Nilai tukar rupiah terus bergerak mendekati level Rp18.000 pada perdagangan Jumat, 26 Juni 2026. Rupiah melemah 0,25 persen atau 45 poin ke level Rp17.988 per dolar Amerika Serikat (AS).
Di kawasan Asia, rupiah bersama sejumlah mata uang negara lainnya mengalami pelemahan. Yuan Tiongkok (CNY) melemah 0,02 persen, Yen Jepang (JPY) melemah 0,01 persen.
Selanjutnya, Won Korea (KRW) anjlok 0,34 persen, Dolar Singapura (SGD) merosot 0,04 persen, serta Baht Thailand (THB) ambruk 0,26 persen melawan dolar AS.
Data AS dan The Fed
Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong menganalisa pelemahan rupiah ini salah satunya dipicu oleh rilis data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) AS yang naik.
Rupiah melemah terhadap dolar AS setelah data inflasi AS PCE yang menunjukkan kenaikan pada inflasi inti mecapai tingkat tertinggi sejak Oktober 2023, serta pernyataan hawkish pejabat the Fed pagi ini,”
kata Lukman kepada Owrite pada Jumat, 26 Juni 2026.
Adapun dua pejabat the Fed yakni Presiden Bank Federal Reserve Chicago Austan Goolsbee dan Presiden Bank Federal Reserve New York John Williiam sudah mengatakan bahwa inflasi AS masih terlalu tinggi. Pernyataan ini meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga oleh the Fed.
Investor Ragu
Dari dalam negeri, belum ada sentimen yang dominan mendorong pelemahan rupiah. Tapi, investor masih ragu masuk ke pasar saham Indonesia karena merespons perkembangan dolar AS.
Investor masih ragu untuk masuk ke ekuitas oleh kekhawatiran downgrade ke depannya. SBN mulai menarik investor. Namun, dinamika di pasar obligasi merespon cepat perkembangan dolar AS dan imbal hasil obligasi AS,”
jelas Lukman.
Dengan demikian, Lukman memperkirakan nilai tukar rupiah pada perdagangan hari ini akan melemah di kisaran Rp17.900 hingga Rp18.050 per dolar AS.























