Dengan menggunakan situs ini, kamu menyetujui Kebijakan Privasi and Ketentuan Penggunaan OWRITE.
Accept
Selasa, 4 Agu 2026
Linkbio
OWRITE Logo 2x OWRITE Dark Background Logo 2x
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum
  • Ekbis
  • WARGA SPILLNew
  • Sefruit
  • Lainnya
    • Hype
    • Internasional
    • Megapolitan
    • Daerah
Sign In
  •   ❍
  • Indeks Berita
  • Akun saya
  • Kirim Tulisan
  • Jadwal Piala Dunia
  • Headline
  • KPK
  • Sepak Bola
  • DPR
  • Korupsi
  • prabowo
  • Piala Dunia 2026
  • MBG
  • Purbaya
  • Prabowo Subianto
OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan DuniaOWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia
Font ResizerAa
  • Indeks Berita
  • Baca ulang
  • Koleksi
  • Eksplor
  • Politik
  • Nasional
  • Internasional
  • Hype
  • Ekonomi Bisnis
  • Megapolitan
  • Olahraga
  • Daerah
Search
  • Warga SpillNew
  • Politik
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi Bisnis
  • Hype
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Olahraga
  • Kelola Tulisan
  • Kirim Tulisan
  • Akun Saya
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Redaksi
  • Beriklan
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media
  • Kebijakan Privasi
© 2025 PT. OWRITE Media Digital.
Home / Politik / BEM ‘Mahasewa’ Pro Pemerintah Bermunculan, Pengamat: Waspada Suara Kritis Bisa Tak Didengar
Politik

BEM ‘Mahasewa’ Pro Pemerintah Bermunculan, Pengamat: Waspada Suara Kritis Bisa Tak Didengar

Rika Pangestidusep-malik
Last updated: Juni 18, 2026 6:04 pm
By
Rika Pangesti
Rika Pangesti
ByRika Pangesti
Reporter
Rika Pangesti adalah reporter di OWRITE yang berfokus pada peliputan isu megapolitan dan berita nasional. Berlatar pendidikan Magister Ilmu Komunikasi Politik dari Universitas Paramadina, ia memadukan...
Follow:
Dusep Malik
dusep-malik
ByDusep Malik
Redaktur
Seorang senior editor di OWRITE Media, yang fokus pada pemberitaan seputar Bisnis, Ekonomi, Politik dan Peristiwa.
Follow:
2 bulan lalu
Share
Kelompok mahasiswa yang mengatasnamakan BEM Bersatu.
Kelompok mahasiswa yang mengatasnamakan BEM Bersatu saat beri keterangan pers. (Foto: Istimewa).
SHARE

Fenomena munculnya dukungan terbuka sejumlah kelompok mahasiswa kepada pemerintah, seperti BEM Bersatu, disebut sebagai bagian dari dinamika demokrasi.

Daftar isi Konten
  • Ruang Suara kritis Menyempit
  • Dampak terhadap Kebijakan Publik

Namun, Direktur Eksekutif The Indonesian Institute (TII), Adinda Tenriangke, mengingatkan bahwa hal itu berpotensi menggeser posisi suara kritis dalam perumusan kebijakan publik.

Menurut Adinda, persoalannya bukan pada munculnya kelompok pro-pemerintah di kalangan mahasiswa. Dalam sistem demokrasi, keberadaan kelompok yang mendukung maupun mengkritik pemerintah merupakan hal yang wajar.

Baca juga:
RI Bukan Lagi Negara Demokrasi tapi Elektoral Autokrasi, Fungsi Kontrol… Peneliti dan Manajer Program Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) Saidiman Ahmad,…
Tak Lewat Demo Biasa, Mahasiswa Trisakti Pilih Mural dan Puisi… Mahasiswa Universitas Trisakti menggelar aksi bertajuk 'Seni Melawan, Suara Tak Terpadamkan' di…
Alarm Demokrasi, Kritik yang Diabaikan Pemerintah Bisa Picu Krisis Politik… Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan (PDIP) Hasto Kristiyanto mengingatkan pentingnya menjaga ruang kritik…
  • RI Bukan Lagi Negara Demokrasi tapi Elektoral Autokrasi, Fungsi Kontrol DPR Mandul
  • Tak Lewat Demo Biasa, Mahasiswa Trisakti Pilih Mural dan Puisi untuk Suarakan…
  • Alarm Demokrasi, Kritik yang Diabaikan Pemerintah Bisa Picu Krisis Politik hingga Sosial

Ruang Suara kritis Menyempit

Aksi mahasiswa 'Menuju Indonesia Bangkrut' yang hendak menuju Bundaran HI, Jakarta.
Aksi mahasiswa ‘Menuju Indonesia Bangkrut’ yang hendak menuju Bundaran HI, Jakarta. (Foto: Rahmat Tunny).

Namun, ia menilai yang menjadi persoalan adalah ketika ruang bagi suara kritis justru menyempit.

Jangan sampai ada favoritism hanya kepada suara-suara yang pro-pemerintah yang tidak kritis, sementara suara yang kritis malah dikriminalisasi. Jika terjadi ketidakseimbangan akses, kita layak curiga kenapa kelompok pro diterima dengan baik, sementara kelompok kritis justru diabaikan,”

kata Adinda kepada Owrite, Kamis, 18 Juni 2026.

Ia menilai kualitas demokrasi tidak bisa diukur dari banyaknya dukungan terhadap pemerintah. Menurutnya, demokrasi yang sehat justru membutuhkan ruang kritik yang setara agar kebijakan publik tidak berjalan tanpa koreksi.

Demokrasi itu bukan soal tirani mayoritas atau soal siapa yang dukungannya paling banyak. Demokrasi bukan berarti ketika ada kelompok yang mendukung, lalu kebijakan yang sebenarnya salah dan perlu dikritisi dianggap menjadi benar dan tetap dijalankan,”

ujarnya.

Adinda juga menyoroti posisi mahasiswa sebagai bagian dari civitas akademika yang seharusnya berbasis pada argumentasi dan data dalam setiap sikap politiknya, baik mendukung maupun mengkritik pemerintah.

Menurut saya, justru yang perlu diuji adalah argumen dan datanya. Kita mengharapkan mahasiswa sebagai civitas akademika yang belajar teori, konsep, dan menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi dapat mengabdi kepada masyarakat. Mereka harus punya argumen berbasis data, bukan hanya sekadar bilang ‘pro harga mati’ tanpa dasar yang masuk akal,”

katanya.

Ia mengingatkan bahwa pembatasan terhadap suara kritis bukan hanya persoalan demokrasi, tetapi juga berdampak pada kualitas kebijakan publik.

Teman-teman media pasti tahu, ketika ada suara kritis dari masyarakat sipil, mereka cenderung dikriminalisasi. Hal ini menimpa dosen, mahasiswa, lembaga pusat studi, universitas, akademisi, buruh, nelayan hingga jurnalis,”

ujarnya.
Aksi demonstrate mahasiswa UI di Jan. MH. Thamrin, Jakarta Pusat.
Aksi demonstrate mahasiswa UI di Jan. MH. Thamrin, Jakarta Pusat. Doc: Rahmat Tunny

Dampak terhadap Kebijakan Publik

Adinda menilai kondisi tersebut berisiko langsung terhadap kualitas kebijakan publik. Ketika suara kritis tidak diberi ruang yang setara, proses perumusan kebijakan kehilangan mekanisme koreksi yang penting.

Jika suara yang pro lebih banyak lalu suara yang kritis dikesampingkan, di situlah letak masalahnya. Hal itu membuat kualitas perumusan kebijakan menjadi buruk karena prosesnya sengaja diatur untuk menciptakan kesan bahwa publik lebih banyak yang pro, sekaligus mengabaikan masukan konstruktif yang mewakili suara masyarakat yang tidak puas,”

jelasnya.

Ia menambahkan, dalam kondisi ideal, kebijakan publik seharusnya lahir dari proses deliberasi yang terbuka dan berbasis data, bukan hanya dari dominasi suara tertentu.

Menurutnya, kelompok sipil tandingan bukan faktor penentu kualitas kebijakan. Yang lebih penting adalah bagaimana negara memastikan seluruh elemen masyarakat, baik pro maupun kontra, memiliki akses yang setara dalam proses demokrasi.

Adinda juga menekankan pentingnya mekanisme mitigasi risiko dalam setiap kebijakan publik. Menurutnya, suara yang berbeda pandangan seharusnya tidak diabaikan, melainkan dijadikan bahan evaluasi.

Setidaknya suara yang kontra tersebut ditampung dan dijadikan pertimbangan untuk mitigasi risiko,”

katanya.

Ia menilai demokrasi yang sehat tidak bisa hanya bergantung pada dukungan mayoritas. Tanpa ruang kritik yang memadai, kebijakan publik berisiko menjadi bias dan tidak responsif terhadap kebutuhan masyarakat luas.

Kita sebenarnya hanya ingin sistem ini bekerja. Namun, jika sistem tidak bekerja, masyarakat harus berteriak dan berisik. Menurut saya, bersuara lantang adalah hal yang sehat dalam demokrasi, proses kebijakan, dan politik,”

jelasnya.
Baca juga:
PDIP Minta Prabowo Tak Reaktif Hadapi Kritik, Soroti Pentingnya Think… Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan (PDIP) Hasto Kristiyanto menilai kritik publik terhadap pemerintah…
RUU Sisdiknas Disorot, Hilangnya Komite Sekolah Dinilai Berbahaya bagi Dunia… Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) mengkritik draf Rancangan Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional…
TII Soroti Pernyataan Prabowo, Narasi Antek Asing dari Pemimpin Dinilai… Direktur Eksekutif The Indonesian Institute (TII) Adinda Tenriangke Muchtar, meyoroti pembangunan nasional…
  • PDIP Minta Prabowo Tak Reaktif Hadapi Kritik, Soroti Pentingnya Think Tank Kredibel
  • RUU Sisdiknas Disorot, Hilangnya Komite Sekolah Dinilai Berbahaya bagi Dunia Pendidikan
  • TII Soroti Pernyataan Prabowo, Narasi Antek Asing dari Pemimpin Dinilai Berbahaya
Tag:BEMBEM BersatudemokrasiMahasewaMahasiswaPro PemerintahSuara Kritis
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Salin Tautan
Rika Pangesti
ByRika Pangesti
Reporter
Follow:
Rika Pangesti adalah reporter di OWRITE yang berfokus pada peliputan isu megapolitan dan berita nasional. Berlatar pendidikan Magister Ilmu Komunikasi Politik dari Universitas Paramadina, ia memadukan pemahaman akademis dengan pengalaman lapangan — termasuk meliput untuk tvOnenews.com sejak 2022.
dusep-malik
ByDusep Malik
Redaktur
Follow:
Seorang senior editor di OWRITE Media, yang fokus pada pemberitaan seputar Bisnis, Ekonomi, Politik dan Peristiwa.
Trending di OWRITE
Elektabilitas Prabowo Merosot, Berbeda dengan SBY dan Jokowi yang Justru Menguat di Awal Kuasa
By Ani Ratnasari
Presiden Prabowo Subianto memberikan pidato saat menghadiri peringatan Harlah ke-28 PKB di Jakarta, Kamis (23/7/2026).
1
Usai Kalah Telak dari Vietnam, John Herdman Akui Timnas Indonesia Kalah Taktik
By Hadi Febriansyah
Pelatih Timnas Indonesia, John Herdman
2
Ketika Lapangan Tua Menolak Pensiun: PHI Manfaatkan Inovasi dan Teknologi Jaga Mimpi Besar RI
By Dusep Malik
Pengeboran Lepas Pantai di Kalimantan Timur, (Sumber: Dok. Pertamina)
3
Kejagung ‘Aduk-Aduk’ Kantor Don Ritto, Buru Jejak Uang Panas Kasus Febrie
By Rahmat Baihaqi
Ilustrasi penggeledahan oleh tim Kejaksaan Agung.
4
Perkuat Pengamanan di Objek Vital, Polri Tegaskan Kondisi Keamanan Masih ‘Adem Ayem’
By Rahmat Baihaqi
Ilustrasi pengamanan oleh Polri.
5

BERITA LAINNYA

Wakil Ketua Komisi III DPR RI, Ahmad Sahroni
Politik

Sahroni Usul Lembaga Baru Kelola Aset Sitaan, Kejaksaan dan KPK Tak Lagi Urus Sendiri

Wakil Ketua Komisi III DPR RI Ahmad Sahroni mengusulkan pengelolaan aset hasil…

Rika PangestiHardani Triyoga
By
Rika Pangesti
Hardani Triyoga
28 menit lalu
Ilustrasi RUU Perampasan Aset yang tengah disorot.
Politik

Demokrat Beberkan Tantangan RUU Perampasan Aset: Jangan Merampas Kalau Ujungnya jadi Ampas!

Komisi III DPR RI mengingatkan agar negara tak boleh hanya fokus menyita…

Rika PangestiHardani Triyoga
By
Rika Pangesti
Hardani Triyoga
1 jam lalu
Warga menggunakan hak pilihnya pada Pemilihan Wali Nagari (Pilwana) serentak di TPS 23 Talao Mundam, Padang Pariaman, Sumatera Barat. (ANTARA FOTO/Fitra Yogi).
Politik

Dear DPR dan Prabowo! Status Quo Revisi UU Pemilu Lebih Berbahaya, Jangan Ulangi Kesalahan

Peneliti Kepemiluan dan Demokrasi Indonesia yang juga Dosen Hukum Tata Negara Universitas…

Hardani TriyogaAmin-Suciady-Owrite
By
Hardani Triyoga
Amin Suciady
3 jam lalu
Gambar lambang sejumlah partai politik
Politik

Pemisahan Pemilu Untungkan Parpol, Rakyat Kini Lebih Mudah Menghukum Partai Penguasa

Pemisahan pemilu nasional dan daerah pascaputusan Mahkamah Konstitusi (MK) akan memperbesar pengaruh…

Rahmat Tunny OWRITEAmin-Suciady-Owrite
By
Rahmat Tunny
Amin Suciady
3 jam lalu
OWRITE Logo 2x OWRITE Dark Background Logo 2x

Your Reading Dose, Right Here:
Tetap terhubung dengan berita terkini dan informasi terkini secara langsung. Dari politik dan teknologi hingga hiburan dan lainnya, kami menyediakan liputan langsung yang dapat Anda andalkan, menjadikan kami sumber berita tepercaya.

Info lainnya

  • Redaksi
  • Beriklan
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media
  • Kebijakan Privasi
FacebookLike
InstagramFollow
YoutubeSubscribe
TiktokFollow
© PT. OWRITE Media Digital. All Rights Reserved.
OWRITE Logo OWRITE Dark Background Logo 2x
Everything's gonna be owrite!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?

Not a member? Sign Up