Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa merespons keputusan pemerintah China yang menurunkan target pertumbuhan ekonomi pada 2026 di kisaran 4,5-5 persen, atau ke level terendah dalam 30 tahun terakhir. Pasalnya, China merupakan salah satu mitra dagang terbesar Indonesia.
Purbaya mengaku tidak khawatir efek perlambatan ekonomi China ke RI. Sebab, ekonomi RI 90 persen digerakkan oleh permintaan domestik, dan sisanya berasal dari eksternal.
Domestik ekonomi memberi kontribusi sekitar 90 persen ke perekonomian, jadi yang eksternal kira-kira 10 persen. Kalau saya jaga yang 90 persen, yang 10 persen melambat pun enggak terlalu apa-apa,”
ujar Purbaya dalam media briefing di Kemenkeu, Jakarta, dikutip Minggu, 8 Maret 2026.
Meski demikian, Purbaya tidak akan membiarkan pelemahan ekonomi China memengaruhi kinerja ekspor RI. Ia menyatakan, pemerintah akan menciptakan daya saing RI, salah satunya dengan memberikan bantuan terhadap eksportir.
Jadi potensi market kita di sana masih ada asal kita pintar-pintar menjaga daya saing produk kita. Nanti kita akan bantu perusahaan-perusahaan eksportir untuk bisa bersaing di pasar global lewat LPEI dan alat instrumen yang kita punya,”
imbuhnya.
Adapun berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), China merupakan negara tujuan ekspor non migas terbesar Indonesia sepanjang 2025. Ekspor non migas ke negara ini mencapai US$64,82 miliar atau sekitar 24,02 persen dari total ekspor non migas pada 2025.
Ekspor yang paling banyak dilakukan RI utamanya adalah besi dan baja sebesar US$17,92 miliar atau memberikan kontribusi 27,65 persen. Kemudian bahan bakar mineral sebesar US$10,47 miliar atau 16,16 persen, serta nikel dan barang daripadanya US$7,86 miliar atau 12,13 persen.
Sebelumnya, Ekonom sekaligus Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira mengatakan penyesuaian yang dilakukan oleh China akan memberikan dampak terhadap ekspor Indonesia. Sebab, China merupakan mitra dagang terbesar Indonesia.
Bhima menuturkan, efek yang paling terasa untuk Indonesia adalah ekspor produk hilirisasi mulai dari nikel, bauksit, hingga barang tambang. Kinerja ekspor komoditas tersebut berpotensi mengalami kontraksi.
Bhima memproyeksi ekonomi RI hanya akan tumbuh di 4,97 persen pada 2026. Menurutnya, setiap 1 persen pelemahan pertumbuhan ekonomi China dampaknya 0,05 persen ke ekonomi Indonesia.
Kalau China turun dari 5 persen ke 4,5 persen atau berkurang 0,5 persen maka ekonomi Indonesia bisa terpengaruh 0,025 persen alias tahun ini ekonomi Indonesia tumbuh 4,97 persen, jika asumsi tumbuh 5 persen year on year,”
ujar Bhima kepada owrite.

