Lalu lintas pelayaran jalur Selat Hormuz berangsur pulih setelah sempat lumpuh imbas konflik antara Amerika Serikat (AS)-Israel, dengan Iran. Meski aktivitas sudah berangsung meningkat, pelaku industri masih ragu soal hubungan Washington dengan Teheran.
Pemulihan arus kapal di Hormuz terjadi setelah AS dan Iran menandatangani memorandum pada 14 Juni 2026. Kesepakatan AS-Iran itu diproyeksikan bakal meredakan ketegangan di kawasan sekaligus membuka kembali jalur pelayaran di salah satu titik terpenting perdagangan energi dunia.
Presiden Asosiasi Pengiriman dan Logistik Turki (UTIKAD) Bilgehan Engin mengatakan normalisasi pelayaran di Selat Hormuz berlangsung secara bertahap seiring meredanya ketegangan di Timur Tengah.
Lalu lintas kapal di Selat Hormuz yang dipicu oleh kesepakatan AS-Iran akan meningkat secara bertahap, yang menandai bukan penurunan tajam. Tapi, normalisasi bertahap dan berfluktuasi,”
kata Engin, dikutip dari Anadolu, Kamis, 2 Juli 2026.
Meski demikian, Engin menyampaikan kesepakatan AS-Iran masih rapuh sehingga belum bisa dimaknai membaiknya hubungan AS dan Iran secara permanen.
Menurutnya, kondisi keamanan di Selat Hormuz masih jadi faktor utama yang menentukan kelancaran pelayaran komersial.
Sebelum konflik pecah, sekitar 130 kapal komersial melintasi Selat Hormuz setiap hari. Namun, setelah serangan bersama AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari, aktivitas pelayaran anjlok drastis.
Hingga kini, volume lalu lintas kapal masih sekitar 70 persen di bawah level sebelum perang. Angka itu sudah mengalami peningkatan dibanding masa konflik.
Meredanya ketegangan juga mulai mengurangi tekanan terhadap industri pelayaran global. Tarif angkutan spot yang sebelumnya melonjak akibat tingginya risiko keamanan diperkirakan akan bergerak turun secara bertahap, meski belum kembali ke level sebelum krisis.
Meskipun biaya asuransi menurun, tarif angkutan tidak menurun dengan kecepatan yang sama karena adanya faktor biaya struktural,”
ujarnya.
Engin menjelaskan premi risiko memang mulai menyusut. Namun, belum sepenuhnya hilang. Maka itu, tarif pengiriman diperkirakan tetap berada di atas tingkat sebelum konflik. Sementara, perusahaan pelayaran kini mulai meninjau ulang kontrak jangka panjang yang disepakati saat biaya logistik sedang tinggi.
Dia menuturkan pemilik kapal dan perusahaan logistik besar sedang merevisi kontrak jangka panjang dengan harga tinggi yang ditandatangani selama krisis.
Melalui struktur yang terkait dengan indeks dan fleksibel yang terbuka untuk negosiasi ulang,”
jelasnya.
Selain berdampak pada biaya logistik, konflik di Selat Hormuz sebelumnya memaksa banyak kapal memutar jalur melalui Tanjung Harapan, Afrika Selatan. Pengalihan rute tersebut memperpanjang waktu pelayaran sekaligus meningkatkan biaya operasional.
Kini, seiring pulihnya kondisi di Selat Hormuz, rute pelayaran utama mulai digunakan kembali. Tapi, Engin menilai proses normalisasi akan berlangsung bertahap sehingga tidak akan langsung memicu penurunan tarif angkutan secara drastis.
Pembalikan pengalihan rute tidak akan menyebabkan guncangan pasokan yang parah dengan sendirinya. Tetapi, sebaliknya akan menyebabkan penurunan bertahap di pasar spot dan lingkungan penetapan harga yang lebih kompetitif dengan margin yang menyempit,”
tutur Engin.
Dia menuturkan dalam jangka panjang, pasar akan mencari keseimbangan baru.
Menetapkan harga dasar baru yang bergantung pada pertumbuhan permintaan dan disiplin armada,”
katanya.
Ia juga memperkirakan pelabuhan-pelabuhan di kawasan Teluk Persia akan kembali pulih lebih cepat. Hal itu terutama untuk ekspor energi dan arus peti kemas menuju Asia.
Namun, gangguan keamanan di Laut Merah masih menjadi tantangan yang dapat memperlambat pemulihan rantai pasok global.
Menurut Engin, kembalinya aktivitas di Selat Hormuz memang menjadi sinyal positif bagi perdagangan global. Namun, hal itu belum cukup untuk menyimpulkan bahwa hubungan AS dan Iran benar-benar mencair.






















