Dosen Universitas Gadjah Mada (UGM) Media Wahyudi Askar mengatakan polemik pembubaran forum diskusi yang menghadirkan Kepala BP Taskin Budiman Sudjatmiko. Dia menyinggung pembubaran diskusi itu justru bergeser dari isu utama yang ingin disampaikan mahasiswa.
Menurut Media, perhatian publik kini lebih banyak tersedot pada perdebatan mengenai etika mahasiswa dibanding substansi kritik yang menjadi alasan aksi tersebut.
Media mengatakan, perdebatan yang berkembang di ruang publik telah mengubah fokus pembahasan. Akibatnya, isu-isu yang hendak disampaikan mahasiswa dalam forum itu justru tenggelam di balik narasi mengenai sopan santun dan pengusiran tamu.
Satu hal yang jarang didiskusikan publik adalah akhirnya diskusinya ke mana-mana dan melupakan substansi. Orang sibuk bicara soal usir-mengusir. Tapi, lupa apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh mahasiswa,”
kata Media dalam Youtube Owrite #PiringPolitik Hidangan I, yang dikutip pada Jumat, 3 Juli 2026.
Dijelaskan Media, jika dilihat dari konteks lokasi forum tersebut berlangsung di lingkungan kampus yang secara sosiologis merupakan ruang mahasiswa. Karena itu, respons mahasiswa tidak bisa dilepaskan dari perspektif tersebut.
Kalau perspektifnya dari sisi ruang, lokasinya ada di UGM, ada di rumah mahasiswa. Logika sederhananya, ketika ada tamu datang, tentu respons pemilik rumah juga menjadi bagian dari dinamika yang terjadi,”
ujarnya.
Lebih lanjut, Media mengatakan sebagian kalangan dosen justru khawatir polemik yang berkembang akan semakin menjauhkan publik dari pembahasan mengenai persoalan yang ingin diangkat mahasiswa.
Dia menyinggung isu kritik bergeser malah menjadi boikot UGM hingga mahasiswa dianggap tak punya etika.
Sebagian teman-teman dosen juga khawatir karena akhirnya diskusinya bergeser menjadi soal boikot UGM, mahasiswa tidak punya etika, dan lain-lain. Padahal substansi yang ingin disampaikan mahasiswa justru hilang,”
jelasnya.
Dia juga mengajak publik memahami karakter generasi mahasiswa saat ini yang berbeda dengan generasi sebelumnya.
Menurut dia, mahasiswa saat ini berbeda dengan mahasiswa dulu. Sebagian besar mahasiswa sekarang tumbuh pada masa pandemi COVID-19 dan berasal dari generasi Z.
Mahasiswa hari ini berbeda dengan mahasiswa dulu. Sebagian besar mereka tumbuh pada masa pandemi COVID-19 dan berasal dari generasi Z. Cara berkomunikasinya mungkin dianggap lebih keras, tetapi di ruang kelas mereka tetap santun kepada dosen maupun orang yang lebih tua,”
ujarnya.
Media menyampaikan kritik yang disampaikan mahasiswa seharusnya dipahami sebagai kritik terhadap aktor politik yang hadir dalam forum. Bukan sebagai serangan terhadap pribadi seseorang.
Kemarin seharusnya titik beratnya pada aktor politik, bukan menghina person. Yang disampaikan mahasiswa adalah kritik terhadap aktor politik yang datang. Kalau diskusinya terus digeser ke soal etika, akhirnya substansi kritiknya hilang,”
tutur Media.






















