Perang di Timur Tengah kian menyeret perekonomian Iran yang rapuh menjadi terpuruk. Inflasi tinggi dan anjloknya mata uang negara itu menjadi momok, karena sebelum konflik Iran sudah berada di bawah tekanan akibat sanksi.
Berdasarkan laporan dari CNBC, dikutip Minggu, 26 April 2026, inflasi di Iran mencapai 50 persen pada tahun 2025. Sedangkan nilai mata uang rial anjlok 60 persen dalam beberapa bulan setelah perang 12 hari melawan AS pada Juli lalu.
Inflasi pangan melonjak hingga 64 persen pada Oktober tahun lalu, dan terus naik menjadi 105 persen pada Februari. Harga roti dan sereal naik 140 persen, serta minyak dan lemak naik 219 persen sejak awal tahun hingga Maret 2026.
Sementara itu, bank-bank Iran mulai mendistribusikan uang kertas pecahan 10 juta rial pada bulan lalu, dan menjadikan pecahan dengan nilai terbesar dalam sejarah. Hal itu dilakukan untuk menekan inflasi dan memenuhi permintaan uang tunai.
Ekonomi Iran Menyusut 6,1 Persen
Berdasarkan laporan, International Monetary Fund (IMF) memproyeksikan, ekonomi Iran akan menyusut sebesar 6,1 persen pada 2026. Kemudian inflasi sebesar 68,9 persen, dan mata uang anjlok menjadi 1,32 juta rial per dolar AS.
Iran sendiri belum merilis data Produk Domestik Bruto (PDB) sejak 2024. Kemudian pemadaman internet yang meluas telah membuat statistik domestik tidak dapat diakses di luar negeri.
Adapun penutupan Selat Hormuz dan blokade AS telah memutus sebagian besar perdagangan internasional Iran, termasuk ekspor minyak. Karena lebih dari 90 persen perdagangan tahunannya melewati selat tersebut.
Ketegangan yang kembali memuncak di tengah blokade AS. berpotensi memangkas 70 persen pendapatan ekspor Iran. Perang tersebut juga telah memicu anjloknya permintaan domestik dan impor.
Di samping itu, Amerika Serikat juga mengancam akan menjatuhkan sanksi baru terhadap bank-bank China yang memfasilitasi transaksi terkait Iran.
Tekanan gabungan dari blokade dan ancaman sanksi terhadap bank-bank China ini akan membebani ekonomi Iran. Peneliti Senior di Brookings Institution obin Brooks mengatakan, ekonomi Iran terancam menerima pukulan lebih berat.
Hal ini menutup salah satu jalur utama kehidupan ekonomi Teheran, dan mempercepat titik di mana neraca pembayaran Iran menemui jalan buntu. Efektivitas blokade ini dan ketakutan yang ditimbulkannya di Iran akan membawa Teheran kembali ke meja perundingan dengan itikad baik,”
kata Brooks.
Ekonomi Iran Kebal Sanksi
Sementara, itu Anggota Dewan Quincy Institute for Responsible Statecraft Amir Handjani mengatakan, meskipun Iran mengalami inflasi mendalam dan kontraksi pertumbuhan, negara itu kemungkinan tidak akan menghadapi kehancuran ekonomi total.
Dia menuturkan, Iran sudah terbiasa menghadapi sanksi internasional yang berat selama hampir lima dekade, dan negara itu telah memiliki sistem transaksi energi yang dapat menghindari sanksi AS.
Selama perjanjian damai tercapai dengan Amerika Serikat yang mencabut sanksi dan membebaskan ekonomi Iran dari ‘kotak penalti’ yang telah dialaminya selama empat dekade, Iran dapat pulih lebih cepat daripada yang diperkirakan banyak orang,”
kata Handjani.
Butuh Satu Dekade Pulihkan Ekonomi Iran
Menurut media lokal Iran, para pejabat ekonomi senior Iran sudah memperingatkan Presiden Masoud Pezeshkian bahwa pemulihan ekonomi yang hancur akibat perang mungkin membutuhkan waktu lebih dari satu dekade.
Gubernur Bank Sentral Abdolnaser Hemmati juga dilaporkan telah mendesak Pezeshkian, untuk mengambil langkah-langkah mendesak. Hal ini untuk menstabilkan ekonomi, termasuk memulihkan sepenuhnya akses internet, dan mengupayakan kesepakatan damai dengan AS.
Akan tetapi analis mempertanyakan, kecepatan Teheran memperbaiki kerusakan pada infrastruktur energi dan industri yang menjadi tulang punggung pendapatan ekspor dan penyerapan tenaga kerja.

