Indonesia dikenal sebagai salah satu negara dengan keanekaragaman hayati terbesar di dunia. Di balik kekayaan tersebut, terdapat sejumlah tumbuhan endemik yang menjadi perhatian dunia karena keunikan bentuk dan cara hidupnya. Salah satunya adalah Rafflesia.
Ukurannya yang dapat mencapai lebih dari satu meter dengan aroma menyengat membuat Rafflesia kerap menarik perhatian wisatawan maupun peneliti.
Namun, di balik popularitasnya, bunga ini masih sering disalahartikan sebagai bunga bangkai, padahal keduanya berbeda.
Apa saja fakta Rafflesia yang jarang diketahui orang? Melansir dari laman Mongabay (17 Mei 2014), berikut penjelasannya.
Asal Usul Nama
Banyak orang mengira Sir Thomas Stamford Raffles merupakan penemu Rafflesia. Faktanya, bunga ini pertama kali ditemukan pada 1818 oleh seorang pemandu yang mendampingi Dr. Joseph Arnold saat melakukan ekspedisi di Bengkulu.
Nama ilmiah Rafflesia arnoldii merupakan gabungan nama Thomas Stamford Raffles sebagai pemimpin ekspedisi dan Joseph Arnold sebagai ilmuwan yang mendokumentasikan penemuan tersebut. Sejak itu, nama Rafflesia digunakan sebagai nama bunga langka tersebut.
Bukan Bunga Bangkai
Kesalahan paling umum adalah menganggap Rafflesia sama dengan bunga bangkai (Amorphophallus titanum). Padahal, keduanya merupakan tumbuhan yang berbeda.
Rafflesia berbentuk bunga tunggal berukuran sangat besar, sedangkan bunga bangkai memiliki tongkol bunga yang menjulang tinggi.
Meski sama-sama mengeluarkan aroma menyerupai bangkai, fungsi bau bunga Rafflesia adalah untuk menarik lalat sebagai penyerbuk. Bahkan, kekeliruan ini pernah ditemukan dalam buku pelajaran sekolah dasar.
Struktur Tubuh Berbeda
Berbeda dengan tumbuhan pada umumnya, Rafflesia tidak memiliki daun, batang, dan akar. Bunga ini merupakan tumbuhan endoparasit yang hidup sepenuhnya bergantung pada tanaman merambat dari genus Tetrastigma.
Karena tidak dapat berfotosintesis, Rafflesia menyerap air dan nutrisi dari jaringan inangnya melalui struktur khusus yang disebut haustorium.
Jika tanaman inangnya mati, Rafflesia juga tidak dapat bertahan hidup. Ketergantungan yang sangat tinggi terhadap inang inilah yang membuat Rafflesia sulit tumbuh dan tergolong sebagai flora langka.
Bukan Pemakan Serangga
Aroma busuk yang dikeluarkan Rafflesia sering membuat orang mengira bunga ini merupakan tumbuhan pemakan serangga, seperti kantong semar. Anggapan tersebut tidak benar.
Bau menyengat pada Rafflesia berfungsi untuk menarik lalat agar membantu proses penyerbukan. Setelah mekar selama sekitar lima hingga tujuh hari, bunga akan layu dan mati sehingga tidak memiliki mekanisme untuk menangkap atau memangsa serangga.
Terdapat Banyak Spesies
Rafflesia tidak hanya terdiri dari satu spesies. Di Asia Tenggara terdapat sekitar 27 spesies, dan sekitar 17 spesies di antaranya ditemukan di Indonesia.
Salah satu yang paling terkenal ialah Rafflesia arnoldii dari Bengkulu yang dikenal sebagai bunga tunggal terbesar di dunia.
Habitat Rafflesia juga beragam, mulai dari hutan pantai, hutan dataran rendah, hingga kawasan pegunungan. Namun, bunga ini hanya dapat tumbuh di lokasi yang memiliki tanaman inang Tetrastigma serta kondisi lingkungan yang lembap.
Susah Dibudidayakan
Hingga kini, Rafflesia masih sangat sulit dibudidayakan di luar habitat alaminya. Peneliti Indonesia memang pernah berhasil menumbuhkan Rafflesia patma di Kebun Raya Bogor melalui teknik penyambungan akar (grafting) tanaman inang.
Meski menjadi keberhasilan penting, metode tersebut belum dapat diterapkan secara luas. Karena itu, keberadaan hutan tropis sebagai habitat alami Rafflesia tetap menjadi kunci utama untuk menjaga kelestarian bunga langka ini.
Di balik pesonanya, bunga ini masih menghadapi ancaman akibat kerusakan habitat dan sulitnya dibudidayakan.
Karena itu, upaya menjaga kelestarian hutan tropis menjadi langkah penting agar Rafflesia tetap dapat tumbuh dan dinikmati oleh generasi mendatang.




















