Nilai tukar rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kompak ditutup menguat pada Selasa, 21 Juli 2026. Rupiah menguat 0,33 persen ke level Rp17.888 per dolar Amerika Serikat (AS), dan IHSG menguat 1,74 persen ke 6.340.
Berdasarkan data penutupan perdagangan, nilai tukar negara Asia yang menguat diantaranya Baht Thailand (THB) 0,01 persen terhadap dolar AS, Yuan Tiongkok (CNY) 0,02 persen.
Ringgit Malaysia (MYR) menguat 0,06 persen melawan dolar AS, lalu Dolar Singapura (SGD) menguat 0,10 persen, Rupee India (INR) 0,24 persen terhadap dolar AS.
421 Saham Menguat


Di samping itu, nilai transaksi IHSG tercatat sebesar Rp12 triliun dengan melibatkan 27,1 miliar saham dalam 2,2 juta kali transaksi. Sebanyak 421 saham naik, 169 tidak bergerak, dan 205 turun.
Dilansir dari Stockbit, sejumlah saham yang mengalami kenaikan tertinggi atau top gainer diantaranya:
- PT SLJ Global Tbk (SULI) menguat 34,18 persen ke Rp106
- PT Graha Andrasentra Propertindo Tbk (JGLE) menguat 34 persen ke Rp67
- PT Teknologi Karya Digital Nusa Tbk (TRON) menguat 26,67 persen ke Rp133
Sedangkan saham yang mengalami penurunan terdalam alias top loser sebagai berikut:
- PT Koka Indonesia Tbk (KOKA) anjlok 12,30 persen ke Rp214
- PT Indonesia Prima Property Tbk (OMRE) ambruk 11,11 persen ke Rp1.160
- PT Bima Sakti Pertiwi Tbk (PAMG) melemah 9,52 persen ke Rp57
Redanya Tensi Geopolitik


Sebelumnya, Analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong mengungkapkan menguatnya rupiah karena meredanya tensi geopolitik di Timur Tengah. Sebab, AS dan Iran mengisyaratkan kesediaan untuk melakukan negosiasi.
Rupiah berpotensi menguat terhadap dolar AS oleh meredanya tensi geopolitik di Timur Tengah menyusul laporan bahwa AS dan Iran mengisyaratkan kesediaan untuk melakukan negosiasi,”
ujar Lukman kepada Owrite
Selain itu, penguatan rupiah juga didorong oleh sentimen dalam negeri. Pasalnya, dana asing kini sudah mulai masuk ke pasar dalam negeri.
























