Polemik aksi demonstrasi mahasiswa di kawasan Bundaran HI dan Patung Kuda, Jakarta Pusat, tengah jadi sorotan. Ada dugaan pencatutan terhadap Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Negeri Jakarta (BEM FPsi UNJ) yang dipakai untuk menyerang aksi demonstrasi mahasiswa.
BEM FPsi UNJ beri penjelasan dengan mengeluarkan pernyataan resmi. Dalam pernyataannya, BEM FPsi UNJ menyampaikan pihaknya dicatut oleh segelintir mahasiswa dengan mengatasnamakan organisasi.
BEM FPsi UNJ menegaskan tak pernah beri persetujuan kepada pihak mana pun untuk menggunakan ataupun mewakili organisasi tersebut.
BEM FPsi UNJ TIDAK PERNAH memberikan persetujuan kepada pihak tersebut untuk MEWAKILKAN dan menggunakan nama ‘BEM FPsi UNJ’,”
demikian pernyataan BEM FPsi, Rabu, 17 Juni 2026.
BEM FPsi UNJ juga mengklarifikasi bahwa individu yang terlibat dalam aktivitas tersebut bukan merupakan bagian dari kepengurusan aktif organisasi mahasiswa tahun 2026. Individu yang terlibat dalam kegiatan itu merupakan alumni FPsi UNJ angkatan 2020.
Dan, BUKAN bagian dari anggota/kepengurusan aktif BEM FPsi UNJ 2026, sehingga tindakan maupun pandangan yang disampaikan merupakan tanggung jawab pribadi pihak tersebut,”
tulis pernyataan itu.
Organisasi mahasiswa itu menyebut tindakan penggunaan nama lembaga tanpa persetujuan sebagai pelanggaran etika yang serius. Maka itu, mereka meminta pihak yang bersangkutan menyampaikan permintaan maaf secara terbuka.
Kami sangat menyayangkan adanya pelanggaran etik tersebut dan atas tindakan tersebut, yang bersangkutan diminta untuk menyampaikan permohonan maaf kepada BEM FPsi UNJ atas ketidaknyamanan serta dampak yang ditimbulkan,”
lanjut pernyataan tersebut.
Sebagai organisasi yang berada di lingkungan akademik psikologi, BEM FPsi UNJ menegaskan pentingnya menjunjung nilai-nilai etika, integritas, dan penghormatan terhadap persetujuan dalam setiap tindakan.
Sebagai organisasi di lingkungan akademik Psikologi, kami meyakini bahwa etika, penghormatan terhadap persetujuan (consent), dan integritas merupakan nilai yang perlu dijunjung tinggi dan diinternalisasikan dalam setiap bentuk tindakan maupun relasi profesional,”
tulis BEM FPsi UNJ.
BEM FPsi UNJ berharap klarifikasi itu bisa mengakhiri kesalahpahaman yang berkembang di publik terkait posisi organisasi mereka dalam polemik yang tengah berlangsung.
Pun, dengan pernyataan resminya, tak ada lagi kesalahpahaman terkait posisi BEM FPsi UNJ dalam polemik demonstrasi mahasiswa.
Serta menjadi pengingat bersama mengenai pentingnya menjaga etika dan penghormatan terhadap lembaga kemahasiswaan yang resmi/sah,”
demikian pernyataan tersebut.
Pernyataan sikap ini muncul di tengah tudingan bahwa aksi mahasiswa yang mengkritik kondisi ekonomi, demokrasi, dan berbagai kebijakan pemerintah terafeliasi dengan partai politik.
Di media sosial, sempat beredar narasi yang mengaitkan gerakan mahasiswa dengan kepentingan politik tertentu. Namun, BEM FPsi UNJ menyampaikan pencatutan nama lembaga tanpa persetujuan tak bisa dibenarkan dan mesti dipertanggungjawabkan oleh pihak yang melakukannya.


