Iran dan Amerika Serikat (AS) akan mengadakan putaran ketiga pembicaraan nuklir, pada Kamis, 26 Februari 2026, di Jenewa. Pertemuan ini dilakukan di tengah meningkatnya kekhawatiran tentang risiko konflik militer antara kedua negara yang telah lama berseteru.
Diketahui, AS telah meningkatkan kehadiran militernya di Timur Tengah, dengan Presiden AS Donald Trump memperingatkan pekan lalu bahwa hal-hal yang sangat buruk akan terjadi jika tidak ada kesepakatan yang tercapai untuk menyelesaikan perselisihan yang telah berlangsung lama mengenai program nuklir Teheran.
Senang untuk mengkonfirmasi bahwa negosiasi AS-Iran sekarang dijadwalkan di Jenewa pada hari Kamis ini, dengan dorongan positif untuk melangkah lebih jauh menuju penyelesaian kesepakatan,”
kata Menteri Luar Negeri Oman Badr Albusaidi, yang bertindak sebagai mediator dalam pembicaraan tidak langsung antara Washington dan Teheran.
Reuters juga melaporkan pada Minggu, 22 Februari 2026, waktu setempat, bahwa Iran menawarkan konsesi baru terkait program nuklirnya untuk mencapai kesepakatan, asalkan kesepakatan tersebut mencakup pencabutan sanksi ekonomi dan pengakuan hak Teheran untuk pengayaan nuklir secara damai.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian, menyatakan optimisme pada Minggu lalu dalam sebuah unggahan di X, dengan mengatakan bahwa negosiasi baru-baru ini telah menghasilkan sinyal yang menggembirakan, sambil menunjukkan kesiapan Teheran untuk skenario potensial apa pun.
Trump Penasaran Mengapa Iran Belum Menyerah
Sedangkan, Utusan khusus Trump, Steve Witkoff, yang memimpin negosiasi nuklir di pihak AS, mengatakan pada Sabtu, 21 Februari 2026, bahwa presiden AS penasaran mengapa Iran belum “menyerah” dan setuju untuk membatasi program nuklirnya.
Saya tidak ingin menggunakan kata ‘frustrasi,’ karena dia (Trump) mengerti bahwa dia memiliki banyak alternatif, tetapi dia penasaran mengapa mereka belum (setuju soal kesepakatan nuklir). Saya tidak ingin menggunakan kata ‘menyerah,’ tetapi mengapa mereka belum menyerah,”
kata Witkoff, dikutip dari ABC News, Senin, 23 Februari 2026.
Mengapa, di bawah tekanan ini, dengan kekuatan laut dan angkatan laut yang ada di sana, mengapa mereka belum datang kepada kita dan berkata, ‘Kami menyatakan bahwa kami tidak menginginkan senjata, jadi inilah yang siap kami lakukan,’ Namun agak sulit untuk membuat mereka sampai ke titik itu,”
tambahnya.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi bereaksi dalam sebuah unggahan di X, dengan menuliskan, “Penasaran mengapa kami tidak menyerah? Karena kami adalah orang Iran.“
Ia juga mengatakan dalam sebuah wawancara dengan CBS News bahwa solusi diplomatik dengan AS masih dapat dicapai.
Pembicaraan tidak langsung tahun lalu tidak menghasilkan kesepakatan apa pun, terutama karena gesekan atas tuntutan AS agar Iran menghentikan pengayaan uranium di wilayahnya, yang dipandang Washington sebagai jalan menuju bom nuklir. Namun, Iran membantah berupaya mendapatkan senjata semacam itu.
AS-Israel Serang Situs Nuklir Iran
Diketahui, AS juga bergabung dengan Israel dalam menyerang situs nuklir Iran pada Juni 2025, yang secara efektif membatasi pengayaan uranium Iran, dengan Trump mengatakan bahwa situs-situs nuklir utamanya telah “dimusnahkan”. Namun, Iran masih diyakini memiliki persediaan uranium yang telah diperkaya sebelumnya.
Mereka telah memperkaya uranium jauh melebihi jumlah yang dibutuhkan untuk senjata nuklir sipil. Tingkat kemurnian fisilnya mencapai 60 persen,”
ujar Witkoff.
Mereka mungkin hanya tinggal seminggu lagi untuk memiliki bahan pembuatan bom nuklir kelas industri, dan itu sangat berbahaya,”
tambahnya.
Sementara itu, konsesi baru yang sedang dipertimbangkan Iran termasuk mengirimkan setengah dari uranium yang telah diperkaya tinggi ke luar negeri sambil mengurangi sisanya.
Washington juga berupaya memperluas pembicaraan di luar isu nuklir untuk mencakup program rudal Iran dan dukungannya terhadap kelompok-kelompok bersenjata regional.
Topik gesekan lainnya adalah ruang lingkup dan mekanisme pencabutan sanksi terhadap Iran. Seorang pejabat senior Iran mengatakan kepada Reuters bahwa Iran dan AS masih memiliki pandangan yang berbeda.
Witkoff juga mengatakan bahwa atas arahan Trump, ia telah bertemu dengan tokoh oposisi Iran, Reza Pahlavi, putra Shah yang digulingkan dalam Revolusi Islam Iran tahun 1979. Namun, ia tidak memberikan detail lebih lanjut tentang pertemuan tersebut.
Pahlavi, yang hidup di pengasingan, berperan sebagai tokoh penggerak bagi sebagian oposisi Iran selama demonstrasi anti-pemerintah bulan lalu yang diyakini telah menewaskan ribuan orang, kerusuhan domestik terburuk sejak era revolusi.
Awal Februari lalu, Pahlavi mengatakan intervensi militer AS di Iran dapat menyelamatkan nyawa, dan mendesak Washington untuk tidak terlalu lama bernegosiasi dengan penguasa ulama Teheran mengenai kesepakatan nuklir.


