Melemahnya nilai tukar rupiah sudah memberikan dampak terhadap kenaikan harga barang di masyarakat, bahkan pekerja kini terancam terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Tercatat rupiah sempat menyentuh level Rp17.900 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan hari ini.
Ketua Umum Gabungan Importir Nasional Seluruh Indonesia (GINSI), Subandi mengatakan pelemahan rupiah saat ini telah membebani pelaku importir. Sebab, mereka harus menambah modal untuk menjalankan usahanya.
Misalkan dulu dengan Rp100 miliar dapat sekian ratus ton barang. Dengan pelemahan rupiah yang menjadi Rp17.900 itu berarti harus ada penambahan modal belanjanya saja sudah di Rp20 miliar. Artinya kalau sebelumnya Rp100 miliar sekarang harus Rp120 miliar,”
ujar Subandi saat dihubungi Owrite.id Jumat, 29 Mei 2026.
Subandi mengeluhkan, selain harus menambah modal, pengusaha juga terkena tambahan pajak atas barang impor baik Pajak Penghasilan (PPh), Pajak Pertambahan Nilai (PPN), bea masuk, hingga biaya logistik.
Harga Barang Naik
Maka dari itu, Subandi mengatakan agar industri tetap bisa survive, dilakukan sejumlah strategi. Hal ini diantaranya menaikkan harga jual barang di masyarakat.
Pertama adalah resikonya menaikkan harga jual barang. Harga jual barang itu pasti harus naik, kalau tidak jatuhnya jadi rugi,”
jelasnya.
Ia mengungkapkan, hampir semua produk yang di impor sudah mulai naik seperti bahan makanan, besi dan baja, hingga produk-produk kimia termasuk obat-obatan.
Hampir semua produk itu sudah mulai naik harganya. Misalkan bahan makanan gitu sekarang sudah mulai naik juga tuh. Besi naik, baja naik, kimia, obat-obatan juga sudah naik,”
terangnya.
Namun, Subandi menyebut tidak semua barang bisa dinaikkan harganya oleh pelaku usaha. Sebab, kondisi psikologis masyarakat mempengaruhi daya beli yang kini tengah menurun.
Masyarakat kita kalau melihat barang menjadi naik, yang tadi niat beli menjadi tidak beli. Nah itu yang kemudian harus disiasati, barangnya naik tapi tidak ada yang beli, resiko barang itu rusak tidak terserap kan di pasar atau di tingkat konsumen. Resiko barang menjadi rusak, nah kalau rusak ruginya tambah besar,”
paparnya.
Maka dari itu, banyak dari pelaku usaha menyiasati pelemahan rupiah ini dengan mengurangi volume. Langkah ini salah satunya dilakukan oleh importir kedelai.
Misalkan importir kedelai, bahan baku tahu tempe mau tidak mau, tahu tempenya ukurannya yang diperkecil, harganya tetap, atau makan minuman lah, mililiternya itu dikurangi, volume-nya dikurangi, tapi harganya tetap,”
jelasnya.
Ancaman PHK
Subandi menjelaskan, ada konsekuensi yang harus ditanggung dari penurunan volume impor ini, yakni aktivitas industri ikut turun. Artinya, pekerja terkena dampak kehilangan sebagian penghasilan.
Kalau produktivitasnya menurun, maka yang tadinya kerjaan misalkan satu hari 3 shift, itu akan dikurangi 2 shift. Dan ini sudah banyak dilakukan di industri-industri ini karena menghindari pemutusan hubungan kerja, perusahaan itu pada dasarnya tidak mau melakukan pemutusan hubungan kerja,”
jelasnya.
Menurutnya, hampir 70 persen industri berorientasi impor sudah mengarah melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), bila rupiah terus menerus terperosok.
Kalau berkepanjangan kan pasti merugi perusahaan, kalau merugi perusahaan mau tidak mau akan terjadi pemotifkan hubungan kerja. Mungkin hampir semua lah ya 70 persenan itu industri-industri yang berbahan baku impor itu sudah mulai mengarah ke sana kalau situasi tidak membaik gitu,”
terangnya.
Subandi mengatakan, untuk saat ini pengusaha masih mencegah agar tidak terjadi PHK, salah satunya dengan melakukan pengurangan waktu masuk kerja.
Perusahaan itu pada dasarnya tidak mau melakukan pemutusan hubungan kerja. Jadi jangan pemerintah kemudian menyalahkan perusahaan yang mem-PHK karyawan, karena tidak ada di dalam pemilik perusahaan itu ingin PHK karyawan, itu tidak ada. Kecuali situasinya tidak memungkinkan dia mempertahankan karyawan, mau gajinya gimana,”
jelasnya.
Perusahaan Berpotensi Gulung Tikar
Dalam skenario terburuk, Subandi mengatakan pelaku usaha bisa saja menutup bisnisnya bila rupiah terus saja melemah menembus level Rp20.000 per dolar AS.
Karena dengan semakin dalam pelemahan rupiah, maka pelaku usaha akan menghadapi beban berat untuk bertahan.
Apalagi kalau sampai tembus misalkan di level Rp20.00 misalkan, itu udah kayaknya collapse gitu,”
jelasnya.
Untuk itu, ia meminta agar pemerintah bisa meyakinkan para pelaku usaha agar tetap bisa optimis bahwa rupiah akan kembali menguat. Subandi meminta, pemerintah melakukan intervensi nilai tukar secara serius.
Ya pemerintah mengintervensi lah sehingga benar-benar tidak menganggap remeh atau tidak menganggap gampang kondisi penguatan mata uang atau pelemahan mata uang rupiah terhadap mata uang asing. Karena ini pasti berdampak bukan hanya masyarakat perkotaan, masyarakat desa pun pasti berdampak,”
imbuhnya.
Dia menyebut, bila dilihat trend saat ini pengusaha masih pesimis terkait kondisi nilai tukar rupiah. Sebab, dari hari ke hari nilai tukar terus saja melemah melawan dolar AS.
Makanya pemerintah harus benar-benar serius ingin mengatasi persoalan penguatan mata uang asing terhadap mata uang rupiah, dan memberikan rasa optimis gitu loh agar supaya pengusaha ini masih benar-benar punya harapan akan pulih kembali situasinya,”
tambahnya.


