Polemik seputar gerakan mahasiswa yang mengkritik pemerintah terus berkembang. Setelah muncul kelompok yang mengklaim mewakili sejumlah Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dan melontarkan kritik terhadap aksi demonstrasi mahasiswa di Jakarta.
Peneliti sekaligus pengamat politik Made Supriatma mengatakan, kecurigaan bahwa fenomena tersebut merupakan bagian dari pola lama untuk meredam gerakan kritik dari mahasiswa.
Kecurigaan itu menguat setelah sejumlah kampus mengeluarkan klarifikasi bahwa nama organisasi mahasiswa mereka dicatut tanpa persetujuan. Salah satunya berasal dari BEM Fakultas Psikologi Universitas Negeri Jakarta (UNJ) yang menegaskan tidak pernah memberikan mandat kepada pihak tertentu untuk menggunakan nama lembaga mereka.
Menurutnya, ketika gerakan mahasiswa mulai mendapatkan perhatian publik, sering kali muncul kelompok lain yang berupaya melemahkan pengaruh gerakan tersebut.
Taktik lama: Kalau ada oposisi, seperti gerakan mahasiswa, bikin tandingannya,”
kata Made Supriatma yang dikutip dari laman facebook pribadinya, Kamis, 18 Juni 2026.
Ia menilai strategi semacam itu tidak hanya dilakukan dengan membangun narasi tandingan, tetapi juga melalui upaya menyerang kredibilitas tokoh-tokoh yang menjadi wajah gerakan mahasiswa.
Hancurkan karakter pemimpin-pemimpinnya,”
ucapnya.
Made bahkan menuding ada pihak-pihak tertentu yang memanfaatkan mahasiswa untuk menjalankan agenda politik tertentu demi mengimbangi tekanan dari gerakan mahasiswa yang kritis terhadap pemerintah.
Banyak mahasiswa dongok bisa dibayar untuk itu kok,”
jelasnya.


