27 negara mengambil langkah untuk mengakses dana darurat dari World Bank atau Bank Dunia. Negara tersebut berencana menerapkan instrumen krisis untuk mengakses pendanaan tersebut
Dilansir dari The Straits Times, Senin, 25 Mei 2026, hal tersebut diketahui dari dokumen internal yang dilihat oleh Reuters. Namun, dokumen Bank Dunia tersebut tidak menyebutkan nama negara maupun total dana yang kemungkinan diajukan.
Dokumen tersebut hanya menunjukkan bahwa tiga negara telah menyetujui instrumen baru sejak konflik di Timur Tengah yang dimulai pada 28 Februari. Sementara negara-negara lainnya masih dalam proses penyelesaian.
Kenya dan Irak Cari Pinjaman
Perang dan gangguan yang ditimbulkan terhadap pasar energi global telah menghantam rantai pasok dunia, dan menghambat pengiriman pupuk penting ke negara-negara berkembang.
Para pejabat di Kenya dan Irak telah mengonfirmasi bahwa mereka sedang mencari dukungan keuangan cepat dari Bank Dunia untuk menangani dampak perang. Dampak itu mulai dari melonjaknya harga bahan bakar yang menghantam negara Afrika, hingga penurunan besar-besaran dalam pendapatan minyak bagi Irak.
27 negara tersebut termasuk di antara 101 negara yang memiliki akses ke berbagai bentuk instrumen pembiayaan yang telah disepakati sebelumnya dan dapat dimanfaatkan saat terjadi krisis. Di antaranya 54 negara mendaftar pada Rapid Response Option, yang memungkinkan negara menggunakan hingga 10 persen dari pembiayaan yang belum dicairkan.
Presiden Bank Dunia Ajay Banga bulan lalu mengatakan pihaknya telah menyiapkan perangkat krisis yang memungkinkan banyak negara untuk memanfaatkan pembiayaan sekitar US$20 miliar hingga US$25 miliar.
Bank Dunia juga dapat mengalihkan sebagian portofolio untuk meningkatkan total dana menjadi US$60 miliar dalam enam bulan, dengan kemungkinan perubahan jangka panjang lebih lanjut untuk meningkatkan total menjadi sekitar US$100 miliar.
Sementara itu, Direktur Pelaksana International Monetary Fund (IMF) Kristalina Georgieva memperkirakan belasan negara akan mengajukan permohonan bantuan jangka pendek sekitar US$20 miliar hingga US$50 miliar dari lembaga keuangan global tersebut. Namun, menurut tiga sumber yang mengetahui persoalan itu, baru sedikit permintaan yang tercatat.
“Negara-negara jelas masih dalam mode menunggu dan melihat perkembangan,”
kata salah satu sumber yang berbicara dengan syarat anonim.
Purbaya Tolak Pinjaman
Negara lain berupaya memenuhi kocek, beda dengan Indonesia. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan telah menolak tawaran pinjaman dari Bank Dunia dan IMF sebesar US$40 miliar atau Rp686 triliun (asumsi Rp17.148 per dolar AS).
Saat ini pemerintah masih memiliki Saldo Anggaran Lebih (SAL) senilai US$25 miliar atau Rp428,7 triliun. Sehingga, Indonesia belum akan berutang.
“World Bank dan IMF menawarkan pinjaman, (mereka) punya uang sampai US$40 miliar dolar, US$35 miliar. Kalau kamu mau pake boleh itu dibagi untuk beberapa negara yang membutuhkan,”
ujar Purbaya di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Selasa, 21 April 2026.
Penolakannya ini pun mendapat respons negatif dari kedua lembaga internasional tersebut. Ia menyatakan dalam kondisi apapun pemerintah masih akan mengandalkan keuangan negara dan APBN sebagai shock absorber.
“Saya bilang sama dia, ‘sekarang saya belum butuh’. Karena saya sendiri punya persediaan hampir US$25 miliar untuk Indonesia, jadi aman. Wah, mukanya asem karena dia gak (berhasil) pinjamkan duit, mereka gak bisa dapet bunga,”
aku Purbaya.


