Kementerian Haji dan Umrah buka suara terkait laporan sejumlah jemaah haji asal Bangkalan, Jawa Timur, yang tidak mendapatkan makanan saat berada di Mina. Persoalan tersebut bukan disebabkan kekurangan konsumsi, melainkan karena kekacauan prosedur distribusi.
Juru Bicara Kementerian Haji dan Umrah Ichsan Marsha menegaskan bahwa makanan sebenarnya telah tersedia sejak awal.
“Berdasar hasil pemeriksaan kami, makanan untuk jemaah sebenarnya telah tersedia. Kendala yang terjadi adalah ketidaksesuaian prosedur distribusi, sehingga sebagian makanan tidak tercatat dalam mekanisme serah-terima. Akibatnya, petugas harus mengecek satu per satu ke setiap tenda untuk memastikan seluruh jemaah telah menerima makanan,”
terang Ichsan di Makkah, Minggu, 31 Mei 2026.
Pihaknya telah berkoordinasi dengan pihak syarikah untuk mengevaluasi sistem distribusi agar persoalan serupa tidak kembali terjadi pada tahapan layanan berikutnya.
“Kami telah meminta pihak syarikah untuk memastikan seluruh distribusi konsumsi dilakukan sesuai prosedur, termasuk pemberitahuan kepada petugas pengawas konsumsi dan pencatatan serah terima yang jelas. Langkah ini penting agar distribusi dapat dipantau secara akurat dan hak-hak jemaah terpenuhi tepat waktu,”
ucap dia.
Kementerian juga mengapresiasi kepada petugas lapangan yang bergerak cepat melakukan pengecekan, dan penyaluran ulang hingga seluruh jemaah mendapatkan layanan konsumsi sebagaimana mestinya.
Peristiwa ini menjadi peringatan penting bagi penyelenggara haji agar pengawasan distribusi logistik diperketat, terutama pada fase-fase krusial saat jutaan jemaah menjalani rangkaian ibadah di tengah kepadatan aktivitas dan cuaca ekstrem di Tanah Suci.
Masalah
Insiden itu terjadi pada hari pertama kedatangan jemaah di Mina, Rabu, 27 Mei 2026 yang melibatkan kelompok terbang SUB-72. Hasil penelusuran menunjukkan adanya ketidaksesuaian mekanisme penyaluran makanan, antara pihak syarikah dan petugas pengawas konsumsi di Markaz 71.
Dalam prosedur yang berlaku, makanan seharusnya diserahkan terlebih dahulu kepada petugas pengawas konsumsi sebelum didistribusikan kepada jemaah. Namun, pihak syarikah disebut langsung menaruh makanan di area tengah gang, tanpa memberitahukan petugas yang bertanggung jawab.
Akibatnya, tidak terdapat dokumen serah-terima yang menjadi bukti distribusi resmi. Kondisi tersebut membuat petugas kesulitan memetakan kelompok jemaah yang sudah menerima konsumsi maupun yang belum mendapatkan haknya.
Demi mengatasi persoalan itu, petugas kemudian melakukan pemeriksaan langsung ke seluruh tenda jemaah. Proses verifikasi dan distribusi ulang dilakukan satu per satu guna memastikan tidak ada jemaah yang terlewat.
Langkah tersebut memakan waktu cukup lama karena petugas harus memeriksa seluruh lokasi secara menyeluruh. Distribusi baru dinyatakan tuntas setelah seluruh jemaah dipastikan menerima makanan pada sore hari.


