Aktivitas politik Presiden ke-7 RI Joko Widodo berpotensi memunculkan persepsi publik lantaran adanya dua pusat pengaruh politik di tengah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Potensi persepsi itu tentu ada. Dalam sistem presidensial, publik cenderung mengharapkan satu pusat kepemimpinan yang jelas,”
kata Direktur Eksekutif Alhabar Strategic Indonesia, Arifki Chaniago, saat dihubungi Owrite, Selasa, 4 Ağustus 2026.
Walaupun persepsi tersebut belum dapat disamakan dengan realitas adanya dua pusat kekuasaan, namun menurutnya ketika seorang mantan presiden masih memiliki pengaruh politik yang besar dan tetap aktif dalam berbagai aktivitas publik, sebagian masyarakat dapat menafsirkan bahwa terdapat dua figur yang sama-sama memiliki daya pengaruh terhadap arah politik nasional.
Ketika mantan presiden masih memiliki pengaruh politik yang besar dan tetap aktif di ruang publik, sebagian masyarakat dapat menafsirkan adanya dualisme pengaruh,”
jelasnya.
Menurutnya, persepsi publik tersebut merupakan hal yang wajar dalam dinamika politik. Namun, ia mengingatkan agar tidak terburu-buru menyimpulkan bahwa telah terjadi dualisme kekuasaan di pemerintahan.
Namun perlu dibedakan antara persepsi dan realitas politik,”
ucapnya.
Arifki menambahkan, ukuran utama untuk menyebut adanya dua pusat kekuasaan adalah munculnya perbedaan sikap secara terbuka terhadap kebijakan pemerintah atau konflik politik yang nyata di ruang publik. Hingga saat ini, indikator tersebut belum terlihat.
Selama tidak ada perbedaan sikap yang terbuka terhadap kebijakan pemerintah atau konflik politik yang nyata di ruang publik, belum tepat menyimpulkan adanya dua pusat kekuasaan,”
ungkapnya.
Ia berpandangan dinamika yang berkembang saat ini lebih mencerminkan persaingan pengaruh politik daripada perebutan kekuasaan secara formal. Karena itu, ruang tafsir publik perlu disikapi secara proporsional.
Yang sedang berlangsung saat ini lebih merupakan kompetisi pengaruh politik dibandingkan kompetisi kekuasaan formal,”
bebernya.
Arifki menambahkan tantangan terbesar bagi Presiden Prabowo saat ini adalah memastikan seluruh kekuatan politik pendukung pemerintah tetap bergerak dalam agenda yang sama.
Menurutnya, konsolidasi koalisi yang solid akan mempersempit ruang spekulasi mengenai adanya dualisme kepemimpinan.
Karena itu, tantangan terbesar Presiden Prabowo adalah memastikan seluruh koalisi tetap bergerak dalam satu agenda pemerintahan sehingga ruang spekulasi mengenai dualisme kepemimpinan tidak semakin melebar,”
pungkasnya.





















