Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan, pertumbuhan ekonomi RI pada kuartal I-2026 tumbuh sebesar 5,61 persen secara tahunan atau year on year (yoy). Pertumbuhan ini lebih tinggi dibandingkan kuartal I-2025 yang sebesar 4,87 persen secara yoy.
Kepala Badan Pusat Statistik, Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan, pertumbuhan ekonomi pada kuartal I-2026 utamanya disumbang oleh konsumsi rumah tangga sebesar 54,36 persen.
Pada kuartal I 2026 secara yoy seluruh komponen pengeluaran tumbuh positif, komponen pengeluaran yang memberikan kontribusi besar terhadap PDB adalah konsumsi rumah tangga dengan kontribusi sebesar 54,36 persen dan tumbuh 5,52 persen,”
ujar Amalia dalam konferensi pers Selasa, 5 Mei 2026.
Selain konsumsi rumah tangga, pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 juga disumbang oleh Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) yang sebesar 28,29 persen atau tumbuh 5,96 persen.
Kontribusi total kedua komponen ini yaitu konsumsi rumah tangga dan PMTB memberikan kontribusi sebesar 82,65 persen terhadap total PDB,”
jelasnya.

Indikator Utama PDB Kuartal I-2026
| Indikator | Nilai | Keterangan |
| Pertumbuhan Ekonomi (yoy) | 5,61% | Lebih tinggi dari Q1-2025 (4,87%) |
| Motor Utama Ekonomi | Konsumsi Rumah Tangga | Kontribusi 54,36% terhadap PDB |
| Wilayah Pertumbuhan Tertinggi | Bali & Nusa Tenggara | Tumbuh 7,93% |
Realisasi Pembayaran THR dan MBG
Adapun komponen dengan pertumbuhan tertinggi yaitu berasal dari konsumsi pemerintah. Hal ini didorong oleh peningkatan realisasi belanja pegawai melalui realisasi pembayaran Tunjangan Hari Raya (THR), serta belanja barang dan jasa terutama untuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Serta belanja barang dan jasa terutama pada belanja barang yang diserahkan kepada masyarakat berupa program Makan Bergizi Gratis (MBG),”
jelas Amalia.
Amalia melanjutkan, untuk sumber pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal I-2026 adalah konsumsi rumah tangga sebesar 2,94 persen. Kemudian PMTB dengan sumber pertumbuhan 1,79 persen, konsumsi pemerintah 1,26 persen.
Bila dirinci, tingginya pertumbuhan konsumsi rumah tangga sejalan dengan momentum hari besar keagamaan dan peningkatan mobilitas masyarakat. Pertumbuhan tertinggi terjadi pada kelompok restoran dan hotel sebesar 7,38 persen sejalan dengan meningkatnya kegiatan wisata selama liburan.
Lalu untuk PMTB, pertumbuhan didorong oleh investasi pemerintah seperti program prioritas nasional serta investasi. Dalam hal ini pertumbuhan tertinggi terjadi pada sub komponen kendaraan tumbuh sebesar 12,39 persen, sub komponen mesin dan perlengkapan tumbuh 10,78 persen, dan peningkatan realisasi investasi sebesar 7,22 persen.
Sedangkan untuk konsumsi pemerintah tumbuh seiring dengan peningkatan realisasi belanja. Hal ini didorong oleh peningkatan realisasi belanja pegawai sejalan dengan pembayaran THR, pengangkatan Aparatur Sipil Negara (ASN) baru, serta peningkatan barang dan jasa.
Faktor Pendorong Pertumbuhan Sektoral
| Sektor/Sub-Komponen | Pertumbuhan | Faktor Pendorong Utama |
| Restoran & Hotel | 7,38% | Liburan keagamaan & peningkatan mobilitas |
| Kendaraan (PMTB) | 12,39% | Investasi alat angkut |
| Mesin & Perlengkapan | 10,78% | Ekspansi investasi fisik |
| Konsumsi Pemerintah | (Tertinggi) | Pembayaran THR, rekrutmen ASN, & Makan Bergizi Gratis (MBG) |
Bali dan Nusa Tenggara Jadi Pertumbuhan Tertinggi
Amalia mengatakan, untuk pertumbuhan ekonomi di kuartal I-2026 semua wilayah tercatat tumbuh positif. Namun, secara spasial pertumbuhan ekonomi tertinggi terjadi di wilayah Bali dan Nusa Tenggara sebesar 7,93 persen.
Lalu diikuti oleh Sulawesi sebesar 6,95 persen, Jawa 5,79 persen, Sumatera tumbuh 5,13 persen, Maluku dan Papua sebesar 4,46 persen, serta Kalimantan 4,08 persen.
Pertumbuhan Ekonomi Berdasarkan Wilayah (Spasial)
| Peringkat | Wilayah | Pertumbuhan (yoy) |
| 1 | Bali dan Nusa Tenggara | 7,93% |
| 2 | Sulawesi | 6,95% |
| 3 | Jawa | 5,79% |
| 4 | Sumatera | 5,13% |
| 5 | Maluku dan Papua | 4,46% |
| 6 | Kalimantan | 4,08% |


