Komedian Ben Dhanio menyindir gaya komunikasi sejumlah figur yang disebut mewakili Istana dalam menyampaikan isu kepada publik.
Menurutnya, sebuah persoalan semestinya dijelaskan dengan dasar yang masuk akal dan dapat diterima secara rasional, bukan menggunakan klaim atau referensi yang justru membuat masyarakat mempertanyakan kebenarannya.
Saya yakin beliau juga bisa ngasih penjelasan bahwa sebenarnya ikan pari itu nggak ada. Itu semuanya anak durhaka,”
kata Ben menyindir Stafsus KSP Ulta Levenia soal Anak Gunung Krakatau, Kamis, 10 September 2026.
Sindiran tersebut dilontarkan Ben sebagai gambaran mengenai pola komunikasi yang menurutnya dapat digunakan untuk menjelaskan berbagai teori atau klaim yang terdengar absurd.
Ia menyentil cara penyampaian yang dinilai bisa membuat persoalan serius justru terasa seperti cerita fiksi. Tak berhenti di situ, Ben kemudian melontarkan sejumlah contoh lain yang terdengar tidak lazim sebagai bentuk sindiran terhadap penggunaan klaim tanpa dasar yang kuat.
Hitler benar-benar mati di Garut. Marilyn Manson itu bisa nyambung tulang rusuknya sendiri,”
sindirnya.
Dikatakan Ben, persoalan komunikasi menjadi semakin problematis ketika sebuah klaim dibangun menggunakan referensi yang tidak semestinya dijadikan dasar utama dalam menjelaskan persoalan publik.
Referensi Karya Fiksi
Ia kemudian menyinggung penggunaan karya fiksi sebagai referensi dalam menjelaskan persoalan politik maupun kebijakan pemerintah.
Jika standar tersebut digunakan, menurut Ben berbagai cerita fiksi pun dapat dianggap sebagai dasar untuk memperkuat sebuah klaim.
Jadi, sama-sama lah. Sama-sama suka fiksi. Saya juga kalau ditanya Godzilla ada atau tidak saya kayaknya percaya,”
ucap Ben.
Lebih jauh dia menyoroti figur yang disebutnya memiliki latar belakang pendidikan mentereng. Namun, menurut Ben, latar belakang akademik seseorang tidak otomatis membuat setiap gagasan yang disampaikan dapat diterima tanpa dipertanyakan.
Itu semua bisa dijelaskan dengan sangat baik oleh Mba Levenia loh. Keren banget itu,”
jelasnya.
Bagi Ben, persoalan komunikasi publik bukan hanya menyangkut siapa yang menyampaikan pesan, tetapi juga bagaimana pesan tersebut dibangun dan diterima masyarakat.
Ketika penjelasan dianggap tidak masuk akal atau menggunakan referensi yang sulit dipertanggungjawabkan, pesan yang hendak disampaikan pemerintah berpotensi kehilangan substansinya.
Lebih Hati-hati
Karena itu, Ben menilai pemerintah perlu lebih berhati-hati dalam memilih referensi dan cara menjelaskan sebuah persoalan kepada publik.
Komunikasi yang baik semestinya membantu masyarakat memahami persoalan, bukan justru membuat batas antara fakta, opini, dan fiksi semakin kabur.
Ia bahkan kembali menggunakan karakter fiksi sebagai bahan sindiran untuk menggambarkan kritiknya terhadap pola komunikasi tersebut.
Saya juga kalau ditanya Godzilla ada atau tidak saya kayaknya percaya. Ada sebenarnya,”
tutup Ben.





















