Tim pencarian dan penyelamatan di Filipina, pada Kamis, 11 Juni 2026 masih terus melanjutkan upaya pencarian puluhan orang yang masih hilang. Korban hilang itu pascagempa bumi dahsyat melanda Filipina Selatan.
Gempa bumi berkekuatan 7,8 skala Richter di lepas pantai Mindanao yang terjadi pada Senin, 8 Juni 2026, itu menewaskan sedikitnya 47 orang. Lalu, lebih dari 480 lainnya luka-luka.
Otoritas pejabat di Filipina menyampaikan sekitar 45.000 orang telah mengungsi. Adapun lebih dari 3.100 rumah rusak.
Upaya pemulihan juga diperumit oleh lebih dari 2.000 gempa susulan sejak gempa awal, beberapa di antaranya mencapai 6,4 skala Richter.
Ini situasi yang sangat berbahaya. Ada banyak tantangan,”
kata Drew Strobel, manajer operasional di Federasi Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah (IFRC) dikutip dari Channel News Asia, pada Kamis, 11 Juni 2026.
Strobel menyampaikan tim penyelamat perlu berhati-hati saat masuk untuk mengeluarkan korban dari bangunan yang runtuh.
Komponen keselamatan adalah sesuatu yang sangat kami perhatikan,”
lanjut Strobel.
IFRC dan mitra lokalnya, Palang Merah Filipina, sedang menilai kebutuhan dan memberikan bantuan darurat di daerah yang terkena dampak.
Sementara itu, lembaga-lembaga bantuan mengatakan bahwa menjangkau komunitas terpencil tetap menjadi salah satu tantangan terbesar, dengan jalan yang rusak dan jembatan yang runtuh membuat beberapa daerah pedesaan tidak dapat diakses.
Tim penyelamat juga berpacu dengan jendela waktu kritis yakni 72 jam. Kondisi itu secara luas dianggap sebagai periode terpenting untuk menemukan korban selamat yang terjebak di bawah reruntuhan, telah berakhir.
Saat ini, banyak fokus tertuju pada daerah perkotaan, tetapi masih banyak daerah pedesaan yang belum dievaluasi, dan daerah-daerah tersebut terhalang oleh jalan dan jembatan yang rusak,”
jelas Strobel.
Strobel menuturkan akses ke beberapa komunitas terpencil itu benar-benar merupakan tantangan.
Kami fokus untuk menjangkau daerah-daerah terpencil tersebut guna memberikan bantuan yang menyelamatkan nyawa. Sampai kami sampai ke sana, pekerjaan kami belum selesai,”
lanjutnya.
Organisasi kemanusiaan juga memprioritaskan air bersih, makanan, sanitasi, dan layanan kesehatan bagi masyarakat yang terdampak.
Palang Merah Filipina pun sudah mendirikan tenda-tenda medis sebagai pengganti fasilitas rumah sakit yang rusak. Selain itu, menyediakan perawatan medis darurat serta layanan ambulans.
Pemerintah juga telah meluncurkan permohonan darurat untuk mendukung distribusi bantuan, penyediaan air bersih, bantuan tempat tinggal, dukungan psikososial, dan bantuan lainnya bagi keluarga yang terdampak.
Ini adalah keadaan darurat yang kompleks dan berskala besar yang masih berlangsung. Kami fokus pada dukungan yang menyelamatkan nyawa, tetapi dibutuhkan upaya bantuan berkelanjutan untuk benar-benar membantu orang pulih,”
ujar Strobel.
Dia menambahkan bahwa kerusakan pada rumah sakit, jalan raya, dan infrastruktur listrik telah mempersulit upaya untuk mengangkut pasien.
Ada banyak upaya yang perlu dilakukan untuk menemukan cara alternatif untuk mengangkut pasien ke rumah sakit yang lebih besar yang masih beroperasi,”
katanya.
Adapun gempa bumi tersebut jadi salah satu yang terkuat dalam sejarah Filipina selama setengah abad terakhir. Gempa juga terjadi pada hari pertama tahun ajaran bagi jutaan siswa di seluruh Mindanao.
Departemen Pendidikan mengatakan lebih dari 1.000 sekolah negeri terdampak, dan kegiatan belajar mengajar masih ditangguhkan.
Presiden Ferdinand Marcos Jr. sudah memperingatkan dampak traumatis yang berpotensi dialami anak-anak. Ia juga mengumumkan pelatihan khusus bagi para guru untuk membantu siswa mengatasi bencana tersebut.
Kelompok-kelompok bantuan juga memperingatkan tentang dampak psikologis jangka panjang, terutama pada anak-anak dan keluarga yang telah kehilangan rumah dan orang-orang terkasih.
Dampak psikososial (mungkin) diremehkan. Kami telah melakukan upaya berkelanjutan dalam layanan kesehatan mental dan psikososial, yang dapat diterima oleh masyarakat. (Kami) hadir bersama komunitas-komunitas ini untuk membantu mereka dalam pemulihan jangka panjang,” .
jelas Strobel.
Sementara, ribuan orang masih berada di pusat-pusat evakuasi. Selain itu, masih banyak warga yang takut kembali ke rumah di tengah gempa susulan yang terus berlanjut.
Pihak berwenang dan kelompok bantuan mengatakan pemulihan diperkirakan akan memakan waktu berbulan-bulan.

