Antropolog Mohammad Sobary menilai, posisi duduk Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dalam rapat kabinet di Istana Merdeka memunculkan tafsir politik di ruang publik, meski Istana telah memberikan penjelasan teknis mengenai pengaturan tempat.
Dalam politik, hal-hal seperti posisi duduk, posisi berdiri, cara berjabat tangan, siapa mendekati siapa, siapa menjauh dari siapa, itu semua mempunyai makna,”
kata Sobary yang dikutip dari podcast ForumKeadilanTV, Kamis, 23 Juli 2026.
Sobary menambahkan, politik tidak hanya dibangun melalui pernyataan resm tetapi juga lewat simbol-simbol yang dapat memengaruhi cara publik membaca hubungan antaraktor politik.
Politik penuh dengan simbol. Kalau kita tidak memahami simbol, kita hanya melihat permukaannya saja. Tetapi kalau kita memahami simbol, kita akan mengerti pesan yang sedang disampaikan,”
ucapnya.
Menurut lelaki yang akrab disapa Kang Sobary itu, tidak semua simbol dalam politik dirancang secara sadar. Namun, simbol yang muncul secara spontan justru dapat memunculkan beragam penafsiran di tengah masyarakat.
Saya tidak mengatakan semua simbol pasti dirancang. Kadang-kadang simbol muncul secara spontan. Tetapi justru simbol yang spontan sering kali memperlihatkan isi batin seseorang,”
ungkapnya.
Kang Sobary berpandangan, simbol politik sering kali lebih berpengaruh terhadap persepsi publik dibandingkan penjelasan resmi yang disampaikan setelah suatu peristiwa terjadi.
Karena itu saya lebih percaya kepada simbol-simbol seperti itu daripada penjelasan resmi yang diberikan setelah peristiwa terjadi. Penjelasan resmi biasanya dibuat untuk meredam situasi, sedangkan simbol sering kali memperlihatkan keadaan yang sebenarnya,”
jelasnya.
Ia juga menilai penjelasan dari pihak Istana merupakan bagian dari komunikasi politik yang wajar. Namun, hal itu tidak serta-merta menghilangkan berbagai tafsir yang muncul di masyarakat terhadap simbol-simbol politik.
Meskipun orang Istana sibuk mendebat, sibuk menjelaskan bahwa itu soal teknis saja, tetapi orang Istana itu sumber resmi. Kalau dari orang resmi, pasti ada yang disembunyikan, pasti bermain politik. Ungkapannya pun ungkapan politik, pokoknya intinya itu ‘tidak ada apa-apa’,”
bebernya.
Dalam pandangannya, posisi duduk seorang pejabat tinggi negara juga dapat dibaca sebagai simbol tertentu dalam budaya politik.
Posisi itu artinya dikecilkan, wakilnya dikecilkan, itu juga ungkapan Jawa. Kamu itu tidak ada maknanya, sudah duduk sana saja. Jangan dekat-dekat sama saya,”
tutupnya.




















