Seorang mahasiswa Universitas Trisakti asal Papua jadi sorotan saat demonstrasi mahasiswa di depan Gedung DPR, Senayan, Jakarta. Orasi mahasiswa itu menyoroti berbagai persoalan nasional terutama persoalan di Papua.
Dalam orasinya, mahasiswa itu menyampaikan kegelisahan yang sudah lama dirasakan rakyat Papua.
Mahasiswa itu menyampaikan identitas orang Papua bukan pilihan yang ia tentukan. Tapi, melainkan bagian dari takdir yang harus dihormati dan diperlakukan setara dalam kehidupan berbangsa.
Saya tidak meminta lahir menjadi orang Papua. Tapi, yang berikan itu Tuhan,”
kata mahasiswa itu di hadapan massa aksi mahasiswa di depan Gedung DPR RI, Jumat, 19 Juni 2026.
Dalam orasinya, ia menyinggung makna Bhinneka Tunggal Ika yang selama ini jadi simbol persatuan bangsa. Namun, menurut dia, nilai keadilan yang terkandung dalam semboyan tersebut belum sepenuhnya dirasakan oleh masyarakat Papua.
Keberagaman harus utuh, Bhinneka Tunggal Ika itu simbol persatuan dan keadilan tapi Papua belum merasakan namanya keadilan,”
ujar mahasiswa itu.
Lebih lanjut, dia mengaku banyak masyarakat di luar Papua mungkin tak merasakan pengalaman yang sama. Namun, bagi warga Papua, persoalan ketidakadilan disebut masih jadi kenyataan yang terus dirasakan dalam kehidupan sehari-hari.
Teman-teman mahasiswa di luar Papua tidak merasakan ketidakadilan itu. Tapi, kami orang Papua merasakan itu,”
jelasnya.
Mahasiswa tersebut juga menyampaikan pandangannya mengenai hubungan Papua dan Indonesia yang hingga kini masih menjadi perdebatan.
Papua bersatu dengan Indonesia karena dipaksa bergabung. Slogan NKRI harga mati selalu dipaksakan ke kami orang Papua,”
kata mahasiswa itu.
Dia pun menyoroti cara pendekatan pemerintah. Menurut dia, pendekatan pemerintah masih terlalu bertumpu pada kehadiran aparat keamanan dalam menyikapi berbagai persoalan di Papua.
Lebih lanjut, dia mengatakan pendekatan semacam itu tak menyelesaikan akar persoalan yang dihadapi rakyat Papua. Kondisi itu justru memperkuat rasa ketidakpercayaan terhadap negara.
Pemerintah selalu melakukan pendekatan ke masyarakat Papua dengan militer,”
ujar mahasiswa itu.
Di akhir orasinya, ia mengajak peserta aksi untuk menolak pendekatan yang menurutnya lebih mengedepankan kekuatan keamanan dibanding dialog dan keadilan sosial.
Apakah kalian sepakat dengan cara pemerintah? Kalau tidak, mari lawan! Mari kita tolak militer di Papua!”
tuturnya.





















