Dengan menggunakan situs ini, kamu menyetujui Kebijakan Privasi and Ketentuan Penggunaan OWRITE.
Accept
Sabtu, 29 Agu 2026
Linkbio
OWRITE Logo 2x OWRITE Dark Background Logo 2x
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum
  • Ekbis
  • WARGA SPILLNew
  • Sefruit
  • Lainnya
    • Hype
    • Internasional
    • Megapolitan
    • Daerah
Sign In
  •   ❍
  • Indeks Berita
  • Akun saya
  • Kirim Tulisan
  • Jadwal Piala Dunia
  • Headline
  • DPR
  • KPK
  • Sepak Bola
  • prabowo
  • Korupsi
  • MBG
  • Prabowo Subianto
  • Piala Dunia 2026
  • Purbaya
OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan DuniaOWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia
Font ResizerAa
  • Indeks Berita
  • Baca ulang
  • Koleksi
  • Eksplor
  • Politik
  • Nasional
  • Internasional
  • Hype
  • Ekonomi Bisnis
  • Megapolitan
  • Olahraga
  • Daerah
Search
  • Warga SpillNew
  • Politik
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi Bisnis
  • Hype
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Olahraga
  • Kelola Tulisan
  • Kirim Tulisan
  • Akun Saya
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Redaksi
  • Beriklan
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media
  • Kebijakan Privasi
© 2025 PT. OWRITE Media Digital.
Home / Hype / Gen Z Tinggalkan Bangku Kuliah? AI hingga Biaya Mahal Disebut Jadi Biang Kerok
Hype

Gen Z Tinggalkan Bangku Kuliah? AI hingga Biaya Mahal Disebut Jadi Biang Kerok

Ani RatnasariHardani Triyoga
Last updated: Juli 3, 2026 7:16 pm
By
Ani Ratnasari
Ani Ratnasari
ByAni Ratnasari
Internship
Mahasiswa IISIP Jakarta yang percaya bahwa setiap data punya cerita dan setiap kebijakan punya dampak. Sedang mendalami dinamika sosial sambil mengasah ketajaman kata di OWRITE.
Follow:
Hardani Triyoga
Hardani Triyoga
ByHardani Triyoga
Asisten Redaktur
Hardani Triyoga adalah jurnalis di OWRITE yang berfokus pada peliputan isu nasional, politik, peristiwa, dan dinamika perkotaan.
Follow:
2 bulan lalu
Share
Ilustrasi Gen Z
Ilustrasi Gen Z (Foto: freepik)
SHARE

Kuliah selama ini dipersepsikan sebagai jalan menuju masa depan yang lebih baik. Namun, pandangan itu tampaknya mulai bergeser di kalangan Generasi Z atau Gen Z.

Meningkatnya jumlah calon mahasiswa yang batal daftar ulang ke perguruan tinggi jadi salah satu sinyal. Ada persepsi soal pendidikan tinggi tak lagi dipandang sebagai satu-satunya jalan menuju kesuksesan.

Mengutip akun Instagram @skolla.online, diduga ada 113 ribu calon mahasiswa batal melakukan daftar ulang pada Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (SNPMB) 2026. Angka itu melonjak sekitar 88,33 persen dibandingkan tahun 2025 yang tercatat sebanyak 60 ribu calon mahasiswa batal melanjutkan proses registrasi.

Fenomena ini memunculkan pertanyaan besar. Benarkah Gen Z mulai kehilangan kepercayaan terhadap pendidikan tinggi? Atau justru ada persoalan yang lebih mendasar dalam sistem penerimaan mahasiswa di Indonesia?

Berdasarkan keterangan Ketua Umum Tim Penanggung Jawab SNPMB 2026 Eduart Wolok ada sejumlah faktor yang menyebabkan peserta batal melakukan daftar ulang.

Baca juga:
Siapa yang Suka Halu Sampai Lupa Waktu? Hati-hati Jangan-jangan Kamu… Pernah nggak kamu melamun sambil ngebayangin masa depan, ngulang kejadian memalukan, ngobrol…
Ilmu Dagin, Ini 10 Singkatan Sering Digunakan di Kalangan Gen… Pernah nggak sih, lagi enak-enak baca chat atau scroll komentar TikTok eh tiba-tiba ketemu…
Sudah Kuliah 4 Tahun, Tapi Kerja Tak Sesuai Keahlian? Ini… Maraknya lulusan sarjana yang bekerja di luar bidang pendidikan atau menempati pekerjaan…
  • Siapa yang Suka Halu Sampai Lupa Waktu? Hati-hati Jangan-jangan Kamu Kena Maladaptive…
  • Ilmu Dagin, Ini 10 Singkatan Sering Digunakan di Kalangan Gen Z 2026
  • Sudah Kuliah 4 Tahun, Tapi Kerja Tak Sesuai Keahlian? Ini Mungkin Biang…

Mulai dari diterima di jurusan yang bukan menjadi pilihan Utama. Lalu, tidak lolos Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah, besaran Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang dinilai terlalu tinggi. Selain itu, faktor biaya hidup apabila harus kuliah di luar kota.

Di tengah fenomena tersebut, data Kemendiktisaintek dalam Statistik Pendidikan Tinggi Tahun 2025 juga menunjukkan jumlah mahasiswa yang mengalami putus kuliah mencapai 289.670 orang. Angka itu meningkat 2,62 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Dengan kelompok usia 21–30 tahun menjadi penyumbang angka putus kuliah terbesar dan didominasi mahasiswa laki-laki.

Pengamat pendidikan Ina Liem menilai fenomena batal daftar ulang bukanlah sesuatu yang baru. Menurutnya, persoalan utama justru berada pada sistem penerimaan mahasiswa baru yang selama ini belum berpihak kepada calon mahasiswa.

Sebetulnya kalau menurut saya ini sudah masalah tahunan, terus nggak masuk akal juga akhirnya sekolahnya yang mendapat konsekuensi dan siswanya,”

kata Ina Liem saat diwawancarai Owrite pada Jumat, 3 Juli 2026.

Ina menilai setiap calon mahasiswa memiliki hak untuk menentukan kampus dan jurusan yang paling sesuai dengan minatnya. Maka itu, keputusan untuk tak mengambil kursi yang telah diperoleh seharusnya tak dianggap sebagai pelanggaran.

Ia juga mengkritik aturan yang membuat sekolah maupun adik kelas ikut menerima konsekuensi saat ada siswa yang batal melakukan daftar ulang melalui jalur SNPMB.

Atau adik kelasnya yang mendapat konsekuensi dan kuota di sekolahnya dikurangi. Ini apa-apaan? Sistemnya memang sudah nggak masuk akal, sudah cacat sejak awal,”

ujarnya.

Menurut Ina, sudah saatnya mekanisme penerimaan mahasiswa tidak lagi dilakukan secara seragam secara nasional. Setiap perguruan tinggi seharusnya diberi keleluasaan menentukan mekanisme seleksi sesuai karakteristik program studinya.

Selain sistem seleksi, Ina juga menyoroti persoalan transparansi UKT. Menurutnya, banyak calon mahasiswa baru mengetahui besaran UKT setelah dinyatakan lolos seleksi.

Anomali Jadi Bahasa Gaul Gen Z, Sebenarnya Apa Sih Artinya?

Kondisi tersebut membuat sebagian keluarga baru menyadari biaya kuliah yang harus ditanggung berada di luar kemampuan mereka.

Harusnya sejak awal sudah tahu, harusnya informasi itu transparan di website masing-masing kampus. Jadi uang UKT berapa, makanya saya katakan sistemnya nggak benar,”

jelasnya.

Ia menilai praktik tersebut berbeda dengan sejumlah negara lain yang telah memberikan informasi biaya pendidikan secara terbuka sejak awal proses pendaftaran.

Di sisi lain, faktor biaya bukan satu-satunya alasan yang membuat calon mahasiswa mengurungkan niatnya untuk kuliah. Sebagian memilih batal karena merasa diterima di jurusan yang tidak sesuai dengan minat maupun cita-citanya.

Hal itu dialami oleh Rea, calon mahasiswa yang sempat dinyatakan lolos di Program Studi Sistem Informasi Universitas Gunadarma pada tahun 2023.

Awalnya ia tidak ragu memilih jurusan tersebut. Namun setelah dinyatakan diterima, ia mulai mempertanyakan apakah pilihan itu benar-benar sesuai dengan passion-nya.

Aku merasa salah jurusan dan ragu sama diri sendiri,”

kata Rea saat dihubungi Owrite pada Jumat, 3 Juli 2026.

Rea mengaku memilih Sistem Informasi karena mengikuti saran kakaknya yang menilai jurusan tersebut memiliki prospek kerja yang baik. Namun setelah dipikirkan kembali, ia merasa tidak memiliki minat maupun dasar kemampuan di bidang pemrograman.

Aku takut nggak bisa menjalaninya dengan sepenuh hati karena nggak punya basic coding,”

ujarnya.

Kisah Rea menunjukkan bahwa keputusan membatalkan kuliah tidak selalu dipengaruhi persoalan ekonomi. Faktor kecocokan jurusan dan arah karir juga menjadi pertimbangan penting bagi sebagian calon mahasiswa.

Jika Ina Liem melihat persoalan dari sisi sistem pendidikan, Dosen Sosiologi FISIP Universitas Indonesia (UI) Erna Karim menilai perubahan tersebut juga dipengaruhi oleh bergesernya cara pandang Gen Z terhadap dunia kerja di era digital.

Menurut Erna pada era industrial, pendidikan tinggi memang menjadi syarat utama untuk memperoleh pekerjaan dan penghasilan. Namun kini, dengan perkembangan teknologi membuka jauh lebih banyak pilihan karier baru yang tidak selalu bergantung pada gelar pendidikan.

Pendidikan sudah tidak menarik lagi, karena pendidikan atau yang namanya ilmu itu bisa didapat melalui digitalisasi. Mereka akhirnya bisa meramu sendiri,”

tutur Erna saat kepada Owrite pada Jumat, 3 Juli 2026.

Erna menjelaskan Gen Z kini hidup pada era ketika seseorang bisa bekerja dari mana saja, menjadi content creator, freelancer, maupun membangun bisnis digital sendiri.

Baca juga:
Mengenal Apa itu Provider Mindset, Istilah dalam Hubungan yang Viral… Istilah provider mindset kini jadi salah satu topik relationship yang paling banyak dibahas oleh Gen Z…
Ulos Naik Kelas, Warna Pastel Jadi Strategi Desainer Gaet Gen… Ulos selama ini lekat dengan identitas budaya Batak dan tradisi Sumatra Utara.…
Rencana Prabowo Bangun URI Tuai kritik, Kuliah Mahal dan Kesejahteraan… Kebijakan pemerintah yang membangun Universitas Republik Indonesia (URI) dikritik karena bukan solusi…
  • Mengenal Apa itu Provider Mindset, Istilah dalam Hubungan yang Viral di Media…
  • Ulos Naik Kelas, Warna Pastel Jadi Strategi Desainer Gaet Gen Z
  • Rencana Prabowo Bangun URI Tuai kritik, Kuliah Mahal dan Kesejahteraan Dosen Masih…

Kondisi itu membuat sebagian anak muda tak lagi melihat pekerjaan kantoran sebagai satu-satunya tujuan.

Ia juga menilai perkembangan kecerdasan buatan (AI) dan otomatisasi akan terus mengubah kebutuhan dunia kerja.

Mungkin suatu saat ijazah tidak diperlukan lagi karena orang bisa mendapatkan income tanpa ijazah,”

ujar Erna.

Meski demikian, Erna menyampaikan bukan berarti pendidikan tinggi kehilangan relevansinya. Justru perguruan tinggi perlu beradaptasi dengan perubahan zaman agar tetap mampu menjawab kebutuhan generasi muda.

Menurutnya, kurikulum harus disusun lebih fleksibel dan mengikuti perkembangan industri digital, bukan sekadar mengganti nama program studi tanpa mengubah isi pembelajarannya.

Yang harus berubah bukan hanya nama jurusannya, tetapi juga struktur kurikulumnya agar sesuai dengan kebutuhan era digital,”

tuturnya.

Tag:biaya kuliahCalon Mahasiswagen zKuliahPerguruan Tinggi NegeriSNPMB
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Salin Tautan
Ani Ratnasari
ByAni Ratnasari
Internship
Follow:
Mahasiswa IISIP Jakarta yang percaya bahwa setiap data punya cerita dan setiap kebijakan punya dampak. Sedang mendalami dinamika sosial sambil mengasah ketajaman kata di OWRITE.
Hardani Triyoga
ByHardani Triyoga
Asisten Redaktur
Follow:
Hardani Triyoga adalah jurnalis di OWRITE yang berfokus pada peliputan isu nasional, politik, peristiwa, dan dinamika perkotaan.
Trending di OWRITE
Siap-Siap! Tak Hanya BBM, Beli LPG 3 Kg Bakal Diatur Berdasarkan Desil DTSEN
By Natania Longdong
Tumpukan tabung gas elpiji 3 kg di Lumajang, Jawa Timur. (Sumber: Antara Foto/Irfan Sumanjaya/wsj)
1
Gempa Susulan Flores NTT Tembus 9.278 Kali, BMKG Mulai Petakan Wilayah Rawan
By Dusep Malik
Update gempa susulan di Flores NTT. (Sumber: BMKG)
2
Demo Rusuh di Sekitar DPR, Polisi Ungkap Kerusakan dan Mulai Lakukan Inventarisasi
By Rahmat Tunny
Massa melakukan aksi anarkis usai demonstrasi di depan DPR.
3
BMKG Ungkap Rahasia di Balik Gempa M7,7 NTT, Ribuan Gempa Susulan Jadi Petunjuk
By Syifa Fauziah
Sejumlah anak korban gempa di area pengungsian SMK Muhammadiyah Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur.
4
Akun WhatsApp Tiba-tiba Kena Blokir Massal, Ini Pengakuan Mengejutkan dari Meta
By Ani Ratnasari
Ilustrasi WhatsApp diblokir.
5

BERITA LAINNYA

Pempek dengan berbagai jenis
Hype

Pempek, dari Nama Menjadi Kuliner Ikonik Palembang

Pempek menjadi salah satu kuliner khas Palembang, Sumatera Selatan, yang mudah ditemukan…

Ossid Duha Jussas SalmaIvan OWRITE
By
Ossid Duha Jussas Salma
Ivan Syahruna Lubis
23 jam lalu
Ilustrasi spa
Hype

Tak Sekadar Memanjakan Tubuh, Ini Manfaat Body Spa bagi Kesehatan

Padatnya aktivitas sehari-hari dapat membuat tubuh terasa lelah, pegal, hingga sulit rileks.…

Ossid Duha Jussas SalmaIvan OWRITE
By
Ossid Duha Jussas Salma
Ivan Syahruna Lubis
1 hari lalu
Rompi ADAPT-V buatan mahasiswa Universitas Brawijaya.
Hype

Mahasiswa UB Ciptakan Rompi Pintar yang Bisa Redam Tantrum Anak Autisme

Lima mahasiswa Universitas Brawijaya mengembangkan ADAPT-V, rompi pintar berbasis Deep Pressure Therapy…

Syifa Fauziahowrite-adi-briantika
By
Syifa Fauziah
Adi Briantika
1 hari lalu
Labu Kuning
Hype

Delapan Superfood Asli Indonesia yang Mulai Mendunia, Nomor 1 Sering Dikira Tanaman Liar!

Siapa bilang kalau superfood itu hanya bisa diperoleh dari bahan-bahan impor yang…

Ani RatnasariIvan OWRITE
By
Ani Ratnasari
Ivan Syahruna Lubis
1 hari lalu
OWRITE Logo 2x OWRITE Dark Background Logo 2x

Your Reading Dose, Right Here:
Tetap terhubung dengan berita terkini dan informasi terkini secara langsung. Dari politik dan teknologi hingga hiburan dan lainnya, kami menyediakan liputan langsung yang dapat Anda andalkan, menjadikan kami sumber berita tepercaya.

Info lainnya

  • Redaksi
  • Beriklan
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media
  • Kebijakan Privasi
FacebookLike
InstagramFollow
YoutubeSubscribe
TiktokFollow
© PT. OWRITE Media Digital. All Rights Reserved.
OWRITE Logo OWRITE Dark Background Logo 2x
Everything's gonna be owrite!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?

Not a member? Sign Up