Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pada Juni 2026 Indonesia mengalami inflasi sebesar 0,44 persen secara bulanan atau month to month (mtm), dan 3,34 persen secara tahunan (year on year/yoy). Penyebab inflasi ini salah satunya karena kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM).
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan Indeks Harga Konsumen (IHK) mengalami kenaikan secara bulanan dari 111,40 pada Mei 2026, menjadi 111,89 pada Juni 2026.
Secara tahunan atau year on year terjadi inflasi sebesar 3,34 persen, dan secara tahun kalender atau year to date terjadi inflasi 1,79 persen,”
ujar Ateng dalam konferensi pers di Kantor Pusat BPS, Jakarta, Rabu, 1 Juli 2026.
Didorong Harga Bensin


Ateng menjelaskan, kelompok pengeluaran penyumbang inflasi bulanan terbesar disumbang oleh transportasi dengan inflasi sebesar 2,29 persen. Dalam hal ini kelompok transportasi memberikan andil terhadap inflasi sebesar 0,28 persen.
Untuk komoditas yang dominan mendorong inflasi pada kelompok transportasi yakni bensin, tarif angkutan udara, serta pelumas atau oli mesin.
Komoditas yang dominan mendorong inflasi kelompok transportasi yang pertama bensin dengan andilnya 0,21 persen, kedua tarif angkutan udara dengan andil inflasi 0,05 persen, dan yang ketiga pelumas atau oli mesin dengan andil inflasi 0,01 persen,”
jelasnya.
Selain itu, inflasi pada Juni 2026 juga disumbang oleh kelompok makanan, minuman dan tembakau yang memberi andil inflasi sebesar 0,06 persen, dengan inflasi 0,20 persen.
Adapun komoditas yang memberikan andil inflasi terutama bawang merah sebesar 0,04 persen, bawang putih dengan andil inflasi 0,03 persen, dan beras sebesar 0,02 persen.
Proyeksi Ekonom


Sebelumnya, Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede memproyeksi inflasi Juni 2026 akan naik menjadi 3,41 persen secara tahunan year on year (yoy), dan secara bulanan (month to month/mtm) naik menjadi 0,50 persen.
Inflasi bulan Juni diperkirakan meningkat menjadi 3,41 persen yoy dari 3,08 persen yoy pada Mei. Sementara secara bulanan diperkirakan naik menjadi 0,50 persen mtm dari 0,28 persen mtm pada bulan sebelumnya,”
ujar Josua kepada Owrite Rabu, 1 Juli 2026.
Josua menjelaskan, kenaikan inflasi ini utamanya didorong oleh harga BBM nonsubsidi, tarif angkutan udara, tekanan pangan, dan pelemahan rupiah yang mulai merembes ke harga barang konsumsi.






















