Lewati ke konten

OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia

Your Reading Dose, Right Here

Sefruit

Orang Tua Narsistik Itu Seperti Apa? Kenali Cirinya

Perilaku egois orang tua tidak serta-merta menunjukkan gangguan kepribadian narsistik (NPD) karena diagnosis tersebut memerlukan asesmen profesional. Berbagai penelitian membuktikan kecenderungan narsisme pada orang tua memengaruhi pola asuh dan kondisi sosio-emosional anak, namun penting untuk tidak sembarangan melabeli seseorang hanya karena adanya konflik komunikasi sehari-hari.

Orang Tua Narsistik Itu Seperti Apa? Kenali Cirinya
https://www.owrite.id/wp-content/uploads/2026/09/1-1.webp

Pernah merasa setiap ngobrol sama orang tua, ujung-ujungnya selalu balik membahas mereka? Atau ketika kamu berhasil melakukan sesuatu, responsnya malah seperti, “Itu kan karena Mama/Papa yang ngajarin”?

Kalau pernah, jangan buru-buru menyimpulkan orang tua kamu punya Narcissistic Personality Disorder (NPD). Istilah “narsistik” memang sering dipakai sehari-hari, tetapi NPD merupakan kondisi kesehatan mental yang jauh lebih kompleks dan hanya bisa didiagnosis oleh profesional.

Menurut American Psychiatric Association, NPD ditandai antara lain oleh pola grandiositas, kebutuhan kuat akan kekaguman, dan kurangnya empati yang berlangsung menetap dalam berbagai situasi.

Iklan

Dalam konteks parenting, beberapa pola perilaku bisa membuat hubungan orang tua dan anak menjadi lebih sulit.

  1. Anak Jadi “Cerminan” Orang Tua Orang tua dengan kecenderungan narsistik bisa melihat pencapaian anak sebagai bagian dari citra dirinya. Akibatnya, prestasi anak mungkin sangat dibanggakan, sementara pilihan anak yang tidak sesuai ekspektasi justru sulit diterima.
  2. Sulit Menerima Kritik Ketika merasa dikritik atau ditolak, orang dengan karakteristik narsistik bisa memberikan respons yang sangat defensif. Jadi, obrolan sederhana seperti “Aku kurang nyaman kalau Mama ngomong begitu” bisa berubah menjadi konflik panjang.
  3. Butuh Validasi dari Anak Hubungan orang tua-anak juga bisa menjadi tidak seimbang ketika orang tua terlalu membutuhkan perhatian, pujian, atau dukungan emosional dari anak. Dalam beberapa kasus, anak bahkan bisa merasa harus menjaga emosi orang tuanya.
  4. Kurang Memahami Perasaan Anak Penelitian Kyle P. Rawn, Peggy S. Keller, dan Thomas A. Widiger dalam Psychological Reports menemukan bahwa beberapa aspek narsisme orang tua berkaitan dengan pola parenting yang kurang positif dan dapat berhubungan dengan masalah sosio-emosional pada anak. Sementara itu, systematic review terbaru oleh Eirini Orovou, Vaidas Jotautis, Eleni Vousoura, Ioannis Koutelekos, Nikolaos Rigas, dan Antigoni Sarantaki menemukan bahwa narsisme orang tua berkaitan dengan kualitas hubungan orang tua-anak dan kesejahteraan psikologis anak, meski dampaknya berbeda tergantung tipe dan konteks narsismenya.

Yang penting, satu atau dua perilaku tidak otomatis berarti seseorang punya NPD. Jadi, jangan asal memberikan label hanya karena orang tua pernah egois, keras kepala, atau sulit meminta maaf.

Jangan lupa share artikel ini dan follow Instagram @sefruitmedia untuk informasi menarik lainnya, ya!

Iklan

Topik terkait

Penulis dan penyunting

  • Writer

    a little chaotic, a little curious, and always in my own world. here for the random moments, unexpected stories, new interests, and everything in between.

  • Editor

    Editor berita di OWRITE Media, meliput pemberitaan gaya hidup dan Peristiwa.