isu megapolitan dan berita nasional. Berlatar pendidikan Magister Ilmu Komunikasi Politik dari Universitas Paramadina, ia memadukan pemahaman akademis dengan pengalaman lapangan — termasuk meliput untuk tvOnenews.com sejak 2022.
dusep-malik
ByDusep Malik
Redaktur
Follow:
Seorang senior editor di OWRITE Media, yang fokus pada pemberitaan seputar Bisnis, Ekonomi, Politik dan Peristiwa.
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Anda harus masuk untuk berkomentar.

Trending di OWRITE
Babak Baru Timur Tengah: Trump Teken Memorandum Damai dengan Iran
By Natania Longdong
Presiden AS Donald Trump teken kesepakatan perdamaian dengan Iran disaksikan Presiden Prancis Emmanuel Macron.
1
BEM Bersatu Dukung MBG, Ada Dugaan Skenario Pecah Belah Gerakan Mahasiswa
By Rika Pangesti
Kelompok mahasiswa yang mengatasnamakan BEM Bersatu.
2
Sindir Tokoh yang Berubah Haluan Usai Dapat Jabatan, Islah Bahrawi: Jijik Lihatnya!
By Rahmat Tunny
Presiden Prabowo Subianto (tengah) berjalan di ruangan untuk memimpin Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara
3
Baru Rilis, Lagu “Follow Me” yang Melibatkan Jihyo TWICE Langsung Bikin Fans Kaget
By Ossid Duha Jussas Salma
Jihyo TWICE
4
Mahasiswa UMY Amankan Pria Diduga Intel, Begini Klarifikasi Polda DIY
By Ani Ratnasari
Humas Polda DIY, Ihsan (kiri) dan Kabid Propam Polda DIY, Satya Widhy Widharyadi menyampaikan klarifikasi terkait miskomunikasi yang terjadi
5

BERITA LAINNYA

Menteri HAM RI Natalius Pigai.
Politik

Bela MBG, Menteri HAM Pigai Dikritik jadi Tameng Program Bermasalah

Figur Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) Natalius Pigai kembali jadi sorotan karena…

Rahmat Tunny OWRITEHardani Triyoga
By
Rahmat Tunny
Hardani Triyoga
2 jam lalu
Kelompok mahasiswa yang mengatasnamakan BEM Bersatu.
Politik

Di Balik Fenomena BEM Bersatu, Pengamat Soroti Demokrasi Semu Era Prabowo

Munculnya kelompok mahasiswa yang secara terang-terangan mendukung pemerintah, seperti BEM Bersatu dinilai…

Rika PangestiAmin-Suciady-Owrite
By
Rika Pangesti
Amin Suciady
2 jam lalu
Presiden Prabowo Subianto (tengah) berjalan di ruangan untuk memimpin Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara
Politik

Sindir Tokoh yang Berubah Haluan Usai Dapat Jabatan, Islah Bahrawi: Jijik Lihatnya!

Fenomena berubahnya sikap sejumlah tokoh politik setelah bergabung ke lingkar kekuasaan kembali…

Rahmat Tunny OWRITEAmin-Suciady-Owrite
By
Rahmat Tunny
Amin Suciady
4 jam lalu
Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) Natalius Pigai menyampaikan paparan pada rapat kerja dengan Komisi XIII DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (10/6/2026).
Politik

Keras! Guntur Romli: Pigai Lebih Bela Begal HAM daripada Anak Korban Keracunan MBG

Temuan Komnas HAM dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dinilai…

Rahmat Tunny OWRITEHardani Triyoga
By
Rahmat Tunny
Hardani Triyoga
4 jam lalu
OWRITE Logo 2x OWRITE Dark Background Logo 2x

Your Reading Dose, Right Here:
Tetap terhubung dengan berita terkini dan informasi terkini secara langsung. Dari politik dan teknologi hingga hiburan dan lainnya, kami menyediakan liputan langsung yang dapat Anda andalkan, menjadikan kami sumber berita tepercaya.

Info lainnya

  • Redaksi
  • Beriklan
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media
  • Kebijakan Privasi
FacebookLike
InstagramFollow
YoutubeSubscribe
TiktokFollow
© PT. OWRITE Media Digital. All Rights Reserved.
OWRITE Logo OWRITE Dark Background Logo 2x
Everything's gonna be owrite!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?

Not a member? Sign Up