Aktivis 1998 Budiman Sudjatmiko kembali angkat bicara perihal insiden penolakan terhadapnya dan dua pejabat kabinet pemerintahan Prabowo Subianto saat diskusi di Universitas Gadjah Mada (UGM), beberapa waktu lalu. Menurut Budiman, kampus semestinya menjadi ruang dialog.
Dia menyayangkan kampus jangan jadi tempat membungkam pandangan yang berbeda. Budiman menyampaikan demikian kepada pakar hukum tata negara Feri Amsari dalam podcast Owrite #Piring Politik Hidangan I, yang dikutip pada Jumat, 3 Juli 2026.
Budiman menjelaskan kehadirannya di UGM bukan atas inisiatif pribadi. Tapi, memenuhi undangan dalam sebuah forum diskusi politik.
Ia menilai kegiatan serupa sudah beberapa kali digelar di berbagai kampus dengan menghadirkan narasumber dari latar belakang yang berbeda.
Mendengar penjelasan itu, Feri Amsari pun bertanya ke Budiman. Ia menyindir Budiman seperti kecentilan datang ke kampus UGM.
Mas Budi kok ikut kecentilan datang ke UGM gitu ya. Sementara UGM adalah pusat aksi gerakan. Salah satunya ya,”
tanya Feri Amsari.
Feri mengibaratkan Budiman yang mendatangi tempat dengan banyak orang yang sedang marah dan kecewa.
Orang sedang marah didatangi, orang sedang kecewa didatangi itu kan enggak strategis gitu ya,”
lanjut Feri.
Budiman pun menjawab dengan dirinya datang ke UGM karena diundang dan sebagai bentuk penghormatan. Apalagi, ia juga alumni UGM.
Bagi saya acara di UGM adalah salah satu dari berbagai macam acara undangan yang harus saya datangin sebagai penghormatan. Apalagi saya pernah kuliah di sana,”
kata Budiman.
Ia mengaku tak menyangka kehadirannya justru memicu penolakan. Kata dia, pengalaman itu berbeda dengan tradisi dialog yang pernah ia alami bahkan dengan kelompok-kelompok yang secara ideologis berseberangan.
Budiman bercerita, selepas keluar dari penjara pada era pemerintahan Abdurrahman Wahid (Gus Dur), ia beberapa kali memenuhi undangan diskusi dari kelompok yang menjadi oposisi pemerintah saat itu. Hal itu termasuk organisasi dengan pandangan politik yang sangat berbeda.
Sekeras-kerasnya mereka, sekeras-kerasnya kita, kami bersepakat pada satu hal, ruang perbedaan ini harus dirawat. Berdebat keras, tidak ada penggerebekan, tidak ada pengusiran,”
ujarnya.
Menurut Budiman, pengalaman itu menunjukkan bahwa perbedaan pandangan tidak seharusnya menjadi alasan untuk menutup ruang diskusi.
Ia bahkan menyebut kelompok-kelompok yang dikenal konservatif saat itu tetap menghormati hak setiap orang untuk menyampaikan pendapat.
Budiman kemudian mengutip pemikiran filsuf Prancis Voltaire tentang pentingnya kebebasan berpendapat.
Saya enggak setuju apa yang kamu katakan, tapi saya akan perjuangkan dan akan bela hakmu untuk mengatakan itu,”
ujarnya.
Meski mengaku bukan penganut liberalisme, Budiman menilai prinsip menghormati hak orang lain untuk berbicara merupakan nilai yang penting dijaga, terutama di lingkungan kampus.
Saya enggak menyangka di UGM akan terjadi seperti itu,”
katanya.
Budiman menilai tradisi dialog dan adu gagasan harus tetap menjadi ciri perguruan tinggi.
Menurut dia, perbedaan sikap politik seharusnya dijawab dengan argumentasi. Bukan dengan pengusiran atau penolakan terhadap forum diskusi.

























