Gelombang panas ekstrem di sejumlah negara Eropa yang menewaskan 1.300 orang tengah jadi sorotan luas. Gelombang panas itu jadi salah satu bencana iklim yang mematikan.
Epidemiolog dan peneliti Indonesia dari Universitas Griffith, Australia dr. Dicky Budiman, M.Sc.PH menjelaskan mengenai bahaya dari gelombang panas esktrem seperti yang sudah terjadi di Eropa.
Dia menyebut bencana itu yang paling mematikan di dunia karena menyebabkan kematian lebih banyak dibandingkan banjir, badai, ataupun gempa bumi.
Yang perlu dipahami adalah panas tidak selalu membunuh secara langsung. Jadi, sebagian besar kematian terjadi karena panas memperberat penyakit yang sudah ada. Baik itu penyakit jantung, stroke, gagal ginjal, dan penyakit paru,”
ujar Dicky kepada Owrite, Selasa, 7 Juli 2026.
Dicky menambahkan Badan Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) menyebut penyebab utama kematian akibat panas esktrem di Eropa adalah heat stress.
Dia mengatakan dalam empat tahun terakhir, ada sekitar 200 ribu kematian di Eropa dikaitkan dengan gelombang panas.
Karena sekali lagi gelombang panas yang saat ini melanda Eropa menunjukkan bahwa perubahan iklim sudah mengubah cuaca ekstrim menjadi ancaman kesehatan masyarakat. Jadi, ini bukan sekedar fenomena meteorologi,”
jelas Dicky.
Lebih lanjut, dia mengatakan tubuh manusia itu mempertahankan suhu intinya di kisaran 36,5 derajat Celcius sampai 37,5 derajat Celcius. Pun, saat suhu lingkungan sangat tinggi terutama kelembapannya tinggi, mekanisme pendinginan tubuh melalui keringat itu jadi tidak efektif.
Kondisi itu berimbas yang memunculkan beberapa proses yang berbahaya dengan terjadinya bersamaan. Pertama, adanya peningkatan suhu inti tubuh, hipertermia. Kedua, kehilangan cairan dan elektrolit.
Selain itu, terjadi penurunan tekanan darah, gangguan fungsi jantung dan juga aliran darah ke otak.
Sehingga terjadi kerusakan sel akibat responsnya dari inflamasi sistemik ini. Dan ini yang akan berujung pada kegagalan banyak organ, multi organ,”
ujar Dicky.
Dicky mengatakan pada heat stroke, suhu inti tubuh itu bisa melebihi 40 derajat Celcius. Hal tersebut sangat berbahaya karena bisa menyebabkan kerusakan otak, hati, ginjal, jantung bahkan dalam hitungan menit hingga jam.
Dia menekankan kondisi heat stroke sebagai kondisi gawat darurat medis dengan angka kematian yang sangat tinggi.
Menurut dia, kelompok yang paling rentan mengalami dampak kesehatan akibat cuaca ekstrem panas adalah lansia usia di atas 65 tahun. Sebab, kemampuannya mengatur suhu tubuh sudah menurun atau terganggu. Selanjutnya, ada bayi dan balita karena sistem termoregulasinya belum matang.
Kemudian, ibu hamil yang memiliki kebutuhan metabolik lebih tinggi, penderita penyakit kronis seperti hipertensi, diabetes, penyakit ginjal atau penyakit jantung.
Lalu, penyandang disabilitas karena punya keterbatasan. Begitu pun dengan gangguan mental atau demensia. Selain itu, pekerja luar ruangan seperti petani, nelayan, kurir polisi di jalanan, pekerja konstruksi, hingga masyarakat miskin yang tinggal di rumah tanpa ventilasi.
Jadi, banyak korban ini yang masuk kategori terakhir tadi. Yang tinggal sendirian atau hidup di rumah sendirian. Tidak mampu dia menjaga suhu tubuhnya atau menjaga supaya dia tetap cukup minum air dan lain sebagainya,”
ujarnya.























