Banyak orang yang menganggap anaknya sebagai orang yang nakal karena kalau di panggil nggak nengok, sering cubit teman, atau bahkan tidak bisa duduk diam.
Padahal perilaku anak ini bisa dijelaskan secara science dan medis yang dikenal dengan istilah neurodivergent. Istilah ini mungkin terdengar asing ditelinga kita, karena kebanyakan dari kita pasti lebih mengenal istilah turunan dari neurodivergent seperti autisme, ADHD, ataupun disleksia.
Melansir dari Cleveland Clinic, neurodivergent merupakan istilah non medis untuk menggambarkan seseorang yang memiliki perkembangan atau cara kerja otak yang berbeda dari kebanyakan orang.
Sederhananya, neurodivergent itu digunakan untuk menggambarkan seseorang yang cara kerja dan perkembangan otaknya berbeda dan unik daripada anak pada umumnya, atau bisa disebut dengan anak neurotypical.
Perbedaan perkembangan otak anak ini lah yang kemudian terlihat dari cara anak belajar, berkomunikasi, memproses informasi, berkonsentrasi, berinteraksi, hingga merespon lingkungannya.
Tapi konsep neurodiversity sendiri memang melihat bahwasanya manusia memang punya keragaman dalam cara kerja otak. Jadi, tidak ada satu pola otak yang menjadi satu-satunya standar untuk semua orang.
Jenis Neurodivergent
Neurodivergent bukan nama penyakit atau diagnosis tertentu. Istilah ini dapat mencakup sejumlah kondisi, di antaranya autisme, ADHD, disleksia, hingga giftedness.
1. Autisme
Autisme atau Autism Spectrum Disorder (ASD) merupakan kondisi perkembangan saraf yang dapat memengaruhi komunikasi, interaksi sosial, perilaku, serta cara seseorang memproses lingkungan di sekitarnya. Disebut sebagai spektrum, karena karakteristik dan kebutuhan setiap anak bisa sangat berbeda.
Ada anak yang membutuhkan dukungan cukup besar dalam komunikasi dan aktivitas sehari-hari. Ada pula yang memiliki kemampuan tertentu yang sangat menonjol, misalnya dalam matematika, seni, musik, memori, atau bidang lainnya.
Kementerian Kesehatan memperkirakan pada 2024 terdapat sekitar 2,4 juta orang dengan autisme di Indonesia. Angka tersebut merupakan estimasi, bukan jumlah anak yang seluruhnya telah mendapatkan diagnosis.
2. ADHD
ADHD atau Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder berkaitan dengan pola perhatian, impulsivitas, dan aktivitas yang berbeda.
Karakteristiknya dapat dilihat dari anak yang sulit mempertahankan perhatian, mengendalikan impuls, atau mengatur aktivitas. Namun, ADHD tidak berarti anak malas atau tidak mau mendengarkan.
Biasanya memang anak ADHD punya cara belajar dan berkonsentrasi yang membutuhkan pendekatan berbeda.
3. Disleksia
Disleksia merupakan perbedaan dalam kemampuan membaca dan memproses bahasa tertulis.
Anak dengan disleksia bukan berarti tidak cerdas. Mereka dapat memiliki kemampuan dan potensi yang sama seperti anak lainnya, tetapi memang membutuhkan strategi pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhannya.
Karena itu, kesulitan membaca tidak seharusnya langsung dianggap sebagai tanda anak malas belajar.
4. Giftedness
Dalam pembicaraan mengenai neurodiversity, giftedness juga terkadang dibahas karena anak dengan kemampuan intelektual atau bakat tertentu yang jauh menonjol dapat memiliki kebutuhan belajar yang berbeda.
Anak yang cepat memahami pelajaran, misalnya, belum tentu cocok dengan metode pembelajaran yang sama persis dengan teman-temannya. Artinya, kemampuan yang tinggi pun tetap bisa membutuhkan pendekatan pendidikan yang sesuai.
Jadi, Apakah Neurodivergent Itu Penyakit?
Ini bagian yang penting, neurodivergent bukanlah nama penyakit yang harus “disembuhkan”. Istilah ini lebih ke menggambarkan adanya perbedaan dalam cara kerja otak manusia.
Namun, beberapa kondisi yang termasuk dalam neurodivergensi seperti autisme dan ADHD merupakan kondisi perkembangan saraf yang dapat memengaruhi kehidupan sehari-hari dan mungkin membutuhkan dukungan profesional.
Karena itu, tujuan pendampingan bukan semata-mata membuat anak menjadi neurotypical atau menghilangkan seluruh karakteristiknya.
Fokusnya lebih kepada membantu anak mengembangkan kemampuan, berkomunikasi, belajar, mengelola kebutuhan sehari-hari, serta menjalani kehidupan dengan lebih mandiri sesuai potensinya.
Lalu, Kenapa Ada Terapi?
Mungkin kebanyakan orang akan bertanya, kalau neurodivergent bukan sesuatu yang harus “disembuhkan”, lalu mengapa ada anak yang menjalani terapi?
Sebenarnya terapi bukan berarti berusaha menghapus identitas atau cara kerja otak anak, tapi pendampingan profesional dapat membantu anak mengembangkan keterampilan yang dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari.
Misalnya, anak dapat dibantu untuk mengembangkan kemampuan komunikasi, keterampilan sosial, regulasi emosi, kemampuan motorik, kemandirian, atau keterampilan belajar.
Memang kebutuhan setiap anak tentu berbeda. Karena itu, pendekatan yang diberikan sebaiknya tidak disamaratakan.
Pada akhirnya, memahami anak neurodivergent bukan tentang mencari cara agar mereka menjadi sama dengan anak lainnya.
Yang lebih penting adalah memahami bahwa setiap anak memiliki cara belajar dan berkembang yang berbeda, sehingga dukungan yang diberikan juga perlu disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing anak.



















