Pengamat Hubungan Internasional dari President University Teuku Rezasyah mengatakan, anggapan bahwa Iran melarang Duta Besar Indonesia menghadiri pemakaman Ayatollah Ali Khamenei tidak tepat, karena kebijakan tersebut lebih dipengaruhi situasi keamanan.
Ia menilai, Iran masih berada dalam kondisi darurat akibat ancaman keamanan di tengah konflik yang berlangsung. Karena itu, pemerintah Iran dinilainya memilih menerapkan standar penerimaan tamu negara yang lebih terbatas dengan memprioritaskan kepala negara atau pejabat setingkat menteri.
Dan mereka juga kan mengelola keadaan dalam situasi perang. Jadi kalau dalam keadaan perang itu semuanya bersifat darurat. Jadi mereka putuskan saja sekarang,”
kata Teuku Rezasyah kepada Owrite, Kamis, 9 Juli 2026.
Kebijakan tersebut, sambungnya, merupakan langkah yang lazim dilakukan untuk mempermudah pengamanan selama prosesi pemakaman berlangsung.
Saya coba mengerti bahwa daripada terjadi penumpukan tamu negara dan diplomat, jadi mereka memakai satu standar saja, yaitu standar penerimaan pejabat tertinggi. Itu wajar-wajar saja, ini memudahkan pengamanan,”
jelasnya.
Dikatakan Teuku, penerapan standar tersebut tidak berarti menutup ruang bagi para duta besar untuk menyampaikan penghormatan terakhir kepada pemimpin Iran.
Dan untuk itu menggunakan satu standar saja. Tapi bagaimanapun juga kan dubes diberi kesempatan juga untuk menyatakan duka cita, kan ada porsinya,”
ungkapnya.
Iran Belum Aman
Ia juga mengingatkan bahwa ancaman keamanan terhadap Iran masih belum sepenuhnya mereda sehingga kewaspadaan tetap menjadi prioritas utama pemerintah setempat.
Apalagi ancaman dari Amerika yang belum dicabut itu masih ada. Dan intel-intel dari China, Rusia, dan Pakistan sarannya sama. Kita harus siap-siap semuanya,”
bebernya.
Jadi kalau protokol hanya diberikan kepada kepala negara saja, itu kan waktunya bisa dibuat lebih ringkas,”
tambahnya.
Teuku menambahkan, keberadaan para kepala negara justru akan membuat pihak-pihak yang berkonflik berpikir ulang untuk melakukan tindakan yang dapat memperburuk situasi internasional.
Dan juga serangan itu kan tidak mungkin dilakukan pada saat kepala negara ada di situ. Itu bisa-bisa Amerika Serikat dan Israel dimusuhi ramai-ramai,”
ujarnya.
Karena itu, Teuku menilai seluruh pengaturan protokol yang diterapkan Iran saat ini lebih didasarkan pada pertimbangan keamanan daripada faktor diplomatik.
Suasana sedang darurat karena faktor pengamanan. Dan juga nanti repot kalau Pak Sugiono ke sana, kan,”
tutupnya.






















