Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan sektor mineral dan batu bara (minerba) masih menjadi kontributor terbesar penerimaan negara bukan pajak (PNBP), meski nilainya menurun pada 2025 akibat pelemahan harga komoditas tambang di pasar global.
Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung mengatakan Indonesia memiliki keunggulan cadangan mineral yang kompetitif di tingkat dunia. Menurutnya, potensi tersebut harus dimanfaatkan melalui pengelolaan yang berkelanjutan dan didorong lewat hilirisasi agar tetap memberikan nilai tambah bagi negara.
Untuk sektor pertambangan, bisa dilihat kontribusi sektor pertambangan, kalau kita lihat dari sisi potensinya. Ini peringkat global, nikel peringkat pertama, bauksit peringkat keenam, tembaga peringkat ketujuh, timah peringkat kedua dunia, dan batu bara peringkat ketujuh,”
kata Yuliot dalam keterangannya, Rabu, 29 Juli 2026.
PNBP Turun dari Capaian 2024


Yuliot kemudian mencatat kontribusi PNBP sektor minerba turun dari Rp140,46 triliun pada 2024 menjadi Rp130,23 triliun pada 2025 seiring fluktuasi harga komoditas global.
Tentu dari pengolahan kita ini dan kegiatan pertambangan tujuannya bagaimana kita menjaga penerimaan negara. Penerimaan negara di sini pada tahun 2024 kontribusi PNBP sektor minerba sekitar Rp140,46 triliun. Kemudian pada 2025 karena fluktuasi harga secara global, jadi mengalami penurunan kontribusinya menjadi sekitar Rp130,23 triliun,”
ujar Yuliot.
Ia menambahkan, meski kontribusinya menurun, sektor minerba tetap menjadi tulang punggung PNBP nasional sehingga penguatan hilirisasi menjadi langkah penting untuk menjaga nilai tambah dan keberlanjutan penerimaan negara.
Namun, ini merupakan PNBP terbesar yang diberikan oleh sektor yang ada secara keseluruhan. Jadi kita perlu menjaga keberlanjutan pengolahan sumber daya alam dan juga keberlanjutan penerimaan negara,”
sebut Yuliot.
























