Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) RI Natalius Pigai, melontarkan kritik kepada aparat penegak hukum dan lembaga pemerintah yang dinilai gagal menghentikan maraknya perundungan (bullying) serta ujaran kebencian di media sosial.
Pigai bahkan mengaku dirinya sendiri kerap menjadi korban rasisme, namun tidak pernah melihat adanya tindakan nyata dari aparat. Menurutnya, bullying bukan sekadar kenakalan di ruang digital, melainkan kejahatan yang harus diberantas secara serius oleh seluruh elemen, mulai dari pemerintah, aparat penegak hukum, platform digital, hingga masyarakat.
Saya kan dari dulu sikap saya jelas, bullying itu adalah salah satu kejahatan yang harus dieliminir oleh seluruh komponen,”
kata Pigai di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu, 15 Juli 2026.
Pigai menilai, negara sebenarnya memiliki instrumen yang cukup untuk memantau dan menghentikan kekerasan verbal di media sosial. Namun, ia mempertanyakan mengapa kewenangan tersebut tidak dimanfaatkan secara maksimal.







