Bank Indonesia (BI) mengungkapkan, kenaikan harga Pertamax (RON 92) dan Pertamax Green 95 (RON 95) akan menyumbang inflasi sebesar 0,25 persen. Inflasi ini akan berasal dari harga barang yang diatur pemerintah atau administered price.
Deputi Gubernur BI Aida S Budiman mengungkapkan, risiko inflasi yang dihadapi salah satunya berasal dari global akibat kenaikan harga minyak dan komoditas. Tekanan inflasi ini berasal dari penyesuaian harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi, yakni Pertamax dan Pertamax Green.
Untuk sementara hitungan kami lebih kurang dia berkontribusi sekitar 0,25 persen kepada inflasi,”
ujar Aida dalam konferensi pers Kamis, 18 Juni 2026.
Dampak Minim
Kemudian tekanan inflasi juga akan berasal dari volatile food atau harga-harga komoditas yang bergejolak, termasuk harga pupuk. Namun, dampak tekanan terhadap kelompok volatile food akan sangat minim.
Ini kita hitung sangat minimal karena kita masih cukup untuk produksi pupuknya. Sementara nanti El Nino mungkin sekitar akhir Juni sampai Oktober atau November,”
terangnya.
Aida menuturkan, meski inflasi akan mengalami kenaikan namun masih akan berada dalam target sasaran pemerintah yakni sebesar 2,5 plus minus 1 persen.

Inflasi di Daerah
Sementara itu, Deputi Gubernur BI Ricky Perdana Gozali mengatakan bahwa berdasarkan pantauan yang dilakukan oleh Bank Indonesia di daerah, inflasi pada Mei untuk 25 provinsi masih dalam rentang sasaran target. Namun, sejumlah wilayah inflasi bergerak naik.
Terdapat 13 provinsi yang kami pantau secara khusus karena sudah mulai bergerak ke atas di daerah sasaran misalnya seperti di Papua Barat 5,94 persen, kemudian di Aceh 5,12 persen, di Kalimantan Tengah juga 4,55 persen,”
katanya.
Ricky mengatakan, tekanan inflasi yang berasal dari beberapa faktor tersebut membuat harga komoditas pangan seperti hortikultura mulai dari cabai merah, bawang merah dan cabai rawit mengalami kenaikan.
BI juga memperkirakan, potensi El Nino berisiko menurunkan produktivitas, terutama dari hortikultura di beberapa wilayah khususnya di kawasan Indonesia Timur.
Kami di Bank Indonesia untuk menghadapi ini mengantisipasi bersama 46 kantor perwakilan Bank Indonesia di daerah terus memberikan perhatian khusus untuk memitigasi dampaknya terhadap inflasi pangan, dengan bersinergi dengan pemerintah melalui TPIP dan TPID,”
tuturnya.


