Pidato Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dinilai mencerminkan strategi politik partai berlambang mercy itu untuk menjaga posisi di pemerintahan Prabowo Subianto. Cara itu dilakukan Demokrat agar tanpa kehilangan identitas sebagai partai yang tetap bisa kritis.
Direktur Eksekutif Aljabar Strategic Indonesia Arifki Chaniago menilai Demokrat tengah mencari posisi tengah, loyal sebagai bagian dari pemerintahan. Namun, tetap jaga jarak politik untuk mempertahankan pemilih yang kritis.
Demokrat sedang mencari posisi di tengah. Mereka ingin tetap berada di dalam pemerintahan Prabowo. Tetapi, tidak ingin seluruh identitas politiknya ikut melebur menjadi identitas pemerintah,”
kata Arifki kepada Owrite, Selasa, 8 September 2026.
Menurutnya, strategi tersebut menunjukkan Demokrat tak ingin mengambil risiko keluar dari pemerintahan. Namun, juga menyadari bahwa terlalu larut dalam kekuasaan bisa membuat partai kehilangan segmen pemilih yang selama ini mengharapkan sikap kritis.
Demokrat tidak ingin keluar dari pemerintahan, tetapi juga tidak ingin keluar dari radar pemilih yang kritis,”
ujarnya.
Dijelaskan dia, Demokrat masih punya ruang untuk dukung pemerintahan yang kuat dan efektif. Strategi politik itu dimainkan Demokrat dengan menjaga identitas politiknya sendiri.
Partai tersebut bisa beri dukungan terhadap kebijakan pemerintah yang jadi bagian dari komitmen koalisi. Namun, tetap mengingatkan agar kekuasaan tak berjalan tanpa kontrol.
Mereka bisa tetap mendukung pemerintah yang kuat dan efektif, sekaligus mengingatkan bahwa kekuasaan harus dibatasi dan kritik wajib dihormati,”
jelas Arifki.
Karena itu, posisi Demokrat di dalam pemerintahan tak harus berarti seluruh sikap politik partai melebur dengan pemerintah.
Menurut Arifki, partai tetap bisa loyal terhadap pemerintahan dalam agenda yang jadi kesepakatan koalisi. Hal itu sembari mempertahankan ruang untuk menyampaikan kritik saat terdapat kebijakan yang dinilai menyangkut kepentingan publik.
Loyal kepada pemerintahan dalam hal-hal yang memang menjadi komitmen koalisi. Tetapi, tetap memiliki jarak yang cukup untuk menyampaikan kritik dan memperjuangkan kepentingan publik,”
tuturnya.
Dia menilai Demokrat seperti ingin perlihatkan ke publik terkait antara bagian dari pemerintah tapi ada sisi lainnya.
AHY seperti sedang mengatakan kepada publik: kami bagian dari pemerintahan, tetapi kami bukan pemerintah,”
lanjut Arifki.
Namun, strategi tersebut menurutnya tidak akan mudah. Publik akan melihat apakah sikap kritis Demokrat benar-benar diwujudkan dalam tindakan politik atau hanya menjadi narasi untuk menjaga citra partai.
Publik tentu akan menguji konsistensinya. Jangan sampai sikap kritis ini hanya menjadi kosmetik politik semata,”
tuturnya.
Lebih lanjut, Arifki menuturkan jika Demokrat ingin tetap dapat kepercayaan dari pemilih kritis maka partai harus berani menunjukkan perbedaan secara nyata ketika ada kebijakan pemerintah yang layak dikritisi.
Bahkan, menurutnya, Demokrat pada titik tertentu harus siap mengambil pilihan politik yang lebih tegas jika posisi di dalam pemerintahan justru membuat ruang kritik semakin sempit.
Demokrat harus berani menunjukkan perbedaan nyata ketika ada kebijakan yang perlu dikritisi, atau bahkan mengambil keputusan yang lebih berani dengan berada di luar pemerintahan,”
ujar Arifki.






















