Setiap memasuki bulan Muharram, Kota Pariaman, Sumatra Barat, selalu dipenuhi ribuan orang yang datang untuk menyaksikan Festival Tabuik.
Tradisi yang berlangsung selama hampir dua abad ini tidak hanya sekadar pertunjukan budaya. Namun, sudah jadi warisan yang merekam perjalanan sejarah, pertemuan budaya, hingga identitas masyarakat Minangkabau.
Merujuk laman Indonesia Kaya, Festival Tabuik merupakan peringatan atas wafatnya cucu Nabi Muhammad SAW Hussein bin Ali yang gugur dalam Perang Karbala pada 10 Muharam tahun 680 Masehi.
Seiring waktu, peringatan tersebut berkembang menjadi tradisi budaya khas Pariaman yang kini menjadi salah satu agenda wisata unggulan di Sumatra Barat.
Apa Itu Tabuik?
Menurut Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan, kata tabuik berasal dari bahasa Arab at-tabut yang berarti peti atau keranda. Dalam dialek masyarakat Pariaman, kata ‘tabut’ berubah menjadi ‘tabuik’ karena pelafalan huruf ‘t’. Pun, di akhir kata berubah menjadi ‘ik’.
Nama itu merujuk pada replika bangunan tinggi berbentuk menara yang dipadukan dengan sosok buraq, makhluk bersayap berkepala manusia dalam legenda Islam.
Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, buraq membawa jasad Hussein bin Ali menuju langit setelah gugur di Karbala. Kisah itulah yang kemudian diwujudkan dalam bentuk Tabuik yang diarak setiap tahun.
Sejarah mencatat, tradisi Tabuik mulai dikenal di Pariaman pada tahun 1826-1828. Tradisi ini diyakini dibawa oleh komunitas Muslim keturunan India atau Cipei (Tamil Islam) yang datang setelah Perjanjian London 1824.
Pengaruh Timur Tengah
Pada awalnya, ritual Tabuik masih kental dengan pengaruh budaya Timur Tengah. Namun, sejak awal abad ke-20, para tokoh adat melakukan penyesuaian agar tradisi tersebut selaras dengan nilai dan adat Minangkabau.
Dari sinilah Tabuik berkembang menjadi festival budaya yang lebih menonjolkan nilai sejarah, seni, dan kebersamaan masyarakat.
Kini, mayoritas masyarakat Pariaman memandang Tabuik sebagai warisan budaya, bukan bagian dari praktik keagamaan tertentu.
Dalam pelaksanaannya, Festival Tabuik selalu menghadirkan dua Tabuik, yakni Tabuik Pasa dan Tabuik Subarang.
Tabuik Pasa berasal dari kawasan Pasar Pariaman di sebelah selatan sungai yang membelah kota. Wilayah ini dipercaya sebagai tempat lahirnya tradisi Tabuik.
Sementara itu, Tabuik Subarang dibuat oleh masyarakat yang tinggal di wilayah seberang sungai atau Kampung Jawa. Tabuik ini lahir sekitar awal abad ke-20 sebagai bentuk keseimbangan antara dua kawasan di Pariaman.
Meski berasal dari wilayah berbeda, keduanya mengikuti prosesi adat yang sama hingga akhirnya dipertemukan pada puncak festival.
Festival Tabuik tak berlangsung dalam sehari. Tradisi ini diawali sejak 1 Muharam yang terdiri atas sejumlah tahapan ritual yang diwariskan secara turun-temurun.
Prosesi tersebut meliputi mengambil tanah (maambiak tanah), menebang batang pisang, maatam, mengarak jari-jari, mengarak sorban, tabuik naik pangkek, hoyak tabuik, hingga puncaknya melarung Tabuik ke laut.
Setiap tahapan memiliki makna simbolis, mulai dari pengingat asal-usul manusia, penghormatan kepada Hussein bin Ali, hingga pesan bahwa setiap kehidupan pada akhirnya akan kembali kepada Sang Pencipta.
Puncak acara biasanya akan digelar antara 10 hingga 15 Muharam agar bertepatan dengan akhir pekan sehingga lebih mudah dihadiri wisatawan.
Dari Ritual jadi Festival Budaya
Sejak 1982, Festival Tabuik resmi masuk dalam kalender pariwisata daerah. Perubahan ini membuat penyelenggaraannya lebih terbuka sebagai atraksi budaya tanpa menghilangkan nilai sejarah yang melekat.
Setiap tahun, Pantai Gandoriah jadi pusat keramaian saat dua Tabuik diarak sebelum akhirnya dilarung ke laut menjelang matahari terbenam. Momen ini selalu jadi daya tarik utama yang disaksikan puluhan ribu pengunjung, baik dari Sumatera Barat maupun berbagai daerah di Indonesia, bahkan wisatawan mancanegara.
Namun, di balik kemegahannya, sejumlah ulama menilai tradisi ini memiliki akar sejarah dari komunitas Syiah. Dengan demikian, perlu disikapi secara hati-hati agar tak bertentangan dengan akidah Islam.
Di sisi lain, banyak juga kalangan budaya dan masyarakat Pariaman memandang Tabuik sebagai warisan budaya yang telah mengalami akulturasi dengan adat Minangkabau.
Filosofi ‘Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah‘ menjadi landasan agar tradisi tetap berjalan. Namun, proses tradisi itu tanpa meninggalkan nilai-nilai Islam yang dianut masyarakat setempat.
Tak heran jika setiap Muharram tiba, Festival Tabuik selalu jadi perhelatan yang dinantikan masyarakat. Bukan hanya karena kemeriahannya, tapi juga karena jadi pengingat bahwa sebuah tradisi dapat terus hidup ketika mampu beradaptasi tanpa kehilangan akar sejarahnya.
























