Dua warga negara Indonesia (WNI) awak kapal tanker MT Belma selamat dan telah dipulangkan ke Tanah Air, usai kapal yang mereka tumpangi dihantam serangan misil di Selat Hormuz, Timur Tengah.
“Pemerintah terus berkomitmen memberikan perlindungan kepada pelaut Indonesia, termasuk dalam kondisi darurat akibat konflik atau gangguan keamanan di wilayah pelayaran internasional,”
kata Direktur Perkapalan dan Kepelautan Kementerian Perhubungan Samsuddin, Selasa, 28 Juli 2026.
Kedua awak kapal tersebut tiba di Indonesia melalui Terminal 3 Kedatangan Internasional Bandara Soekarno-Hatta. Selain Samsuddin, Direktur PT Utama Bahari Indonesia Nur Suwanto, selaku perusahaan pemegang Surat Izin Usaha Keagenan Awak Kapal (SIUKAK), juga turut menjemput mereka.
Samsuddin juga mengapresiasi seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam proses penanganan pemulangan dua ABK itu, seperti perusahaan keagenan awak kapal, pemilik kapal, otoritas setempat, hingga Direktorat Pelindungan WNI Kementerian Luar Negeri.
“Kami memastikan proses penanganan, koordinasi, hingga pemulangan awak kapal dapat berjalan dengan baik bersama Direktorat PWNI Kementerian Luar Negeri sehingga para awak kapal dapat kembali ke Tanah Air dengan selamat. Kami mengapresiasi kepada seluruh pihak yang turut berkontribusi dalam proses pemulangan ini,”
ujar dia.
Serangan Misil
MT Belma berlayar melewati Selat Hormuz menuju Kharg Island Anchorage pada 15 Juli 2026. Dalam perjalanan tersebut, kapal mengalami dua kali serangan misil yang mengenai bagian funnel dan menyebabkan sejumlah kerusakan pada kapal.
Akibat kerusakan tersebut, mesin kapal tidak dapat beroperasi sehingga kapal terombang-ambing dan hampir mendekati daratan. Nakhoda kemudian memutuskan untuk berlabuh pada 16 Juli.
Pada 17 Juli, saat kapal berlabuh, MT Belma kembali mengalami serangan misil pada bagian funnel. Nakhoda segera menginstruksikan seluruh awak kapal untuk berkumpul di haluan sambil menunggu evakuasi.
Sekitar pukul 18.00 waktu setempat, seluruh awak kapal berhasil dievakuasi oleh kapal bantuan menuju Pulau Kharg, Iran, untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.





















