Nilai tukar rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup tak sejalan pada Kamis, 6 Agustus 2026. Rupiah menguat, namun IHSG mengalami pelemahan.
Rupiah ditutup menguat tipis sebesar 0,06 persen atau 10 poin ke level Rp17.923 per dolar Amerika Serikat (AS). Sedangkan IHSG merosot 0,12 persen ke 6.343.
Berdasarkan data perdagangan hari ini, nilai tukar negara di Asia yang menguat hanya rupiah bersama Ringgit Malaysia (MYR) 0,08 persen dan Baht Thailand (THB) 0,19 persen.
Pendorong Rupiah


Pengamat pasar uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengungkapkan menguatnya rupiah ini didorong oleh tercapainya kesepakatan antara Oman dan Iran.
Sentimen pasar membaik setelah Iran menyatakan telah mencapai kesepakatan dengan Oman mengenai koordinat usulan jalur pelayaran melalui Selat Hormuz, sebuah jalur air vital yang menangani sekitar seperlima dari perdagangan minyak dan LNG global,”
ujar Ibrahim dalam risetnya Kamis, 6 Agustus 2026.
Namun, Ibrahim menilai pedagang tetap berhati-hati karena kesepakatan tersebut belum berarti pembukaan kembali Selat Hormuz secara penuh. Sebab negosiasi mengenai biaya kargo, inspeksi, dan pengaturan keamanan yang lebih luas masih belum terselesaikan.
Sementara dari dalam negeri, perhatian pelaku pasar pada Agustus tertuju pada hasil peninjauan indeks MSCI dan FTSE Russell periode 10-14 Agustus 2026.
Terkait status pembekuan (freeze) Indonesia yang diperkirakan menjadi salah satu katalis penting bagi pasar saham dalam waktu dekat,”
tuturnya.
Saham Anjlok


Adapun untuk nilai transaksi IHSG tercatat sebesar Rp18,1 triliun dengan melibatkan 54,8 miliar saham dalam 2,6 juta kali transaksi. Sebanyak 265 saham naik, 192 tidak bergerak, dan 337 turun.
Dilansir dari Stockbit, sejumlah saham yang mengalami penurunan terdalam alias top loser sebagai berikut:
- PT Tunas Alfin Tbk (TALF) melemah 14,94 persen ke Rp1.025
- PT Bach Multi Global Tbk (BACH) turun 14,86 persen Rp630
- PT Rockfields Properti Indonesia Tbk (ROCK) melemah 14,77 persen ke Rp1.500
Sedangkan saham yang paling banyak dibeli asing atau net foreign buy diantaranya:
- PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) sebesar Rp138,01 miliar
- PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) sebesar Rp132,04 miliar
- PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) sebesar Rp84,41 miliar
























