Wakil Presiden Amerika Serikat (AS) JD Vance kecewa saat mengetahui pejabat Iran menolak adanya pembicaraan yang sedang berlangsung antara Iran dan AS di Doha, Qatar.
Vance menyinggung penolakan itu merupakan bagian dari taktik negosiasi Persia yang disengaja. Meski demikian, ia menyampaikan bahwa pembicaraan teknis antara Washington dan Teheran tetap berlangsung.
Ada pembicaraan terjadwal. Pembicaraan yang sangat teknis, yang dibangun berdasarkan negosiasi yang telah kita lakukan. Pembicaraan itu pasti akan berlangsung besok,”
kata Vance, dikutip dari Middle East Monitor, Rabu, 1 Juli 2026.
Vance menyebut pernyataan pejabat Teheran yang membantah pembicaraan itu sebagai sesuatu yang mengecewakan. Menurutnya, para pejabat Iran menyangkal adanya pembicaraan perdamaian. Namun, di saat yang sama mengakui adanya diskusi teknis antara kedua negara.
Itu adalah taktik negosiasi Persia dan perangkat retorika Persia yang tidak saya mengerti,”
ujarnya.
Menanggapi kritik terhadap pendekatan pemerintahan AS terhadap Iran, Vance membela kebijakan Presiden Donald Trump. Ia mengatakan Trump sudah menunjukkan kesediaannya menggunakan kekuatan militer apabila diperlukan. Namun, hanya untuk mencapai tujuan tertentu.
Sikap mereka hanya menjatuhkan bom, menjatuhkan bom, dan menjatuhkan bom, dan mereka sebenarnya tidak bisa menjelaskan untuk tujuan apa,”
kata Vance.
Dalam wawancara terpisah dengan Fox News, Vance menyampaikan Washington lebih menaruh perhatian pada tindakan Iran dibandingkan pernyataan publik mereka.
Menurutnya, kemajuan yang berarti dalam negosiasi hanya dapat dicapai apabila Teheran menawarkan konsesi nyata.
Kami jauh kurang peduli dengan apa yang dikatakan Iran. Kami jauh lebih peduli dengan apa yang mereka lakukan,”
jelas Vance.
Sementara itu, utusan Gedung Putih Steve Witkoff dan Jared Kushner melakukan perjalanan ke Doha setelah Presiden Trump mengumumkan pada Senin, 29 Juni 2026, bahwa Iran meminta pertemuan di ibu kota Qatar tersebut.
Namun, Iran membantah adanya pembicaraan langsung dengan Washington yang dijadwalkan berlangsung dalam waktu dekat. Teheran juga menegaskan komunikasi yang berjalan saat ini masih terbatas pada konsultasi melalui para mediator.
Yang akan dibahas di Doha adalah implementasi klausul-klausul nota kesepahaman (MoU), termasuk pelepasan aset Iran yang dibekukan, yang merupakan urusan pihak Qatar,”
kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei.
Adapun seorang pejabat senior AS mengatakan Witkoff dan Kushner akan bertemu dengan Perdana Menteri Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman bin Jassim al-Thani serta para mediator lainnya di Doha untuk melanjutkan dialog regional terkait kesepakatan tersebut.
Nota Kesepahaman (MoU) antara Washington dan Teheran yang dimediasi Pakistan mulai berlaku pada 18 Juni setelah ditandatangani secara elektronik oleh Presiden Iran Masoud Pezeshkian serta Presiden AS Donald Trump.
Dokumen itu jadi kerangka kerja untuk mengakhiri konflik yang dimulai pada akhir Februari sekaligus menyelesaikan berbagai isu yang masih tertunda antara Washington dan Teheran melalui jalur negosiasi.
Isu-isu tersebut mencakup penghentian permusuhan, pencabutan sanksi, persoalan nuklir, pembukaan kembali sepenuhnya Selat Hormuz, serta pengaturan keamanan regional yang lebih luas.
























