Dokter umum sekaligus kreator edukasi kesehatan, dr. Gia Pratama Putra memberi tanggapan terkait kasus komentar bernada sinis sejumlah tenaga kesehatan terhadap pasien BPJS, almarhum Yurizal Tri Chaerawan.
Ia mengatakan tenaga kesehatan semestinya tetap mengedepankan profesionalisme dan rasa kemanusiaan, termasuk ketika menghadapi pasien yang menyampaikan keluhan mengenai pelayanan rumah sakit maupun BPJS.
Teman-teman dokter, teman-teman nakes, jas putih yang kita kenakan, seragam rumah sakit yang melekat di tubuh kita, sejatinya adalah pakaian penetral emosi,”
tulis dr. Gia di X @giapratamamd, dikutip pada Kamis, 6 Agustus 2026.
Menurutnya, setiap tenaga kesehatan memang menghadapi tekanan pekerjaan yang besar. Namun, kondisi tersebut tidak boleh menjadi alasan untuk kehilangan empati kepada pasien.
Saat seragam itu dipakai, kita sedang mengingatkan diri sendiri bahwa segala lelah, kecewa, marah, dan segala tekanan yang kita rasakan, ada tanggung jawab besar untuk tetap bersikap profesional. Karena selelah-lelahnya menjadi tenaga kesehatan, percayalah, masih lebih melelahkan menjadi pasien,”
tegas dr. Gia.
Rumah Sakit dan BPJS
Dokter Gia menilai, dari sudut pandang pasien, situasi di rumah sakit terasa sangat berbeda. Pasien hanya melihat anggota keluarga yang sedang kesakitan dan membutuhkan kepastian mengenai kondisi maupun proses penanganan.
Kita memahami keterbatasan fasilitas. Kita tahu rumitnya sistem rumah sakit dan BPJS. Kita mengerti perpindahan kamar membutuhkan proses. Kita tahu padatnya IGD, rumitnya rawat inap, dan betapa banyak hal harus dikerjakan dalam waktu bersamaan. Kita tahu semua itu, tapi pasien kan enggak,”
jelasnya.
Pasien hanya melihat keluarganya kesakitan, hanya ingin mengetahui apa yang sedang terjadi, berapa lama harus menunggu, dan apakah ada seseorang yang sungguh peduli kepada mereka. Sering kali, cukup kata-kata kita, ‘Mohon maaf ya, Pak, Bu.,”
tuturnya.
Saat ini prosesnya masih berjalan. Kami masih menunggu kamar tersedia. Perkiraannya sekitar satu jam (atau berapa pun jam) lagi. Kami akan terus memberi kabar, ungkapnya.
Bagi dr. Gia, memberikan informasi secara jujur dan menggunakan nada bicara yang lembut merupakan bagian penting dari pelayanan kepada pasien.
Bagi orang yang sedang takut, kejelasan adalah bentuk kasih sayang. Nada suara yang lembut adalah obat pertama. Penjelasan yang apa adanya itu membuat menunggu terasa lebih manusiawi,”
tulisnya.
Ia menegaskan bahwa hubungan antara tenaga kesehatan dan pasien bukan hubungan antara atasan dan bawahan. Keduanya berada di sisi yang sama untuk menghadapi penyakit.
Tenaga kesehatan menjalankan perannya dengan ilmu dan keterampilan, sementara pasien menjalani proses pengobatan dengan kepercayaan, keberanian, dan kesabaran.
dr. Gia kemudian menyoroti respons tenaga kesehatan terhadap pasien yang menyampaikan keluhan di media sosial.
Menurutnya, keluhan pasien tidak semestinya langsung dibalas dengan kemarahan, apalagi ketika pasien atau keluarganya sedang berada dalam situasi sulit.
Lalu ketika ada pasien menyampaikan keluhan di media sosial, bahkan ketika nama rumah sakit atau BPJS ikut disebut, mengapa kita harus begitu mudah tersulut?”
tulis dr. Gia.
Ia mengakui bahwa kelelahan, kemarahan, dan frustrasi merupakan hal yang dapat dialami tenaga kesehatan dalam menjalankan pekerjaan.
Namun merendahkan pasien, mempermalukan orang yang sedang sakit, atau melontarkan kalimat yang melukai martabat manusia, tidak memiliki pembenaran dari sisi mana pun,”
tegasnya.
dr. Gia juga mengingatkan bahwa pasien merupakan bagian penting dari profesi tenaga kesehatan. Dari pasien, ilmu dan keterampilan tenaga kesehatan dapat digunakan untuk membantu orang lain.
Karena itu, ia mengajak para tenaga kesehatan untuk melihat pasien bukan sekadar sebagai orang yang datang untuk mendapatkan pelayanan, tapi manusia yang sedang berada dalam kondisi rentan dan membutuhkan pertolongan.
Bagi kita, mungkin mereka adalah pasien keempat puluh hari itu. Namun bagi mereka, hari itu mungkin adalah salah satu hari paling menakutkan dalam hidupnya. Pertolongan kita harus selalu dimulai dari rasa kemanusiaan,”
tandasnya.


















