Pernah nggak sih kamu bilang “iya” padahal sebenarnya kamu nggak nyaman? Atau otomatis jadi terlalu ramah, terlalu nurut, dan susah nolak cuma karena takut orang lain marah, kecewa, atau ninggalin kamu?
Kalau iya, bisa jadi kamu relate sama yang namanya fawn response. Belakangan ini istilah itu mulai sering muncul di sosial media, dan konten self awareness banyak Gen Z yang baru sadar kalau kebiasaan mereka ‘terlalu nggak enakan’ ternyata ada penjelasan psikologisnya juga.
Dan jujur aja, banyak yang langsung bilang ‘loh, ini gue banget’
Sebenarnya, Fawn Response itu Apa?
Dalam psikologi, kita biasanya kenal respons saat menghadapi stres atau situasi yang nggak nyaman sebagai fight, flight, atau freeze. Tapi ternyata ada satu lagi yang sering nggak dibahas, yaitu fawn response.
Fawn respons adalah pola saat seseorang mencoba ‘bertahan’ dengan cara menyenangkan orang lain. Jadi bukannya melawan atau kabur, mereka malah jadi terlalu nurut, terlalu menjaga perasaan orang, susah ngomong ‘nggak’, atau otomatis mencoba bikin semua orang nyaman.
Tujuannya yah, biar konflik nggak terjadi dan hubungan tetap aman dan tentram.
Kenapa Banyak Gen Z Jadi Relate?
Karena banyak kebiasaan ini yang kelihatan normal banget sehari-hari. Contohnya takut bikin orang kecewa, nggak enakan nolak ajakan, minta maaf terus-terusan walau nggak ada salah, atau lebih mending bikin capek diri sendiri daripada bikin suasana awkward.
Dan seringnya, itu dilakukan otomatis tanpa sadar. Makanya waktu banyak orang pertama kali dengar istilah fawn response reaksinya sering “pantesan aku kayak gini terus”
Fawn Response Beda Sama Sekedar Bak
Ini yang sering bikin salah paham. Orang dengan fawn response bukan berarti fake atau manipulatif. Banyak dari mereka memang tulus peduli sama orang lain.
Tapi bedanya, mereka sering merasa harus menjaga kenyamanan semua orang supaya dirinya tetap diterima. Yang mana akhirnya mereka jadi susah punya boundaries, takut konflik, dan sering mengabaikan kebutuhan diri sendiri.
Padahal dalam hati mereka sebenarnya capek juga.
Kenapa Pola Ini Bisa Kebentuk?
Biasanya pola ini muncul karena seseorang terbiasa merasa bahwa marah itu berbahaya, konflik harus dihindari, atau kasih sayang harus “didapatkan” dengan jadi anak baik, orang baik, atau pasangan yang selalu mengerti.
Makanya banyak orang dengan fawn response tumbuh jadi pribadi yang sangat peka sama mood orang lain.
Sedikit ada perubahan nada bicara aja langsung kepikiran. Orang lain bad mood sedikit langsung merasa bersalah. Karena otaknya selalu mikir “kalau semua orang nyaman, berarti aku aman”
Yang Bikin Capek, Mereka Sering Lupa Sama Diri Sendiri
Di luar, orang dengan fawn response biasanya terlihat ramah, gampang diajak, pengertian, dan jarang marah. Tapi di dalam? mereka sering capek sendiri karena terlalu banyak menahan perasaan.
Bahkan kadang bingung sama apa yang sebenarnya mereka mau karena terlalu sering mengikuti orang lain.
Dan itu kenapa banyak Gen Z yang relate banget sama istilah ini. Karena ternyata, kebiasaan selalu mengalah dan takut bikin orang lain kecewa nggak selalu cuma soal “kepribadian”. Kadang itu cara bertahan yang kebentuk pelan-pelan.
Terus Harus Gimana Dong?
Punya empati dan peduli sama orang lain itu bukan hal yang buruk. Tapi kalau semuanya dilakukan sampai mengorbankan diri sendiri, lama-lama yang hilang justru rasa aman buat diri sendiri juga,
Belajar bilang ‘nggak’, belajar jujur sama diri sendiri, dan belajar punya batas. Itu bukan berarti jahat.
Kadang itu cuma tanda kalau kamu mulai sadar bahwa kebutuhan kamu juga penting.
Jangan lupa follow instagram @sefruitmedia buat yang konten relate bang sama kamu.

